[BANTENESIA.NET], Jakarta – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) mencatat stabilitas sektor jasa keuangan di DKI Jakarta dan Banten tetap kuat dan resilien hingga pertengahan 2025.
Ketahanan ini ditopang oleh kinerja positif sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank (IKNB), serta meningkatnya pelindungan konsumen dan literasi keuangan masyarakat.
Kinerja intermediasi perbankan di kedua wilayah menunjukkan tren positif. Di DKI Jakarta, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp5.058,34 triliun atau naik 12,34% (yoy), sementara penyaluran kredit/pembiayaan tumbuh 9,75% (yoy) menjadi Rp4.216,65 triliun. Rasio kredit bermasalah (NPL) pun terjaga rendah di 1,60%.
Sementara di Banten, DPK naik 4,89% (yoy) menjadi Rp303,20 triliun, dengan penyaluran kredit tumbuh 3,55% (yoy)mencapai Rp220,22 triliun dan NPL di level 2,30%. Perbankan di Banten didominasi oleh kredit konsumsi (53,27%), sementara di Jakarta, mayoritas disalurkan untuk modal kerja dan industri pengolahan.
“Capaian ini menunjukkan fungsi intermediasi berjalan sehat dan mendukung stabilitas sistem keuangan nasional,” terang OJK Jabodebek dalam keterangannya.
Minat masyarakat berinvestasi di pasar modal terus meningkat. Hingga Agustus 2025, jumlah investor di DKI Jakarta mencapai 3,9 juta orang, melonjak 92,02% (yoy), sementara di Banten jumlahnya 931,99 ribu investor, naik 19,01% (yoy).
Aktivitas transaksi saham di Jakarta mencapai Rp179,99 triliun, sementara di Banten justru tumbuh signifikan menjadi Rp20,49 triliun atau naik 13,59% (yoy).
Lonjakan ini mencerminkan semakin inklusifnya pasar modal dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap investasi jangka panjang.
Sektor Industri Keuangan Non-Bank juga menunjukkan kinerja positif. Hingga Juli 2025, piutang pembiayaan di DKI Jakarta mencapai Rp92,65 triliun dengan rasio NPF 2,07%, sementara di Banten tumbuh menjadi Rp35,24 triliundengan NPF 3,24%.
Di sektor pinjaman daring (fintech lending), Jakarta mencatat 2,65 juta rekening aktif dengan nilai outstanding Rp12,62 triliun, dan di Banten terdapat 1,68 juta rekening senilai Rp5,98 triliun.
Kinerja asuransi juga positif: premi asuransi jiwa di Jakarta naik 11,63%, sedangkan premi asuransi umum naik 7,35%. Di Banten, meskipun premi mengalami kontraksi, klaim asuransi jiwa meningkat, menandakan masih tingginya aktivitas layanan asuransi di masyarakat.
Hingga September 2025, OJK Jabodebek telah menangani 7.225 pengaduan konsumen dengan tingkat penyelesaian 87,65%. Mayoritas pengaduan berasal dari P2P lending, perbankan, dan perusahaan pembiayaan, dengan masalah utama seputar perilaku penagihan dan dugaan penipuan rekening.
Selain itu, OJK juga mencatat ribuan laporan fintech dan investasi ilegal, serta gencar melakukan edukasi keuanganmelalui lebih dari 4.200 kegiatan yang menjangkau 13 juta peserta di DKI Jakarta dan Banten.
Sebagai bagian dari komitmen mendorong inklusi keuangan, OJK Jabodebek bersama OJK Provinsi Banten terus memperkuat program seperti Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), Ekosistem Keuangan Inklusif 3T, Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS), serta pengembangan program PED untuk sektor ekonomi kreatif.
OJK juga mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa legalitas entitas sebelum menerima tawaran investasi atau pinjaman online melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK), telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, atau kanal resmi @ojkindonesia dan @ojk_jabodebek. (*/Pou)







