Nama: Daniel Julkris
NIM: 1111250330
Instansi: Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
[BANTENESIA.NET], KOTA SERNG – Pembulian bukan hanya masalah perilaku buruk, tetapi juga persoalan serius yang meninggalkan jejak panjang dalam diri seorang anak atau remaja.
Di masa ketika generasi muda sedang membangun kepercayaan diri dan identitas, perlakuan kasar seperti ejekan, penghinaan, pengucilan, atau kekerasan fisik mampu merusak fondasi emosional mereka.
Yang sering tidak disadari adalah bahwa luka psikologis dari pembulian jauh lebih dalam daripada luka fisik yang tampak.
Dampak psikologis tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Banyak korban pembulian menjadi mudah cemas, takut berinteraksi, dan kehilangan rasa aman di lingkungan sosialnya.
Tidak sedikit yang mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri, merasa tidak berharga, bahkan membenci siapa diri mereka sebenarnya. Bagi sebagian korban, trauma itu bisa terbawa hingga dewasa, memengaruhi hubungan, karier, dan cara mereka memandang hidup.
Sementara itu, lingkungan sering kali meremehkan pembulian sebagai sekadar “canda teman” atau “bagian dari proses tumbuh.” Pandangan seperti ini justru memperparah keadaan, karena korban merasa keluhannya tidak dianggap penting.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pembulian yang tidak tertangani dapat memicu gangguan mental jangka panjang seperti depresi, kecemasan berlebih, dan stres berkepanjangan. Generasi muda yang seharusnya tumbuh penuh potensi malah terjebak dalam rasa takut yang terus menghantui.
Mencegah pembulian bukan hanya tugas sekolah atau keluarga, tetapi tugas seluruh masyarakat. Kita perlu membangun budaya yang menolak kekerasan dalam bentuk apa pun, termasuk kekerasan verbal.
Membiasakan diri untuk menggunakan kata-kata yang menggugah semangat, memperhatikan perasaan orang lain, dan berani membela yang lemah adalah langkah kecil namun berdampak besar. Setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi muda.
Pada akhirnya, pembulian bukan sekadar tindakan menyakitkan sesaat, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental dan masa depan seseorang.
Menghapus pembulian berarti memberi ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dengan percaya diri, bebas dari rasa takut, dan memiliki kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Dunia yang bebas pembulian adalah dunia yang lebih sehat, lebih manusiawi, dan lebih penuh harapan. ***







