Reforma Agraria di Prancis sebagai Fondasi Pertanian Modern dan Keadilan Sosial

Kamis, 25 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Oleh: Faiz Adya Permana
(Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Reforma agraria di Prancis membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya agraria yang adil dan berkelanjutan mampu menjadi fondasi bagi kemajuan sektor pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Keberhasilan tersebut tidak hanya lahir dari pemerataan kepemilikan tanah, tetapi juga dari komitmen pemerintah dalam menyediakan akses terhadap modal, teknologi, pendidikan, infrastruktur, serta perlindungan hukum bagi para petani.

Baca Juga :  Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil

Kombinasi kebijakan inilah yang menjadikan sektor pertanian Prancis tetap produktif, berdaya saing, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Baca Juga :  Ponpes Bismillah Tingkatkan Fasilitas untuk Dukung Pengembangan Santri di 2025

Bagi Indonesia, pengalaman Prancis menjadi pelajaran bahwa reforma agraria harus dipandang sebagai strategi pembangunan jangka panjang, bukan sekadar program redistribusi tanah.

Penyelesaian konflik agraria, perlindungan lahan produktif, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan akses terhadap pasar dan teknologi perlu berjalan secara terpadu agar tujuan menciptakan keadilan sosial dan ketahanan pangan dapat terwujud.

Baca Juga :  Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Tahun 2025

Dengan kebijakan yang konsisten dan berpihak pada masyarakat, reforma agraria dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperkecil kesenjangan, dan mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan. ***

Berita Terkait

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang
Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian
Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?
Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan
Salah Angkot Ngetem atau Salah Sistem?
Erupsi Anak Krakatau: Alarm bagi Kesiapsiagaan Masyarakat Indonesia

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan

Rabu, 30 September 2026 - 10:49 WIB

Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang

Rabu, 30 September 2026 - 10:48 WIB

Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian

Rabu, 30 September 2026 - 10:47 WIB

Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?

Berita Terbaru