[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – SMKN 7 Kota Serang menjadi tuan rumah program pengabdian kepada masyarakat yang menghadirkan pelatihan strategi branding dan promosi online. Kegiatan yang diikuti 60 siswa jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran ini bertujuan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dunia wirausaha digital. Pelatihan ini sangat penting mengingat banyak lulusan SMK yang ingin memulai bisnis sendiri, tapi masih bingung bagaimana caranya memanfaatkan marketplace dan media sosial secara maksimal untuk memasarkan produk mereka.
Latar Belakang
SMK Negeri 7 Kota Serang yang memiliki jurusan Bisnis dan Pemasaran telah lama mengajarkan teori e-commerce kepada siswa-siswinya. Namun, Kepala Jurusan mengakui bahwa mereka butuh praktik langsung dari pelaku industri. “Anak-anak kami belajar tentang marketplace dan social media marketing di kelas, tapi mereka butuh role model nyata. Mereka perlu tahu bagaimana praktiknya di lapangan, bukan cuma hafalan teori,” ujarnya.
Kondisi ini kemudian menjadi perhatian tim dosen dari universitas Pamulang Kampus kota serang yang sedang menyusun program pengabdian masyarakat. Setelah koordinasi dengan pihak sekolah, disepakati untuk mengadakan pelatihan yang tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tapi juga keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan oleh siswa. SMK Negeri 7 Kota Serang yang memiliki jurusan Bisnis dan Pemasaran telah lama mengajarkan teori e-commerce kepada siswa-siswinya.

Namun, Ibu Sunariah selaku Kepala sekolah mengakui bahwa mereka butuh praktik langsung dari pelaku industri. “Anak-anak kami belajar tentang marketplace dan social media marketing di kelas, tapi mereka butuh role model nyata. Mereka perlu tahu bagaimana praktiknya di lapangan, bukan cuma hafalan teori,” ujarnya.
Kondisi ini kemudian menjadi perhatian tim dosen dari universitas setempat yang sedang menyusun program pengabdian masyarakat. Setelah koordinasi dengan pihak sekolah, disepakati untuk mengadakan pelatihan yang tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tapi juga keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan oleh siswa.
Yang menarik dari program ini adalah timingnya yang tepat. Banyak siswa kelas XII yang sudah punya ide bisnis kecil-kecilan, ada yang jual aksesoris, makanan, bahkan jasa desain. Tapi mereka mengaku kesulitan mendapat pembeli karena promosi yang kurang efektif. “Saya sudah bikin akun Instagram buat jualan kalung handmade, tapi followersnya dikit banget. Postingan saya kayaknya nggak menarik,” curhat Dina, salah satu siswi kelas XII.
Fakta bahwa generasi Z sangat akrab dengan teknologi ternyata tidak otomatis membuat mereka jago berjualan online. Mereka mungkin mahir menggunakan TikTok atau Instagram untuk hiburan, tapi strategi marketing yang efektif adalah cerita lain.
Di sinilah peran program pengabdian masyarakat menjadi sangat relevan menjembatani gap antara penggunaan media sosial untuk kesenangan pribadi dengan pemanfaatannya untuk bisnis.

Kronologi Peristiwa
Seminggu sebelum hari H, tim pengabdian masyarakat melakukan survei kecil-kecilan ke siswa untuk tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Hasilnya cukup mengejutkan: 80% siswa sudah punya akun marketplace atau berjualan di media sosial, tapi hampir semuanya mengaku hasil penjualannya masih jauh dari harapan. Dari sini, materi pelatihan dirancang lebih fokus ke problem solving daripada pengenalan dasar.
Siang itu, Jum`at 17 Oktober 2025, aula SMKN 7 Kota Serang sudah ramai sejak pukul 13.30. Para siswa terlihat antusias sambil membawa handphone mereka. Kepala Sekolah, Ibu Dr. Hj. Sunariah, S.Ag, M.Pd.I. membuka acara dengan menekankan pentingnya kewirausahaan digital di era sekarang. “Kalian hidup di zaman yang sangat beruntung. Dulu untuk jualan harus sewa toko, sekarang cukup dari handphone. Tapi ingat, peluang besar itu juga berarti persaingan yang ketat. Makanya kalian harus punya strategi,” pesannya.
Sesi pertama dimulai dengan ice breaking yang seru. Narasumber, Kak Alya yang merupakan praktisi digital marketing muda, langsung bikin suasana cair dengan tanya jawab interaktif. “Siapa di sini yang pernah belanja online? Angkat tangan!” Hampir semua siswa mengacungkan tangan. “Nah, sekarang coba pikir, kenapa kalian beli dari toko A, bukan toko B? Apa yang bikin kalian klik ‘beli’?” Dari diskusi sederhana ini, siswa mulai menyadari bahwa sebagai konsumen, mereka sebenarnya sudah tahu apa yang menarik dan apa yang tidak tinggal bagaimana menerapkan insight itu ke bisnis mereka sendiri.
