Pancasila dan Generasi Z di Era Modern

- Redaktur

Senin, 24 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Eris Girawati Mahasiswi, Mahasiswi UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Eris Girawati Mahasiswi, Mahasiswi UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Oleh : Eris Girawati Mahasiswi

Universitas Pamulang Serang

Program Studi Ilmu Hukum

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Pancasila, sebagai dasar ideologi bangsa Indonesia, bukan hanya warisan sejarah, tapi juga panduan hidup yang relevan untuk semua generasi, termasuk Generasi Z (lahir sekitar 1997- 2012). Generasi Z tumbuh di tengah ledakan teknologi, globalisasi, dan tantangan sosial

seperti isu lingkungan, kesetaraan, serta krisis identitas.

Opini saya

Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan alat empowerment yang bisa membantu Gen Z membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Berikut merupakan urutan langkah dengan sudut pandang yang optimis tapi realistis. 1. Relevansi Pancasila di Dunia Digital Generasi Z

Generasi Z adalah “digital natives” yang akrab dengan media sosial, AI, dan konektivitas

global. Di sini, Pancasila berperan sebagai jangkar moral di tengah banjir informasi yang

seringkali memecah belah. Jika dikaitkan dengan Pancasila maka memiliki konteks

pemaparan yang lebih spesifik yaitu :

Sila Pertama :

Ketuhanan Yang Maha Esa – Membantu Gen Z menjaga keseimbangan antara spiritualitas dan sekularisme.

Di era di mana agama sering dimanipulasi di medsos, sila ini mendorong toleransi beragama, mencegah radikalisme online. Bayangkan, scroll TikTok penuh hoaks.

Pancasila mengajak kita untuk berpikir kritis dengan dasar keimanan yang inklusif.

Baca Juga :  Program MBG dalam Perspektif Mahasiswa Hukum: Antara Amanat Konstitusi dan Problem Implementasi di Masyarakat

Sila Kedua :

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – Sangat krusial untuk isu hak asasi manusia.

Gen Z sering kampanye BlackLivesMatter atau ClimateAction.

Pada dasarnya Pancasila mendukung ini dengan menekankan empati dan keadilan sosial, mencegah cyberbullying atau diskriminasi di platform digital.

Opini saya terkait dengan dua sila di atas yaitu tanpa Pancasila, Gen Z berisiko terjebak

dalam “echo chambers” medsos yang egois. Sebaliknya, Pancasila seperti filter etis yang

membuat aktivisme digital lebih bermakna – bukan sekadar like dan share, tapi aksi nyata untuk perubahan.

2. Tantangan Generasi Z dan Solusi dari Pancasila

Gen Z menghadapi tekanan besar : ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi, mental health

crisis, dan degradasi lingkungan. Pancasila hadir sebagai blueprint untuk mengatasi ini, dengan nilai-nilai yang timeless.

Adapun sub-tantangan sila ketiga yaitu tentang identitas dan persatuan :

Di tengah budaya K-pop, Western influence, dan isu separatisme, sila ketiga (Persatuan

Indonesia) mengingatkan Gen Z untuk menghargai keberagaman.

Contoh : Gerakan IndonesiaTanpaDiskriminasi di Instagram, yang selaras dengan Pancasila, membantu

membangun solidaritas lintas etnis. Selain itu terdapat juga sub-tantangan yang melengkapi

sub tantangan di atas antara lain ekonomi dan lingkungan.

Sila keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan) mendorong partisipasi demokrasi, seperti voting atau petisi online. Sementara sila kelima (Keadilan

Baca Juga :  Opini Kasus Keracunan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Tantangan Tata Kelola Publik di Indonesia

Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) relevan untuk isu sustainability – Gen Z bisa terapkan

ini dalam gerakan zero-waste atau fair trade, memastikan kemakmuran merata.

Opini pribadi :

Pancasila bukan dogma kuno, sangat fleksibel seperti app yang bisa di-update. Gen Z, dengan kreativitasnya, bisa “remix” Pancasila menjadi tools modern, seperti podcast

tentang sila-sila untuk TikTok challenge. Ini bukan memaksa, tetapi menginspirasi – karena

tanpa fondasi ini, tantangan seperti jobless rate tinggi (sekitar 13% untuk Gen Z di Indonesia per 2023) bisa makin parah.

3. Contoh Nyata Peran Pancasila dalam Kehidupan Generasi Z Untuk membuatnya lebih konkret, mari lihat aplikasi sehari-hari :

1) Pendidikan dan Karir : Banyak kampus seperti UI atau ITB mengintegrasikan

Pancasila dalam kurikulum. Gen Z yang kuliah online bisa gunakan sila kedua untuk

kolaborasi global, tapi tetap rooted di nilai lokal – hasilnya, startup seperti Gojek yang

inklusif. Aktivisme Sosial : Lihat Gen Z activists seperti Dira Yumanizar (pemimpin youth

climate movement). Mereka terapkan Pancasila untuk advokasi lingkungan, menggabungkan sila kelima dengan SDGs PBB. 2) Pancasila Bisa Gaya!” – Platform Edukasi Interaktif untuk Gen Z

Visi :

Baca Juga :  Dipo Serang Group Gelar Bukber dengan Nuansa Silaturahmi dan Berbagi Santunan Anak Yatim

Membuat Pancasila bukan sekadar sila-sila di buku, tapi nilai hidup yang bisa

dihidupi dalam gaya hidup digital, sosial, dan kreatif generasi muda. Adapun Konsep Utama : 5 Sila = 5 Gaya Hidup Gen Z. Sila Pancasila Versi Gen Z

Makna Digital & Realita Gen Z antara lain :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa “Respect the Vibe, Honor Your Inner Light” Menghargai perbedaan keyakinan, tidak cancel teman karena beda agama. Bisa posting inspirasi, bukan troll.

2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

“No Toxicity, Only Vibes”Anti bullying, anti catcalling, anti hate speech. Kritik boleh, tetapi utamakan untuk tetap menjaga empati.

3) Persatuan Indonesia

“One Nation, Many Fandoms” Menghargai keragaman : dari Batak ke Jawa, dari Bali

ke Papua, semua punya tempat. Cinta NKRI di media sosial tanpa dramais politik.

4) Kerakyakatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

‘Teamwork Wins, Ego Loses’ Kolaborasi di kampus, komunitas, media sosial. Jika mau ide cemerlang dan tepat ? Upayakan untuk berdiskusi dulu, bukan post langsung.

5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

‘Progress Over Perfection’ Peduli pada inklusi: pekerjaan, pendidikan, kesehatan mental, lingkungan. Bisa berkontribusi lewat volunteer, crowdfunding, atau content edukatif. ***

Berita Terkait

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu
Pentingnya Mengetahui Hukum bagi Gen Z
Literasi Digital Pelajar Tidak Boleh Menunggu Masalah Datang: Pelajaran dari PKM UNPAM Serang di SMAN 1 Kramatwatu
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:21 WIB

Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu

Berita Terbaru