[BANTENESIA.NET] – Sensus Pertanian 2023 (ST2023) mengungkapkan perkembangan signifikan dalam struktur usaha pertanian di Provinsi Banten. Data terbaru menunjukkan peningkatan jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) sementara terjadi penurunan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP), mengindikasikan perubahan dinamika ekonomi pertanian di wilayah tersebut.
Menurut hasil sensus, jumlah RTUP di Provinsi Banten mencapai angka mengesankan sebanyak 601.593 rumah tangga. Ini menandai pertumbuhan sebesar 1,48 persen dibandingkan dengan data Sensus Pertanian 2013, yang mencatat 592.841 rumah tangga. Kenaikan ini menunjukkan ketahanan dan minat yang tinggi dalam mengembangkan usaha pertanian di tingkat rumah tangga.

Di sisi lain, jumlah UTP di Provinsi Banten mengalami penurunan sebesar 8,43 persen dari tahun 2013. Data ST2023 mencatat sebanyak 609.226 UTP, menurun dari 665.330 unit pada Sensus Pertanian sebelumnya. Rasio UTP terhadap RTUP juga mengalami penurunan, turun 0,11 poin dari 1,12 pada tahun 2013 menjadi 1,01.
Transformasi signifikan terjadi di sektor Urban Farming, dengan 522 unit Usaha Pertanian Perorangan Urban Farming yang teridentifikasi. Hal ini mencerminkan pergeseran paradigma pertanian menuju model yang lebih berkelanjutan dan berbasis perkotaan di tengah masyarakat.
Adapun struktur usaha pertanian secara keseluruhan mencakup 609.567 unit, yang terdiri dari 609.226 UTP, 209 Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB), dan 132 Usaha Pertanian Lainnya (UTL). Jumlah UPB meningkat signifikan sebesar 115,46 persen dari tahun 2013, menunjukkan semakin banyaknya perusahaan pertanian yang mengadopsi badan hukum.

Tidak hanya itu, sensus juga membongkar fakta menarik mengenai petani milenial di Provinsi Banten. Sebanyak 46.561 orang dengan rentang usia 19–39 tahun terlibat dalam dunia pertanian, menciptakan keberagaman generasi dalam mengelola sektor ini.
Sepuluh komoditas unggulan yang diusahakan oleh UTP di Provinsi Banten mencakup padi sawah inbrida, kelapa, ayam kampung biasa, sengon/jeunjing/albazia, melinjo, pisang lainnya, mahoni, cengkeh, durian lainnya, dan petai. Komitmen terhadap pertanian berkelanjutan dan diversifikasi tanaman menjadi ciri khas yang semakin mengakar di kalangan pelaku usaha pertanian di Provinsi Banten. (Pou)







