Ketidakadilan Agraria yang Masih Membayangi Masyarakat

- Redaktur

Senin, 6 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

Penulis: Rahma Raiha Rifai
(Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang PDSKU Serang)

[BANTENESIA.NET] – Konflik agraria yang terjadi di Desa Launch, Simalingkar A, menunjukkan bahwa masalah pertanahan di Indonesia masih belum terselesaikan dengan baik. Kasus ini bukan hanya sekadar perebutan lahan antara masyarakat dan perusahaan, tetapi juga mencerminkan adanya ketidakadilan yang sudah berlangsung lama. Dalam hal ini, masyarakat harus berhadapan dengan perusahaan besar seperti PTPN II, yang memiliki kekuatan lebih besar, baik dari segi hukum maupun kekuasaan.

Salah satu penyebab utama konflik ini adalah tidak jelasnya status kepemilikan tanah. Sejak masa kolonial hingga setelah Indonesia merdeka, tanah yang awalnya dimiliki masyarakat mengalami berbagai perubahan penguasaan. Hal ini membuat munculnya tumpang tindih klaim antara masyarakat dan pihak perusahaan. Seharusnya, setelah kemerdekaan, negara dapat mengatur kembali kepemilikan tanah secara adil. Namun kenyataannya, hal tersebut belum berjalan dengan baik.

Baca Juga :  Mahasiswa Prodi Manajemen S1 UNPAM Kampus Serang, Gelar PKM: Strategi Digital Marketing Tingkatkan Branding dan Promosi Produk di SMKN 1 Ciruas

Selain itu, masalah lain yang cukup penting adalah sulitnya masyarakat dalam mendapatkan bukti kepemilikan tanah yang sah secara hukum. Banyak warga yang sebenarnya telah menggarap tanah secara turun-temurun, tetapi tidak memiliki dokumen resmi yang diakui negara. Akibatnya, mereka berada pada posisi yang lemah ketika terjadi konflik. Sementara itu, pihak perusahaan memiliki akses yang lebih mudah terhadap legalitas dan dukungan dari pemerintah.

Dari kondisi ini terlihat adanya ketimpangan kekuasaan yang cukup besar. Perusahaan memiliki kekuatan untuk mempertahankan lahan yang mereka kuasai, sedangkan masyarakat justru kehilangan tanah yang menjadi sumber utama penghidupan mereka. Tanah bagi masyarakat bukan hanya sekadar aset, tetapi juga tempat mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Air untuk Siapa? Konflik Agraria dan Ketidakadilan di Cadasari

Dampak dari konflik ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Banyak warga yang kehilangan pekerjaan sebagai petani karena tidak lagi memiliki lahan untuk digarap. Akibatnya, mereka harus mencari pekerjaan lain yang tidak tetap, seperti buruh harian atau pekerjaan serabutan. Bahkan, ada juga yang terpaksa meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan di tempat lain. Kondisi ini tentu memperburuk keadaan ekonomi dan meningkatkan kesenjangan sosial di masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, dapat dikatakan bahwa peran pemerintah dalam menyelesaikan konflik agraria masih belum maksimal. Padahal, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin keadilan dan kepastian hukum bagi seluruh rakyat. Jika konflik seperti ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin akan muncul konflik-konflik lain di berbagai daerah.

Baca Juga :  Makan Bergizi Gratis: Niat Mulia, Eksekusi Ala Kampanye

Oleh karena itu, diperlukan langkah yang nyata dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Salah satunya adalah dengan memperbaiki sistem administrasi pertanahan agar lebih jelas dan mudah diakses oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat juga perlu diberikan kemudahan dalam mengurus legalitas tanah mereka. Pemerintah juga harus lebih terbuka dan melibatkan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan terkait pengelolaan tanah.

Pada akhirnya, tanah seharusnya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan hanya untuk kepentingan pihak tertentu. Jika keadilan agraria dapat diwujudkan, maka kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat. Oleh karena itu, penyelesaian konflik agraria seperti yang terjadi di Desa Launch harus menjadi perhatian serius agar tidak terus berulang di masa depan. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru