[BANTENESIA.NET], JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) mencatat stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah DKI Jakarta dan Banten tetap terjaga hingga pertengahan 2025.
Pertumbuhan positif tercatat merata di sektor perbankan, pasar modal, hingga Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), seiring penguatan ekonomi daerah, peningkatan literasi, dan optimalisasi perlindungan konsumen.
Di DKI Jakarta, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp4.846,54 triliun, tumbuh 4,87 persen secara tahunan (yoy), sementara penyaluran kredit mencapai Rp4.113,50 triliun, naik 10,06 persen yoy. Kualitas kredit tetap sehat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) hanya 1,71 persen.
Wilayah Banten juga mencatat kinerja serupa. DPK mencapai Rp295,11 triliun, naik 6,21 persen, dengan porsi terbesar kredit disalurkan ke sektor konsumsi dan perdagangan. Menariknya, kepemilikan rumah tinggal menyumbang 31,89 persen dari total kredit konsumtif.
Namun, OJK mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk mewaspadai sektor jasa perorangan di DKI Jakarta serta sektor transportasi dan pertambangan di Banten yang dinilai masih berisiko tinggi.
Minat masyarakat terhadap pasar modal menunjukkan tren positif. Jumlah investor di DKI Jakarta hingga April 2025 melonjak menjadi 3,75 juta, naik drastis 138,45 persen yoy, dengan konsentrasi tertinggi di Jakarta Pusat. Sementara di Banten, investor tercatat 827.740, tumbuh 8,30 persen, mayoritas berasal dari Kota Tangerang.
Meskipun nilai transaksi saham di DKI Jakarta terkoreksi 1,71 persen, wilayah Banten justru mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 8,70 persen, menegaskan potensi pertumbuhan pasar modal di luar ibu kota.
Sektor industri keuangan non-bank (IKNB) juga menunjukkan kinerja positif. Piutang pembiayaan di DKI Jakarta tumbuh tipis 0,36 persen yoy menjadi Rp92,51 triliun, sedangkan di Banten meningkat 7,47 persen menjadi Rp35,19 triliun.
Pertumbuhan paling menonjol datang dari sektor fintech lending. Di Jakarta, terdapat 2,61 juta rekening aktif dengan outstanding sebesar Rp12,42 triliun, naik 20,13 persen yoy. Di Banten, jumlah rekening aktif mencapai 1,64 juta dengan outstanding Rp5,94 triliun, tumbuh 15,47 persen yoy.
Industri asuransi juga menunjukkan perkembangan menggembirakan. Premi asuransi jiwa dan umum di Jakarta masing-masing tumbuh 8,35 persen dan 5,50 persen. Sementara di Banten, premi asuransi umum naik 3,34 persen meski premi jiwa cenderung stagnan.
Pada sektor penjaminan, wilayah Banten mencatat lonjakan outstanding hingga 159,42 persen, mencerminkan tingginya kepercayaan pelaku usaha terhadap program penjaminan kredit.
OJK berhasil menyelesaikan 84,99 persen dari total 4.231 pengaduan konsumen di DKI Jakarta dan Banten. Sebagian besar keluhan terkait pinjaman daring, terutama menyangkut perilaku penagih utang.
Sepanjang Januari hingga Juni 2025, Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK) juga menerima 3.460 laporan pinjol ilegal dan 103 laporan investasi bodong. Fenomena ini memperkuat urgensi edukasi dan literasi keuangan secara menyeluruh.
Melalui program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), OJK telah menggelar 3.001 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 10,6 juta peserta dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelajar, UMKM, hingga penyandang disabilitas.
Inisiatif strategis lain seperti program “Satu Rekening Satu Pelajar” (KEJAR) serta pengembangan Ekosistem Keuangan Inklusif di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS), terus didorong demi pemerataan akses keuangan nasional.
OJK mengimbau masyarakat agar selalu memverifikasi legalitas entitas keuangan sebelum menggunakan layanan keuangan digital. Masyarakat dapat mengakses informasi resmi melalui Aplikasi APPK, menghubungi kontak OJK di 157, WhatsApp 081-157-157-157, atau email ke konsumen@ojk.go.id.
Untuk edukasi dan informasi terbaru, masyarakat juga dapat mengikuti akun resmi media sosial OJK di @ojkindonesia, @ojk_jabodebek, @ojk_banten, dan @kontak157. (*/Pou)







