Oleh: Citra Amelia Putri
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG –
Ketika panggung berbicara, sejarah pun bernyanyi. Festival Teater Banten 2025 yang digelar di Plaza Aspirasi Provinsi Banten bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah pernyataan eksistensial tentang bagaimana seni mampu menjadi medium transformasi sosial dan ekonomi kreatif.
Pernyataan Gubernur Banten, Andra Soni, tentang kontribusi teater dalam pengembangan ekonomi kreatif bukanlah retorika kosong.
Sebagai mahasiswa yang hidup di era digital, saya melihat teater tidak sekadar seni pertunjukan, melainkan ekosistem kreatif yang kompleks. Ia mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan industri pendukung, meningkatkan pariwisata, dan yang tak kalah penting – memperkuat identitas budaya.
Dalam setiap pertunjukan, kami para mahasiswa melihat lebih dari sekadar lakon. Kami melihat ruang dialog sosial yang hidup, medium di mana kisah-kisah lokal Banten dapat diwariskan, diinterpretasi ulang, dan dimaknai kembali. Teknologi digital bukan musuh tradisi, melainkan alat untuk memperluas jangkauan ekspresi seni teater.
Harapan Gubernur agar Festival Teater Banten masuk ke dalam kalender event tahunan adalah undangan bagi generasi muda untuk terus mengawal, mengembangkan, dan menghidupkan seni pertunjukan. Bukan sekadar pelestarian dalam pengertian sempit, melainkan upaya dinamis untuk terus membuat teater bernafas, berkembang, dan relevan.
Bagi saya, setiap pertunjukan teater adalah sebuah perlawanan. Perlawanan terhadap budaya instan, perlawanan terhadap pengaburan identitas, dan perlawanan terhadap ketidakpedulian. Kami tidak ingin teater menjadi museum hidup, melainkan laboratorium kreativitas di mana tradisi dan inovasi berdialog setara.
Teknologi digital membuka kemungkinan baru. Panggung tak lagi dibatasi ruang fisik. Sebuah pertunjukan teater kini dapat menembus batas-batas geografis, membawa kisah-kisah lokal Banten ke panggung global. Inilah revolusi yang kami impikan – di mana akar budaya tidak tercerabut, melainkan justru semakin kokoh dan mendunia.
Apresiasi saya pada pemerintah provinsi yang memahami bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen strategis pembangunan. Teater mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi kreatif, dan yang tak kalah penting – menjadi cermin peradaban.
Kepada para seniman teater Banten, saya berpesan: teruslah berkarya, teruslah bereksperimen. Jadikan setiap pertunjukan sebagai pernyataan, setiap lakon sebagai refleksi zaman.
Kami, generasi muda, akan terus mendukung, mengawal, dan mengapresiasi setiap usaha pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan.
Teater bukan sekadar tentang panggung. Teater adalah tentang kehidupan itu sendiri – kompleks, dinamis, dan tak pernah berhenti bercerita. ***
Rio Ariandi
Mahasiswa Pecinta Seni Pertunjukan Banten







