[BANTENESIA.NET], Pandeglang – Di bawah naungan tenda sederhana namun sarat makna, aroma hidangan bercampur dengan gelak tawa yang memecah jarak. Seperti yang dirasakan oleh keluarga besar Mbah Salip dan ibu Ekot.
Bagi keluarga besar tersebut, Halal Bihalal bukan sekadar ritual saling bersalaman setelah sebulan berpuasa, melainkan sebuah misi untuk menjaga ‘api’ kekeluargaan agar tak pareum obor—memastikan setiap generasi muda tetap mengenali akar dan saudara sedarahnya di tengah derasnya arus zaman.”
Ratusan anggota keluarga besar Mbah Salip dan Ibu Ekot dari berbagai daerah berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dalam acara Halalbihalal tahunan yang digelar di Pandeglang, Sabtu (4/4/2026).
Momentum ini menjadi bukti nyata kuatnya ikatan kekeluargaan yang tetap terjaga di tengah kesibukan masing-masing anggota keluarga.
Acara yang dihadiri mulai dari para sesepuh hingga generasi termuda ini bukan sekadar seremoni biasa. Kegiatan ini merupakan wadah penting untuk mempererat persaudaraan dan memastikan nilai-nilai kekeluargaan tetap mengalir ke generasi penerus.
Dalam penyelenggaraan tahun ini. Seluruh rangkaian acara dilakukan secara gotong royong melalui iuran anggota keluarga. Hal ini mencerminkan tingginya rasa solidaritas dan partisipasi dari setiap lini keluarga untuk menyukseskan agenda tahunan tersebut.
Perwakilan keluarga Mbah Salip, Ilham, menjelaskan bahwa lokasi acara ini dilakukan secara bergilir setiap tahunnya.
“Ini memang acara tahunan dari cucu-cucu Mbah Salip. Tahun kemarin kita laksanakan di Tangerang, dan tahun ini alhamdulillah di Pandeglang. Ini ajang silaturahmi setahun sekali untuk saling memaafkan,” ujar Ilham di sela-sela acara.
Salah satu tantangan besar dalam keluarga besar adalah jarak komunikasi antar generasi, terutama generasi ketiga yang seringkali mulai tidak mengenal satu sama lain. Melalui Halalbihalal ini, diharapkan kekhawatiran tersebut bisa teratasi.
“Biasanya keturunan ketiga itu sudah banyak yang tidak kenal. Alhamdulillah, dengan acara ini ke depan mereka bisa saling kenal dan terus berkomunikasi. Hampir sebagian besar hadir, hanya beberapa yang berhalangan karena kondisi kesehatan,” tambah Ilham.
Ia juga menekankan pentingnya filosofi Sunda, “Ulah Pareum Obor” (Jangan sampai obor padam), yang bermakna jangan sampai hubungan kekeluargaan terputus atau hilang jejak.
“Momen ini sangat berharga karena dengan kesibukan masing-masing, kita jarang bertemu. Minimal setahun sekali kita bersilaturahmi, saling mengunjungi antara yang dari Pandeglang ke Tangerang maupun sebaliknya,” jelasnya.
Lebih dari sekadar temu kangen, Ilham memandang keluarga sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi penerus. Menurutnya, peran keluarga sangat strategis dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing di masa depan.
Dengan terjaganya silaturahmi, nilai-nilai moral dan kebersamaan diharapkan dapat terus diwariskan, sehingga keluarga besar Mbah Salip dan Ibu Ekot tetap solid dan harmonis di masa-masa yang akan datang. (*/Cipz)







