Lunturnya Nilai Pancasila di Era Modern: Alarm bagi Jati Diri Bangsa

- Redaktur

Senin, 4 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: NET)

(Foto: NET)

Oleh​​: Kalinda Alifia Elmanetha
Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum UNPAM Serang
Dosen​​: Risky Amelia,S.H,.M.H
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila

[BANTENESIA.NET] – Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat fundamental dalam membentuk karakter masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bukan hanya menjadi pedoman dalam kehidupan bernegara, tetapi juga menjadi landasan moral dalam kehidupan sehari-hari. Namun, memasuki era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, serta perubahan sosial yang cepat, eksistensi nilai-nilai Pancasila menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Transformasi digital dan keterbukaan informasi membawa dampak besar terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Di satu sisi, kemajuan ini memberikan kemudahan akses informasi dan peluang perkembangan. Namun di sisi lain, tanpa disertai dengan penguatan nilai, perubahan ini justru berpotensi menggerus identitas bangsa.

1. Media Sosial dan Degradasi Etika Publik
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Platform seperti ini memungkinkan setiap individu untuk menyampaikan pendapat secara bebas. Namun, kebebasan tersebut sering kali tidak diimbangi dengan tanggung jawab. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fitnah, hingga provokasi berbasis identitas menjadi fenomena yang semakin umum.
Hal ini menunjukkan adanya krisis etika publik, di mana nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mulai terabaikan. Sikap saling menghormati dalam perbedaan pun semakin luntur. Polarisasi yang terjadi di ruang digital sering kali terbawa ke dunia nyata, sehingga memperbesar potensi konflik sosial.

2. Pergeseran Nilai: Dari Gotong Royong ke Individualisme
Salah satu kekuatan utama bangsa Indonesia sejak dahulu adalah budaya gotong royong. Namun, modernisasi dan urbanisasi telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat. Kesibukan, tuntutan ekonomi, serta gaya hidup praktis membuat interaksi sosial menjadi semakin terbatas.

Baca Juga :  Universitas Pamulang PSDKU Serang Dorong Santri Jadi Digitalpreneur Kreatif

Masyarakat cenderung lebih fokus pada pencapaian pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Bahkan, dalam banyak kasus, hubungan sosial menjadi bersifat transaksional. Hal ini berdampak pada menurunnya rasa empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

3. Ketimpangan Sosial dan Lemahnya Implementasi Keadilan
Nilai keadilan sosial yang menjadi salah satu inti Pancasila masih menghadapi tantangan besar. Ketimpangan ekonomi antarwilayah, perbedaan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, serta terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

Di sisi lain, praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang masih terjadi di berbagai sektor. Hal ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan. Ketika keadilan tidak dirasakan secara merata, maka nilai Pancasila sebagai pedoman hidup menjadi dipertanyakan relevansinya.

4. Meningkatnya Intoleransi dan Ancaman Disintegrasi
Keberagaman merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan meningkatnya sikap intoleransi. Perbedaan agama, suku, dan budaya kerap dijadikan alasan untuk menimbulkan konflik.

Kurangnya pemahaman terhadap nilai kebhinekaan menyebabkan masyarakat mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bersifat sensitif. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

5. Krisis Keteladanan dan Minimnya Internaliasi Nilai
Salah satu faktor yang mempercepat lunturnya nilai Pancasila adalah kurangnya keteladanan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan. Nilai-nilai Pancasila sering kali hanya diajarkan secara teoritis tanpa diikuti dengan praktik nyata.

Baca Juga :  Pemilihan Umum: Ilusi Dalam Sistem Demokrasi

Generasi muda, khususnya, membutuhkan figur teladan yang dapat dijadikan panutan. Tanpa adanya contoh konkret, nilai-nilai tersebut akan sulit untuk diinternalisasi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Solusi dan Rekomendasi

1. Reformulasi Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila
Pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam membangun kembali nilai-nilai Pancasila. Kurikulum perlu dirancang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik nyata seperti kegiatan sosial, proyek kolaboratif, dan diskusi kritis.

2. Penguatan Peran Keluarga sebagai Fondasi Utama
Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pembentukan karakter individu. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai moral, etika, dan kebangsaan. Pola asuh yang menekankan empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial perlu dikedepankan.

