Nama: Gina Seftiana
Nim: 251092100136
Prodi: Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata Kuliah Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P
Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET] – Lihatlah kondisi kota-kota besar di Indonesia saat ini, termasuk daerah-daerah yang sedang berkembang pesatseperti di wilayah Banten dan sekitarnya. Gedung-gedungbertingkat bermunculan di mana-mana, jalan raya terusdiperlebar dan diperpanjang, pusat perdagangan, kawasanusaha, serta perumahan baru tumbuh berjejer rapi. Jumlahpenduduk terus bertambah setiap tahunnya, orang-orang dariberbagai daerah datang berbondong-bondong mencaripekerjaan, pendidikan, dan peluang hidup yang lebih baik. Semua perubahan ini kerap kali kita sebut sebagai tandakemajuan dan perkembangan. Pertumbuhan ekonomi terlihatnaik, banyak lapangan kerja terbuka, fasilitas umum kianlengkap, dan wajah kota terlihat makin modern serta megah. Namun, di balik segala kemegahan dan pertumbuhan itu, adasatu hal penting yang sering kali terlupakan dan terabaikan: apakah warga yang tinggal dan beraktivitas di sini benar-benar merasakan manfaatnya, atau justru sebaliknya, kenyamanan hidup mereka makin lama makin menurun?
Kenyataan yang kita rasakan sehari-hari menjawab hal itusendiri. Semakin padat dan berkembang suatu kota, semakinbanyak pula masalah yang muncul dan menumpuk. Kemacetan lalu lintas sudah menjadi pemandangan biasa dan tak terhindarkan, menghabiskan waktu berjam-jam hanyauntuk menempuh jarak yang seharusnya dekat. Udara di sepanjang jalan utama makin berasap, kotor, dan berbau tidaksedap akibat asap kendaraan dan aktivitas pembangunan yang tak henti-henti. Suara bising dari klakson, mesin kendaraan, dan aktivitas bangunan terdengar terus-menerus, membuatsuasana kota terasa bising dan melelahkan telinga. Ruang terbuka hijau, taman, atau tempat istirahat yang sejuk dan tenang makin lama makin sempit, berkurang, bahkan banyakyang berubah fungsi menjadi bangunan atau jalanan saja.
Belum lagi masalah lain yang ikut menyertai: biaya kebutuhanhidup naik terus secara bertahap, harga tanah dan tempattinggal menjadi sangat mahal sehingga banyak warga terpaksatinggal di tempat yang sempit atau jauh dari tempat kerja. Sementara itu, fasilitas penunjang seperti tempat parkir, pengelolaan sampah, dan sistem drainase sering kali tidaksanggup mengimbangi jumlah penduduk yang bertambahcepat. Pembangunan seolah-olah hanya berfokus mengejarangka pertumbuhan ekonomi, penampilan fisik kota, dan keuntungan semata, tanpa disertai perencanaan yang matangdemi kenyamanan, kesehatan, dan kesejahteraan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sering kali kita mendengar istilah“kota maju, tapi warganya makin menderita“.
Padahal, apa sebenarnya makna dari kemajuan itu sendiri? Kemajuan sejati suatu kota tidak hanya diukur dari seberapatinggi gedung yang dibangun, seberapa lebar jalan yang dibuat, atau seberapa besar pendapatan daerahnya. Kemajuanyang sesungguhnya harus terlihat dan dirasakan langsung darikualitas hidup warganya. Kalau penduduknya setiap hariharus lelah dan stres karena macet, sulit bernapas karenaudara kotor, gampang sakit karena lingkungan tidak sehat, merasa tidak aman, atau susah memenuhi kebutuhan dasar, maka pembangunan yang dilakukan itu belum bisa dikatakanberhasil. Sebesar apa pun bangunannya, tidak akan ada artinyakalau tidak membawa manfaat nyata bagi kehidupan orang banyak.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mulai mengubah carapandang dan pola pembangunan yang ada. Perencanaan kotaharus disusun dengan seimbang dan berkelanjutan. Membangun gedung dan jalan tentu diperlukan, tapi harusdiimbangi dengan penyediaan ruang terbuka hijau yang cukup, pengaturan lalu lintas yang tertib dan cerdas, sertapengelolaan lingkungan yang baik. Perlu juga diperhatikanketersediaan tempat tinggal yang layak, harga kebutuhan yang terjangkau, serta fasilitas umum yang mudah diakses semuakalangan.
Tujuannya sederhana: agar kota yang kita bangun makinmaju, makin berkembang, dan makin makmur, tetapi tetapmenjadi tempat tinggal yang nyaman, sehat, aman, dan layakbagi siapa saja yang tinggal di dalamnya. Kemajuan dan kualitas hidup warga seharusnya berjalan beriringan, bukanmalah berjalan berlawanan arah. ***








