Pancasila: Cuma Jadi Caption atau Benar-Benar Dijalankan?

- Redaktur

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Penulis: Saputri Dini Utamy
(Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Di tengah rutinitas perkuliahan yang padat, tak sedikit mahasiswa—terutama generasi Z—yang menganggap Pancasila sekadar mata kuliah wajib yang hadir di pagi hari yang mengantuk. Ia terasa seperti formalitas: dihafalkan, diuji, lalu dilupakan. Padahal di luar ruang kelas, dunia sedang bergerak cepat—dan sering kali ke arah yang mengkhawatirkan.

Kita hidup di era digital yang serba instan. Informasi mengalir tanpa henti, tren silih berganti dalam hitungan jam. Ironisnya, di tengah kemajuan itu, berbagai persoalan mendasar justru makin terlihat: konflik global, ujaran kebencian di media sosial, hingga fenomena cancel culture yang sering kali kehilangan rasa keadilan. Dalam situasi seperti ini, satu pertanyaan penting muncul: masih relevankah Pancasila bagi generasi hari ini?

Jawabannya: sangat relevan—hanya saja terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Tan Malaka: Revolusioner yang Mengajarkan Nasionalisme dengan Kesadaran

Di lingkungan kampus dan ruang digital, gejala krisis nilai mulai terlihat. Banyak anak muda lebih bangga mengadopsi budaya luar tanpa filter, seolah nilai lokal tidak lagi menarik. Di media sosial, perdebatan kecil bisa berubah menjadi pertikaian besar hanya karena perbedaan pandangan. Sila persatuan seakan hilang di kolom komentar. Sementara itu, ketimpangan hukum yang sering terlihat di pemberitaan membuat generasi muda bertanya-tanya: apakah keadilan sosial masih benar-benar hidup?

Namun persoalannya bukan pada Pancasila itu sendiri, melainkan pada cara kita memaknainya.

Pancasila terlalu lama ditempatkan di ruang formal—dalam buku teks, pidato pejabat, atau upacara kenegaraan—hingga kehilangan kedekatannya dengan realitas generasi muda. Ia terdengar seperti “bahasa langit” yang sulit dibumikan. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang justru merasa asing, bahkan antipati.

Padahal, jika ditarik lebih dekat, nilai-nilai Pancasila sebenarnya hidup di keseharian kita. Ketika mahasiswa patungan membantu korban bencana, itu adalah wujud kemanusiaan dan keadilan. Ketika kita menghargai teman yang berbeda keyakinan, di situlah toleransi bekerja. Bahkan hal sederhana seperti tidak menyebarkan kebencian di media sosial sudah menjadi bentuk nyata dari persatuan.

Baca Juga :  Pentingnya Talkshow dalam Mengoptimalkan Potensi Sumber Daya Manusia di Era Society 5.0 ▬

Sayangnya, potensi ini sering tidak disadari.

Di titik inilah generasi Z memiliki peran penting. Bukan sekadar sebagai penerus, tetapi sebagai penafsir ulang nilai-nilai Pancasila agar lebih kontekstual. Pancasila tidak perlu lagi diposisikan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai prinsip hidup yang fleksibel namun tetap berakar.

Langkahnya bisa dimulai dari hal sederhana. Mengurangi sikap toxic di dunia digital adalah bentuk nyata implementasi nilai persatuan. Membuat konten kreatif yang menyebarkan pesan positif adalah cara baru berdakwah sosial di era modern. Bersikap kritis terhadap ketidakadilan, namun tetap santun dalam menyampaikan pendapat, adalah refleksi dari kedewasaan demokrasi.

Baca Juga :  Keadilan yang Memanusiakan: Peninjauan Vonis Nenek 92 Tahun Jadi Teladan Hukum Beradab

Lebih dari itu, Pancasila perlu “direbranding” oleh generasi muda. Ia harus hadir dalam bahasa yang lebih santai, lebih dekat, dan lebih relevan. Pancasila bukan hanya soal pidato atau hafalan, tetapi tentang bagaimana kita bersikap dalam pertemanan, bekerja sama dalam tugas kelompok, hingga cara kita memperlakukan orang lain di ruang digital.

Pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diucapkan, tetapi seberapa dalam ia dijalankan. Generasi muda hari ini dihadapkan pada pilihan sederhana namun krusial: menjadi generasi yang sekadar mengikuti arus, atau generasi yang memiliki prinsip.

Jika nilai-nilai Pancasila mampu dihidupkan kembali dalam keseharian—di kampus, di media sosial, dan di lingkungan pergaulan—maka Indonesia tidak hanya akan bertahan, tetapi juga memiliki arah yang jelas di tengah dunia yang terus berubah. ***

Berita Terkait

Perencanaan Strategis Kinerja untuk Organisasi yang Efektif dan Adaptif
Pembangunan vs Keadilan: Dilema Agraria yang Tak Kunjung Usai
Permasalahan Agraria di Indonesia: Masalah Agraria, Reformasi Agraria dan Kepemilikan Tanah
Alih Fungsi Lahan di Tangerang: Antara Peluang Ekonomi dan Krisis Lingkungan
Tanah Ulayat dan Janji Yang Belum Tuntas
Ketimpangan Agraria di Banten: Antara Pembangunan dan Keadilan bagi Petani
Sengketa Kepemilikan Tanah dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Banten
Air untuk Siapa? Konflik Agraria dan Ketidakadilan di Cadasari
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 11:11 WIB

Pancasila: Cuma Jadi Caption atau Benar-Benar Dijalankan?

Senin, 27 April 2026 - 08:36 WIB

Perencanaan Strategis Kinerja untuk Organisasi yang Efektif dan Adaptif

Selasa, 7 April 2026 - 20:43 WIB

Pembangunan vs Keadilan: Dilema Agraria yang Tak Kunjung Usai

Selasa, 7 April 2026 - 20:25 WIB

Permasalahan Agraria di Indonesia: Masalah Agraria, Reformasi Agraria dan Kepemilikan Tanah

Selasa, 7 April 2026 - 19:57 WIB

Alih Fungsi Lahan di Tangerang: Antara Peluang Ekonomi dan Krisis Lingkungan

Berita Terbaru