3. Keteladanan Nyata dari Pemimpin
Pemerintah dan para pemimpin harus menjadi role model dalam mengamalkan nilai Pancasila. Kebijakan yang transparan, adil, dan berpihak kepada rakyat harus diutamakan. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran, terutama korupsi, menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan publik.

4. Peningkatan Literasi Digital
Di era digital, kemampuan untuk menyaring informasi menjadi sangat penting. Masyarakat perlu dibekali literasi digital agar mampu membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Edukasi tentang etika bermedia sosial juga harus diperkuat untuk menciptakan ruang digital yang sehat.

5. Revitalisasi Budaya Gotong Royong
Nilai gotong royong perlu dihidupkan kembali melalui berbagai kegiatan nyata di masyarakat. Program kerja bakti, kegiatan sosial, serta gerakan komunitas dapat menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas dan kebersamaan.

Baca Juga :  Mahasiswa Manajemen UNPAM Serang Gelar Pelatihan 'Aesthetic Branding' untuk Tingkatkan Daya Saing Produk Siswa SMK Raudhatul Mu'awanah

6. Penguatan Nilai Toleransi dan Kebhinekaan
Pendidikan tentang keberagaman harus terus digalakkan. Dialog antarbudaya, kegiatan lintas agama, serta program kebangsaan dapat menjadi sarana untuk mempererat persatuan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman.

Di sisi lain, pemerintah dan para pemangku kebijakan harus menunjukkan komitmen yang konsisten dalam menjadikan Pancasila sebagai landasan utama dalam setiap kebijakan. Keteladanan dalam kepemimpinan, transparansi dalam pengelolaan negara, serta keadilan dalam penegakan hukum akan menjadi faktor penting dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat. Tanpa adanya contoh nyata dari para pemimpin, upaya penguatan nilai Pancasila akan sulit mencapai hasil yang optimal.
besar. Oleh karena itu, momentum ini harus dijadikan sebagai titik balik untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan. Menjaga Pancasila bukan hanya tentang mempertahankan warisan sejarah, tetapi juga tentang memastikan masa depan bangsa tetap kokoh, berdaulat, dan bermartabat di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

Sumber Bacaan: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Notonagoro. Pancasila: Dasar Falsafah Negara, Kaelan. Pendidikan Pancasila, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) – https://bpip.go.id, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – https://kemdikbud.go.id, Artikel jurnal: “Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi” (berbagai jurnal pendidikan dan sosial Indonesia). ***

Berita Terkait

Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Masih Membebani Masyarakat
Kenaikan Harga Bahan Pokok di Banten 2026: Tantangan Ekonomi yang Perlu Diatasi Bersama
Membedah Anomali “Muda dan Merana”: Mengapa Generasi Hari Ini Terjebak dalam Labirin Kemiskinan?
Implementasi Konsep Manajemen bagi Mahasiswa UNPAM Kampus Kota Serang Melalui Edukasi Pasar Modal di BEI
Solidaritas dan Pembentukan Karakter dalam Himpunan Mahasiswa
Sebuah Tantangan Menjaga Nilai Pancasila di Era Modern dan Internet.
Krisis Implementasi Nilai Pancasila di Tangan Generasi Z, Kesalahan Siapa?
Lunturnya Nilai Pancasila Di Era Modern: Saat Nilai Bangsa Kalah Oleh Nontifikasi
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:11 WIB

Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Masih Membebani Masyarakat

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:48 WIB

Kenaikan Harga Bahan Pokok di Banten 2026: Tantangan Ekonomi yang Perlu Diatasi Bersama

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:41 WIB

Membedah Anomali “Muda dan Merana”: Mengapa Generasi Hari Ini Terjebak dalam Labirin Kemiskinan?

Minggu, 10 Mei 2026 - 00:10 WIB

Implementasi Konsep Manajemen bagi Mahasiswa UNPAM Kampus Kota Serang Melalui Edukasi Pasar Modal di BEI

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:35 WIB

Solidaritas dan Pembentukan Karakter dalam Himpunan Mahasiswa

Berita Terbaru