Oleh: Sulthon Abdul Jabbar
Nim: 251090200539
(Program Studi Hukum, UNPAM, Semester 2)
email: @sulthonabdulj@gmail.com
[BANTENESIA.NET] – Jujur saja, bagi kita yang baru masuk dunia kampus, Pancasila seringkali cuma dianggap sebagai mata kuliah wajib kurikulum (MKWK) yang membosankan. Dari SD sampai kuliah, kita dicekoki hafalan butir-butir sila, tapi di luar kelas, kita melihat realitas yang beda jauh.
Kita hidup di era di mana informasi masuk lewat FYP TikTok dalam hitungan detik. Sebagai Gen Z, kita lebih sering terpapar budaya luar, gaya hidup bebas, dan tren global yang kadang bikin kita lupa: “Kita ini orang Indonesia, pegangannya apa sih?”
Kalau mau jujur-jujuran, ada jurang pemisah antara teks Pancasila dengan apa yang kita alami sekarang:
* Krisis Contoh: Kita disuruh mengamalkan Sila ke-3 (Persatuan), tapi setiap buka Twitter (X), isinya cuma debat kusir dan saling hujat antar kelompok.
* Formalitas Belaka: Pancasila sering banget dijadiin “tameng” atau jargon doang sama orang-orang tua atau pejabat, tapi prakteknya (seperti pemberantasan korupsi atau keadilan hukum) jauh dari sila ke-5.
* Gaya Komunikasi yang Kaku: Cara sosialisasi Pancasila ke anak muda itu masih pakai cara lama—ceramah panjang lebar yang bikin ngantuk. Padahal, kita ini generasi visual yang lebih suka aksi nyata daripada teori muluk-muluk.
Menurut saya sebagai mahasiswa, Pancasila itu sebenarnya “keren” kalau kita mau bedah isinya secara logika, bukan cuma hafalan. Masalahnya, kita sering merasa asing sama ideologi sendiri karena cara penyampaiannya yang terlalu kaku dan birokratis.
Saya rasa, Gen Z sebenarnya sudah mempraktikkan Pancasila tanpa kita sadari. Contohnya, waktu kita speak up soal isu lingkungan atau hak-hak kemanusiaan di media sosial, itu sudah mencerminkan sila ke-2. Tapi, karena nggak ada wadah yang asik untuk menyalurkan energi ini, banyak dari kita yang akhirnya apatis dan merasa Pancasila itu nggak relevan lagi buat masa depan digital.
Supaya Pancasila nggak cuma jadi “pajangan dinding” di kelas, ada beberapa hal yang harus berubah:
1. Stop Doktrin, Mulai Dialog: Dosen atau pemerintah jangan cuma kasih kuliah searah. Kita butuh ruang diskusi yang bebas, di mana kita boleh nanya, “Kenapa sih sila ini penting?” tanpa takut dianggap nggak nasionalis.
2. Pancasila dalam Pop-Culture: Masukkan nilai Pancasila lewat film, musik, atau game. Bikin konten yang estetik dan masuk akal buat selera Gen Z. Intinya, rebranding Pancasila jadi sesuatu yang “relatable“.
3. Aksi Nyata, Bukan Jargon: Solusi paling ampuh adalah keteladanan. Kalau kita lihat penegakan hukum itu adil dan nggak ada lagi korupsi yang merajalela, otomatis kita bakal bangga dan percaya sama nilai-nilai Pancasila.
4. Optimalisasi Media Sosial: Gunakan influencer atau konten kreator untuk menyebarkan nilai toleransi dan gotong royong dengan gaya bahasa tongkrongan yang gampang dicerna.
Pancasila itu nggak boleh mati di era modern. Tapi, kalau cara bawainnya masih pakai gaya tahun 80-an, ya jangan salahin kalau Gen Z makin menjauh. Kita butuh Pancasila yang “hidup” di aplikasi kita, di tongkrongan kita, dan di setiap kebijakan yang bener-bener berpihak sama rakyat kecil. ***





![(Foto: NET]](https://bantenesia.net/wp-content/uploads/2026/06/IMG_5829-225x129.jpeg)

