Pentingnya Itikad Baik dalam Pelaksanaan Perjanjian di Indonesia

Minggu, 28 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi UNPAM, Ambarwati. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi UNPAM, Ambarwati. (Foto: Istimewa)

Nama: AMBARWATi
(Mahasiswi UNPAM Serang)

[BANTENESIA.NET] – Dalam kehidupan sehari-hari, perjanjian menjadi dasar berbagai hubungan hukum, baik dalam kegiatan bisnis, jual beli, sewa-menyewa, maupun kerja sama lainnya. Perjanjian tidak hanya menciptakan hak dan kewajiban bagi para pihak, tetapi juga menjadi instrumen untuk memberikan kepastian hukum. Namun, keberhasilan pelaksanaan suatu perjanjian tidak hanya bergantung pada isi kontrak yang dibuat, melainkan juga pada adanya itikad baik dari para pihak. Menurut saya, itikad baik merupakan prinsip yang sangat penting dalam hukum perikatan di Indonesia karena menjadi landasan terciptanya hubungan hukum yang adil, jujur, dan saling menghormati.

Dalam hukum perikatan Indonesia, prinsip itikad baik telah diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang menyatakan bahwa setiap perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Ketentuan ini menunjukkan bahwa para pihak tidak cukup hanya memenuhi isi perjanjian secara formal, tetapi juga harus menjalankannya dengan kejujuran, kepatutan, dan tanpa maksud merugikan pihak lain. Dengan demikian, itikad baik berfungsi sebagai pedoman moral sekaligus prinsip hukum dalam pelaksanaan perjanjian.

Baca Juga :  Peran Generasi Muda Dalam Menjaga Nilai Pancasila

Dalam praktiknya, masih banyak ditemukan pelanggaran terhadap prinsip itikad baik, seperti keterlambatan memenuhi prestasi tanpa alasan yang sah, menyembunyikan informasi penting sebelum perjanjian dibuat, atau memanfaatkan celah dalam kontrak untuk memperoleh keuntungan sepihak. Tindakan seperti ini dapat menimbulkan sengketa dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kepastian hukum. Oleh karena itu, penegakan prinsip itikad baik tidak boleh hanya menjadi konsep normatif, tetapi juga harus diterapkan secara konsisten oleh para pihak maupun oleh hakim dalam menyelesaikan sengketa.

Baca Juga :  Menguji Ketangguhan UUD 1945 di Era Digital: Antara Dinamika Politik dan Ancaman Hak Warga

Perkembangan teknologi dan transaksi elektronik juga semakin menegaskan pentingnya prinsip itikad baik. Dalam transaksi digital, para pihak sering kali tidak bertemu secara langsung sehingga kepercayaan menjadi faktor utama. Kejujuran dalam memberikan informasi, memenuhi kewajiban sesuai kesepakatan, dan tidak melakukan penyalahgunaan data merupakan bentuk nyata penerapan itikad baik dalam era digital. Tanpa adanya prinsip tersebut, perkembangan perdagangan elektronik berpotensi menimbulkan lebih banyak sengketa dan kerugianbagi masyarakat.

Pada akhirnya, itikad baik bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga merupakan nilai yang mencerminkan etika dalam hubungan hukum. Penerapan prinsip ini secara konsisten akan menciptakan keseimbangan hak dan kewajiban, meningkatkan kepercayaan antar para pihak, serta memperkuat kepastian hukum dalam pelaksanaan perjanjian di Indonesia. Oleh karena itu, setiap pihak yang membuat dan melaksanakan perjanjian hendaknya menjadikan itikad baik sebagai prinsip utama agar tujuan hukum, yaitu keadilan, kepastian, dan kemanfaatan, dapat terwujud secara seimbang.

Baca Juga :  Maraknya Judi Online (Judol) di Indonesia

Itikad baik merupakan prinsip fundamental dalam pelaksanaan perjanjian yang tidak hanya menjamin kepastian hukum, tetapi juga menciptakan keadilandan keseimbangan bagi para pihak. Pelaksanaan hak dan kewajiban dengan jujur, terbuka, dan bertanggung jawab dapat meminimalkan sengketa serta memperkuat kepercayaan dalam setiap hubungan hukum. Oleh karena itu, prinsip itikad baik harus dipahami dan diterapkan secara konsisten oleh setiap pihak yang membuat perjanjian agar tujuan hukum perikatan, yaitu memberikan kepastian, keadilan, dan kemanfaatan, dapat tercapai secara optimal. ***

Berita Terkait

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus
Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas
Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja
Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia
Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?
Pentingnya Menguasai Sistem Komputer bagi Generasi Muda
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Jepang: Membangun Penegakan Hukum yang Berintegritas dan Berorientasi pada Kepastian Hukum
Zombieisme Menjadi Paham Konsumtif: Suatu Tinjauan terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat Indonesia

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Live TikTok: Strategi Efisiensi Keuangan untuk Mengakses Informasi UNPAM Lebih Dekat Tanpa Datang ke Kampus

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:11 WIB

Pleno Tengah HMJM Periode V: Evaluasi sebagai Landasan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Efektif, Terarah, dan Berkualitas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:52 WIB

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:57 WIB

Status “Freeze” MSCI Bikin Rp75 Triliun Dana Asing Kabur dari Bursa Indonesia

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:29 WIB

Menjaga Data Pribadi di Internet: Mengapa “Password” Kuat Saja Tidak Cukup?

Berita Terbaru