Budaya Viral dan Mentalitas FOMO: Pengaruhnya terhadap Identitas Generasi Muda

- Redaktur

Kamis, 11 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

Nama: Faldan Al Fareby

NIM: 1111250073

Instansi: Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Kemajuan teknologi digital, terutama dalam bentuk media sosial, telah memunculkan sebuah budaya baru yang sangat mempengaruhi kehidupan generasi muda.

Di zaman di mana informasi berpindah dengan sangat cepat, konten yang viral menjadi penentu tren dan biasanya menjadi acuan untuk apa yang dianggap menarik, relevan, atau bermanfaat.

Fenomena ini tidak hanya mempengaruhi cara berkomunikasi anak muda, tetapi juga memengaruhi bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri dan menilai identitas sosial mereka.

Budaya viral beroperasi melalui logika algoritma yang mendorong penyebaran konten yang menarik dan berpotensi meningkatkan keterlibatan.

Hal ini menyebabkan pergeseran nilai di kalangan generasi muda: bukan lagi kedalaman makna atau kualitas materi yang menjadi perhatian, melainkan kemampuan sebuah konten untuk menarik perhatian.

Baca Juga :  Membentuk Pemimpin Visioner dan Berintegritas melalui Latihan Kepemimpinan 2

Banyak anak muda akhirnya menilai pengalaman hidup mereka berdasarkan seberapa “layak untuk dibagikan” suatu momen, sehingga interaksi sosial menjadi lebih bersifat performatif.

Akibatnya, mereka lebih mementingkan citra digital ketimbang pengalaman dunia nyata.

Di sisi lain, perkembangan budaya viral sangat berkaitan dengan meningkatnya mentalitas Fear of Missing Out (FOMO).

Media sosial hanya menunjukkan momen terbaik dari kehidupan orang lain, mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga tren terbaru, yang menimbulkan rasa takut untuk ketinggalan atau tidak berpartisipasi dalam percakapan daring.

Generasi muda termotivasi untuk terus bergerak sejalan dengan tren, berupaya melakukan hal yang sama, atau berperilaku sesuai dengan preferensi publik.

Tekanan ini menghasilkan beban sosial yang signifikan, karena identitas mereka secara tidak langsung dipengaruhi oleh penilaian orang lain yang sering kali tidak mereka kenal.

Baca Juga :  Mahasiswa Untirta Bersama Gerakan Kakak Aman Indonesia: Mencegah Kekerasan Seksual pada Anak di Serang

Dampak budaya viral dan FOMO bagi identitas generasi muda sangatlah rumit. Identitas yang terbentuk semakin berorientasi eksternal, tergantung pada validasi melalui likes, komentar, dan jumlah pengikut.

Situasi ini bisa saja menghilangkan keaslian individu, sebab banyak orang merasa perlu menunjukkan citra tertentu agar diterima oleh algoritma atau komunitas digital.

Selain itu, perubahan tren yang sangat cepat membuat identitas sosial generasi muda tidak stabil, karena mereka sering kali harus menyesuaikan diri dengan perkembangan budaya digital yang terus berubah.

Fenomena ini juga memiliki pengaruh terhadap kesehatan sosial dan emosional. Perbandingan yang terus-menerus dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu kecemasan sosial.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Keinginan untuk selalu tampak mengikuti tren dapat membuat anak muda merasa lelah, tetapi mereka enggan berhenti karena takut ketinggalan.

Media sosial pada akhirnya menjadi ruang yang menciptakan ambivalensi: memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri, namun sekaligus menambah tekanan psikologis.

Dalam menghadapi perubahan budaya ini, sangat penting bagi generasi muda untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai literasi digital.

Kesadaran bahwa media sosial adalah ruang yang terkurasi, bukan gambaran kehidupan yang sepenuhnya lengkap, dapat membantu mengurangi tekanan FOMO.

Selain itu, penguatan komunitas di kehidupan nyata dan penekanan pada keaslian dapat menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan identitas.

Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda dapat memanfaatkan budaya digital sebagai tempat berkarya tanpa kehilangan jati diri mereka. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru