[BANTENESIA.NET], YOGYAKARTA – Kabut pagi dan panorama hijau mengantar perjalanan rombongan awak media menuju Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah yang kerap disebut sebagai ‘Gudang Sejarah’ nusantara. Setelah enam jam perjalanan darat, para peserta disambut pemandangan arsitektur kolonial di sebuah stasiun tua—jejak peninggalan Hindia-Belanda yang masih kokoh berdiri di tengah denyut modernitas.
Tiba di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yogyakarta, bangunan megah yang prasastinya ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono, rombongan disambut layaknya tamu kerajaan. Senyum ramah panitia menjadi prolog sebelum materi sejarah budaya dan jurnalisme ekonomi disampaikan langsung oleh pejabat OJK dan seniman lokal. Pemaparan itu menjadi pelepas lelah perjalanan panjang, membuka wawasan tentang keterkaitan antara peradaban, ekonomi kreatif, dan kerja jurnalistik.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan paling padat wisata, Teras Malioboro, yang kini tampil modern dan artistik. Namun beberapa langkah dari keramaian, terdapat sebuah kampung tua dengan nuansa berbeda: Kampoeng Ketandan, permukiman pecinan yang menyimpan memori panjang akulturasi Tionghoa–Jawa.
Di gang sempit yang dihiasi bangunan cagar budaya, deretan toko emas berdiri rapat—sekitar 50 toko, sebagian telah berusia puluhan tahun. Warga setempat, Joko Lelono, menyebut lingkungannya aman meski ramai pengunjung.
“Motor ditaruh di luar juga aman. Tidak ada yang hilang,” ujarnya sambil menyeruput kopi dan menikmati gorengan di lapak kecilnya yang bertuliskan tiga aksara Tionghoa: 福 (rezeki), 祝福 (berkah), 万岁 (panjang umur).
Ketandan dihuni sekitar 400 kepala keluarga, mayoritas keturunan Tionghoa penganut Kristen Protestan. Tradisi altar keluarga, perayaan Imlek, hingga bangunan peninggalan tokoh Tan Jin Sing menjadikannya “arsip hidup” sejarah urban Yogyakarta.

Menjelang siang, rombongan menuju Pabrik Cokelat Monggo di Kotagede. Aroma kakao panggang menyambut peserta ketika memasuki rumah produksi berwarna cokelat tua. Tedi, pemandu yang humoris, memaparkan proses pengolahan kakao dari petani lokal hingga menjadi produk siap ekspor.
Peserta dipandu menyusuri jalur produksi—mulai dari penyortiran, penghalusan, hingga tempering—sebelum akhirnya mencicipi cokelat yang baru selesai dipanggang. Inovasi kemasan ramah lingkungan menjadi nilai tambah Monggo di pasar global.

Perjalanan dilanjutkan ke store DAGADU, salah satu ikon industri kreatif Jogja sejak berdiri pada 1994. Berawal dari ruko kecil, kini merek ini menjadi jaringan besar dengan filosofi ‘Smart Smile Djokdja‘.
Nama DAGADU, berarti ‘Matamu’ dalam bahasa Jawa, menjadi simbol satir khas Jogja: jenaka, kritis, dan relevan dengan fenomena sosial. Desain kaus yang selalu berganti tiap bulan memperkuat posisi DAGADU sebagai brand lokal yang tak sekadar menjual produk, tetapi cerita dan identitas budaya.
Tiga titik perjalanan—Kampoeng Ketandan, Cokelat Monggo, dan DAGADU—menjadi gambaran utuh bagaimana Yogyakarta mempertahankan identitas kultural di tengah modernisasi.
-
Ketandan menyimpan memori sejarah dan akulturasi Tionghoa–Jawa.
-
Cokelat Monggo menunjukkan rantai ekonomi lokal yang mengangkat petani kakao menuju pasar global.
-
DAGADU membuktikan kreativitas mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus spirit kebanggaan daerah.
Yogyakarta tidak hanya tumbuh sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup budaya yang menggerakkan ekonomi lewat warisan, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap sejarah.
Penulis:
-
Nizar Solihin (i-channel)
-
Ahmad Fikram Adidikata (Roompi)
-
Ade Ridwan-Cipo (Bantenesia)
(*)








