Serunya Tujuh Belas Agustus

- Redaktur

Selasa, 25 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tia Astiani, Mahasiswi UNPAM Serang. (Foto: Isitmewa)

Tia Astiani, Mahasiswi UNPAM Serang. (Foto: Isitmewa)

NAMA: TIA ASTIANI 

NIM :251090200147

Kampus : Universitas Pamulang (UNPAM)

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – BERAGAM lomba tujuhbelasan menjadi acara favorit saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

Di antaranya:

lomba tarik tambang, baris berbaris format lucu, makan kerupuk Ada juga lomba lari karung, sepak bola berdaster, giring bola gunakan terong, lari gigit sendok berisi kelereng. Serta lomba panjat pinang diolesi bahan pelicin. Cabang lomba tujuh belasan ini penuh derita, ironis, konyol dan lucu.

Pelaksanaan lomba tujuhbelasan selalu ditunggu masyarakat dan warganet. Mereka merekamnya untuk dijadi kan konten visual di medsos.

Kenapa lomba tujuh belasan selalu dinantikan? Karena pelaksanaan lomba tujuhbelasan menjadi semacam elebarannyai masyarakat.

Baca Juga :  Ketika Korupsi Menyentuh Energi Nasional: Pelajaran dari Kasus Pertamina

Hanya diselenggarakan bulan Agustus, setiap tahunnya.

Peristiwa lomba tujuhbelasan, ternyata untuk sementara waktu, tercatat berhasil melupakan permasalahan politik, ekonomi serta sosial kemasyarakatan.

Semua persoalan seakan bersalin menjadi kapas ringan yang menari-nari di angkasa raya.

Mengapasnya segala problem itu bermuara dari perasaan bahagia yang membuncah di dalam lubuk hati siapapun.

Bermacam ragam lomba tujuhbelasan sengaja diformat dalam paket hemat hiburan khas tujuhbelasan.

Keberadaan nya wajib mengandung unsur kelucuan, konyol, unik sekaligus ironis.

Mengapa demikian? Dengan hadirnya diksi ironis menyebabkan perhelatan lomba tujuhbelasan menjadi pabrik tawa.

Peserta yang terjebak pada diksi ironis menyebabkan mereka menderita, kesakitan, jatuh, ambruk, terpental, mati gaya dan malu.

Baca Juga :  Pembangunan Berkualitas dan Berkeadilan Jadi Fokus RKPD 2027 Kota Serang

Jebakan diksi ironis menyebabkan para peserta gagal menyelesaikan tantangan yang ditorehkan di dalam akad perjanjian lomba tujuh belasan.

Sebaliknya para penyaksi lomba tujuh belasan melihat dan mencatat ironisitas itu sebagai bahan tertawaan.

Pada titik ini,para penyaksi secara tidak sadar melakukan proses kapitalisasi atas ironisitas yang dimunculkan peserta lomba tujuh belasan. Untungnya ketegangan sosial itu berujung damai.

Kemudian muncul gerakan sosial berjamaah dalam wujud aksi lucu-lucuan berjuluk:

pokok-e hepi

Masalahnya kemudian, kenapa pengikut dan penyaksi aneka lomba tujuhbelasan tertawa

Baca Juga :  Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

bahagia saat melihat aktivasi lomba tujuhbelasan? Mengapa penonton merasa puas dan senang saat peserta lomba tujuhbelasan menderita, mati gaya dan gagal total menjadi pemenang.

Secara kasatmata, skenario lomba tujuh belasan memang dirancang berdasarkan storytelling bercorak hiburan hari kemerdekaan dalam konteks nasionalisme kebersamaan.

Penampakan visualnya mengedepankan aspek unik, lucu plus konyol dan ironis.

Ketika peristiwa tahunan itu dibidik menggunakan kacamata budaya visual, tercatat sebagian besar penyaksi berhasil menaikkan tensi rasa senang dan bahagia.

Sebaliknya para pengikut lomba Tujuh belasan harus rela tidak mendapat kan hadiah lomba tujuh belasan yang sudah diperjuangkan secara maksimal. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru