Kebijakan Publik Dinilai Belum Sepenuhnya Berbasis HAM

- Redaktur

Sabtu, 20 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Yuliana Dewi, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Yuliana Dewi, Mahasiswi Ilmu Hukum UNPAM Serang. (Foto: Istimewa)

Nama: Yuliana Dewi
Nim: 251090200509
Fakultas Ilmu Hukum
PSDKU Kota Serang

[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak dasar yang melekat pada setiap manusia sejak lahir dan menjadi kewajiban negara untuk melindungi serta memenuhinya. Namun, pemenuhan HAM tidak dapat dilepaskan dari arah dan pelaksanaan kebijakan publik pemerintah.

Melalui perspektif dimensi perkembangan atau generasi HAM, tulisan ini menganalisis bagaimana kebijakan publik di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjamin perlindungan hak warga negara secara menyeluruh.

Konsep generasi HAM diperkenalkan oleh Karel Vasak pada tahun 1979 yang membagi HAM ke dalam tiga generasi. Generasi pertama mencakup hak sipil dan politik, seperti kebebasan berpendapat, berserikat, dan perlindungan dari tindakan sewenang-wenang negara.

Baca Juga :  Pemerintah Masih Abai Atas Keluhan Masyarakat Soal Polusi, Truk Tambang Dan Minimnya Infrastruktur

Hak-hak ini dijamin dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 dan dalam konteks Indonesia tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945. Pada tahap ini, negara berkewajiban membatasi kekuasaannya agar tidak melanggar kebebasan warga negara.

Selanjutnya, generasi kedua HAM meliputi hak ekonomi, sosial, dan budaya yang menuntut peran aktif negara. Hak atas pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan jaminan sosial hanya dapat terwujud melalui kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan sosial, namun dalam praktiknya masih ditemukan ketimpangan akses, kualitas layanan, dan perlindungan terhadap kelompok rentan.

Perkembangan global kemudian melahirkan generasi ketiga HAM, yang menekankan hak kolektif dan solidaritas, seperti hak atas lingkungan hidup yang sehat, pembangunan berkelanjutan, dan perdamaian.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Hak-hak ini menuntut kebijakan publik yang tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memperhatikan keadilan sosial dan keberlanjutan bagi generasi mendatang.

Dalam implementasinya, kebijakan publik pemerintah di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan menempatkan percepatan pembangunan dan stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama, sementara perlindungan HAM belum sepenuhnya menjadi landasan utama.

Sejumlah kebijakan strategis dijalankan dengan partisipasi publik yang terbatas dan pengawasan HAM yang lemah, sehingga berpotensi mengabaikan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat, ruang hidup, serta kebebasan menyampaikan aspirasi. Kondisi ini mencerminkan belum optimalnya penerapan prinsip HAM lintas generasi dalam kebijakan publik.

Baca Juga :  Pendidikan di Serang: Masihkah Menjadi Jalan Perubahan?

Kritik terhadap kebijakan pemerintah ini bersifat membangun, dengan tujuan menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan hak asasi manusia. Negara seharusnya berperan tidak hanya sebagai penggerak pembangunan, tetapi juga sebagai penjamin utama hak warga negara.

Kesimpulannya, konsep generasi HAM memberikan kerangka analisis penting untuk menilai kebijakan publik pemerintah. Pembangunan yang tidak berlandaskan HAM berpotensi menimbulkan ketidakadilan baru.

Oleh karena itu, kebijakan publik di Indonesia perlu lebih konsisten menempatkan HAM sebagai fondasi utama agar pembangunan berjalan secara adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan seluruh rakyat. ***

Berita Terkait

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?
Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas
Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat
Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia
Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?
Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Puluhan Remaja Terjaring Razia Kos-Kosan di Kota Serang, Sejauh Mana Peran Pemerintah?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Kondisi Lalu Lintas di Jalan Raya Kramatwatu Keselamatan Bukan Sekadar Aturan di Atas Kertas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Bukan Sekadar Dibangun: Fasilitas Publik Juga Harus Dirawat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Ketika Rumah Do’a Dipersoalkan: Ujian Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Kopdes vs UMKM: Kompetisi Semu atau Sinergi Menuju Kemandirian Ekonomi Desa?

Berita Terbaru