Penulis: Linda Yanti
(Mahasiswa S1 UNPAM Serang Fakultas Hukum Program Studi Ilmu Hukum)
Dosen: Risky Amelia S. H., M. H
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila
[BANTENESIA.NET] – Pancasila Cuma Tinggal di Buku PKn. Pancasila bukan sekedar lambang Burung Garuda. Banyak yang mengira Pancasila Cuma lima poin yang dipajang di ruang kelas atau sekedar hafal
saat upacara. Padahal Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia dan fondasi utama dalam berbangsa dan bernegara. Atau bahasa gaulnya : Way of life-nya orang Indonesia.
Lima sila itu bukan sekedar doktrin kaku. Sila ke-1 Ketuhanan, didalamnya terdapat nilai keyakinan yang buat kita nggak barbar dan tetap ingat Tuhan Yang Maha Esa. Sila ke-2 Kemanusiaan, nilai yang menyadarkan kita agar tidak tutup mata melihat orang yang sedang butuh bantuan. Sila ke-3 Persatuan, menjadi rem supaya kita tidak mudah pecah hanya karena perkara beda pilihan. Sila ke-4 Kerakyatan, mengajarkan kita beradu argumen dan menyampaikan pendapat pakai otak melalui musyawarah, bukan pakai otot. Ini mau menyampaikan pendapat atau mau boxing? Sila ke-5 Keadilan, memberikan rasa adil secara menyeluruh, bukan hanya yang punya kuasa saja.
Jujur aja ni, kapan terakhir kita denger anak Gen Z ngobrolin Sila ke-5 waktu nongkrong? Yang rame malah debat siapa paling green flag atau red flag. Pancasila hari ini nasibnya kaya pelajaran PKn: Wajib hafal 5 Sila buat ujian, besoknya lupa.
Di sekolah upacara Senin cuma jadi ajang nyalahin handphone sebagai faktor lunturnya nilai Pancasila. Padahal yang bikin nilai itu luntur ya karena kita sendiri gagal bikin Pancasila hidup dalam
keseharian kita.
Jadi, kalau hari ini kita lihat anak muda lebih hafal step dance Tiktok daripada makna “adil dan beradab”, masalahnya bukan di Pancasila nya. Pancasila dari dulu nggak pernah berubah, justru yang berubah itu cara kita mengimplementasikan. Atau lebih tepatnya, kita yang mulai berhenti menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Negara Kalah Cepat dari Algoritma. Mau marah sama Gen Z? Boleh. Tapi tunggu. Coba lihat dulu: Mereka bangun tidur yang dibuka Tiktok, bukan Tap MPR. Sehari 2 jam pelajaran PKn harus perang mati-matian lawan 7 jam screen time yang isinya ujaran kebencian, tren luar negeri, dan budaya individualis.
Kurikulum kita masih sibuk debat format, sementara di sisi lain algoritma media sosial sudah sukses “mendoktrin” anak muda setiap detik. Gen Z nggak bisa lepas tangan. Katanya generasi paling kritis dan melek digital, tapi literasi kebangsaannya masih bolong? Kita paling depan kalau demo isu global, giliran diajak gotong royong malah mager. Kita teriak “keadilan sosial” di media sosial, tapi disuruh antre waktu belanja malah nyerobot gitu aja. Rela beli album idol Korea 3 versi , giliran produk UMKM lokal dicibir “jelek”.
Kalau terus berlindung dibalik “salah sistem”, kapan kita mau mulai dari diri sendiri? Handphone ditangan kita, jempol juga punya kita. Mau scroll konten yang nguatin bangsa atau yang bisa ngancurin bangsa, keputusan ada di tangan kita sendiri.
Berhenti kalau Bisanya Cuma Nunjuk, Kita Harus Mulai Gerak. Kita udah capek nyalahin Gen Z, negara, dan algoritma. Kalau semua pihak cuma bisanya lempar tanggung jawab, larinya bakal kemana semua ini?
Kita mulai gerak sekarang, maka akan banyak perubahan di masa mendatang, Atau memilih diam dan membiarkan semuanya hancur perlahan? Itu semua ada di tangan kita, bukan di tangan orang lain.
Sesimpel Negara buat konten Tiktok dengan waktu yang gak perlu banyak, isinya ngejelasin Sila ke-2 lewat kasus nyata : Bantu driver ojol dan belanja di UMKM lokal. Atau bisa Kolaborasi sama kreator Tiktok buat jadi “Influencer kebangsaan” yang Gen z percaya dan mudah dimengerti, bukan cuma pidato kaku.
Di sekolah juga sama. Penerapan Sila ke-3 bersih-bersih lingkungan sekitar. Sila ke -4 sesimpel debat aturan kelas secara musyawarah. Jadi semuanya ada aksi. bukan cuma dihafal dan diucapkan di mulut.
Buat Gen Z, katanya paling melek digital, tapi mau dikontrol FYP? Kalau beranda kita isinya cuma flexing dan ghibah, ya jangan salahin negara. Mulai unfollow akun yang bikin kita semua sinis sama bangsa sendiri.
Follow akun UMKM, sejarah, relawan. Intinya, Pancasila nggak akan luntur kalau semuanya bekerja sama dan berhenti salah-salahan. Dia cuma bakal jadi teks mati kalau kita matiin duluan. Pilihannya ada di jempol kita masing-masing. Mau Jadi generasi yang nonton Pancasila dikubur algoritma, atau yang gali lagi nilai yang dikubur? Itu semua ada di tangan kita. Kritik boleh, tapi harus kritik yang cerdas ya, para Gen Z. ***







