[BANTENESIA.NET] – Momentum pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten terus menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun 2025, perekonomian Banten tercatat tumbuh 5,37 persen (year on year/yoy), melampaui capaian tahun sebelumnya dan berada di atas rata-rata nasional.
Capaian tersebut disampaikan dalam kegiatan Taklimat Media bertema “Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Banten melalui Sinergi Moneter, Fiskal, dan Sektor Keuangan” yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten, Kamis (12/2/2026), di Jalarasa, The Breeze BSD, Kabupaten Tangerang.
Kegiatan ini menjadi forum strategis komunikasi kebijakan yang menghadirkan lintas otoritas, yakni BI Banten, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Banten, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten, serta insan media.

Taklimat dipimpin Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa. Kehadiran DJPb dan OJK menjadi wujud konkret policy coordination framework di daerah untuk memastikan harmonisasi bauran kebijakan, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dalam pemaparannya, BI Banten menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama PDRB dengan pangsa lebih dari 53 persen, didukung meningkatnya keyakinan konsumen, perbaikan ketenagakerjaan, serta lonjakan aktivitas perdagangan saat Hari Besar Keagamaan Nasional dan akhir tahun.
Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,15 persen (yoy). Total realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp130,2 triliun atau 109 persen dari target RKPD. Capaian ini menempatkan Banten sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi keempat secara nasional.
Dari sisi eksternal, kinerja net ekspor tumbuh positif sebesar 11,27 persen (yoy). Ekspor nonmigas meningkat 7,59 persen, didorong pemulihan komoditas unggulan seperti alas kaki dan produk kimia, yang menegaskan daya saing industri pengolahan Banten tetap terjaga.
Kantor Wilayah DJPb Provinsi Banten menegaskan peran kebijakan fiskal sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Realisasi belanja negara di Banten mencapai Rp27,90 triliun atau 96,28 persen dari pagu anggaran.
Belanja tersebut difokuskan pada pembangunan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, serta perlindungan sosial guna menjaga daya beli masyarakat. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp18,72 triliun dan tumbuh 4,72 persen (yoy), memperkuat kemandirian fiskal daerah.
Dari sektor jasa keuangan, OJK Provinsi Banten melaporkan intermediasi perbankan tetap tumbuh positif. Kredit bank umum pada Desember 2025 mencapai Rp220,06 triliun atau tumbuh 3,32 persen (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,45 persen (yoy).
Profil risiko perbankan juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) Gross sebesar 3,05 persen. Selain itu, peningkatan jumlah investor pasar modal dan nilai transaksi saham mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Banten.

Forum Taklimat Media ini menegaskan pentingnya konvergensi tiga pilar kebijakan, moneter (Bank Indonesia), fiskal (Kementerian Keuangan), dan sektor jasa keuangan (OJK) dalam menjaga stabilitas harga, memperkuat sistem keuangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Sinergi komunikasi yang selaras kepada publik juga dinilai krusial untuk mengelola ekspektasi inflasi dan menjaga optimisme dunia usaha.
Dengan bauran kebijakan yang terkoordinasi dan dukungan media sebagai mitra strategis penyampai informasi yang kredibel dan edukatif, momentum pertumbuhan ekonomi Banten diharapkan tetap terjaga dan semakin menguat sepanjang 2026. (*/Cipz)