Materi berikutnya membahas branding dasar. “Branding itu bukan cuma soal logo yang keren. Branding itu tentang kesan pertama ketika orang lihat produk kalian,” jelas Kak Alya sambil menampilkan contoh-contoh akun bisnis yang brandingnya kuat versus yang asal-asalan. Para siswa langsung bisa membedakan mana yang profesional dan mana yang tidak. Diskusi jadi makin hangat ketika mereka diminta mengevaluasi akun bisnis teman mereka sendiri tentunya dengan cara yang konstruktif.
Setelah istirahat , sesi dilanjutkan dengan workshop optimasi marketplace. Kak James, yang punya pengalaman mengelola toko online di berbagai platform, membongkar rahasia-rahasia kecil yang sering diabaikan penjual pemula. “Judul produk itu penting banget. Jangan cuma tulis ‘Tas Lucu’. Coba deh pikir, kalau kalian jadi pembeli, mau nyari pakai kata kunci apa? ‘Tas Ransel Wanita Korea Style Pink’ nah, ini baru judul yang SEO-friendly,” jelasnya sambil menunjukkan perbedaan performa produk dengan judul yang berbeda.
Yang paling menarik adalah sesi praktik hands-on. Setiap siswa diminta membuka akun marketplace mereka (atau membuat yang baru jika belum punya) dan langsung menerapkan apa yang baru dipelajari. Tim fasilitator berkeliling, memberikan feedback personal. Ada yang judul produknya diperbaiki, ada yang foto produknya di-review dan diberi saran, ada juga yang belajar cara membuat deskripsi yang persuasif. Suasana jadi seperti klinik bisnis online dadakan.
Yang bikin workshop ini berbeda adalah adanya sesi “roasting” konten. Siswa diminta mengirimkan salah satu postingan bisnis mereka, lalu secara acak konten tersebut di-review bersama-sama. Tentu saja dengan cara yang humoris tapi tetap edukatif. “Ini foto produknya gelap banget, kayak lagi kerasukan,” canda Kak Sarah, membuat seluruh ruangan tertawa. “Tapi beneran deh, lighting itu penting. Coba difoto ulang dengan cahaya alami dari jendela, pasti hasilnya beda.” Siswa yang kontennya di-review bukannya tersinggung, malah berterima kasih karena dapat insight yang sangat berguna.
Sesi terakhir adalah pembuatan content calendar. Setiap siswa dibimbing membuat rencana konten untuk satu bulan ke depan. “Posting nggak boleh asal-asalan. Harus ada strategi. Senin konten edukasi, Rabu konten hiburan, Jumat konten promo contoh aja ya, kalian bisa sesuaikan sendiri,” jelas Kak Sarah. Di akhir sesi, setiap siswa sudah punya blueprint jelas tentang apa yang akan mereka posting di minggu-minggu mendatang.
Penutupan acara diwarnai testimoni dari beberapa siswa yang mengaku mendapat banyak insight baru. Kepala Sekolah menutup dengan pesan motivasi: “Ilmu sudah dapat, sekarang tinggal praktik. Jangan sampai ilmunya cuma jadi catatan di buku, tapi diterapin beneran di bisnis kalian.” Setiap peserta pulang dengan sertifikat, modul digital, dan yang terpenting, semangat baru untuk mengembangkan bisnis online mereka.
Dampak
Dampak paling terasa adalah perubahan mindset siswa tentang bisnis online. Kalau sebelumnya mereka berpikir “pokoknya posting aja, ntar juga ada yang beli,” sekarang mereka paham bahwa setiap elemen dari foto produk, judul, caption, hingga waktu posting punya peran strategis. Ini tercermin dari evaluasi yang dilakukan seminggu setelah pelatihan: 75% siswa sudah mulai menerapkan minimal 3 strategi baru yang mereka pelajari.
Hasil konkretnya juga mulai terlihat. Dina, siswi yang tadi sempat disebut, melaporkan bahwa setelah menerapkan tips foto produk dan caption yang menarik, inquiry produknya naik drastis. “Biasanya sehari cuma 2-3 DM, sekarang bisa 10-15 DM. Belum semua jadi closing sih, tapi at least orang mulai tertarik,” ceritanya dengan antusias. Ada juga Rizki, siswa yang jualan case handphone di Shopee, mengaku rating tokonya naik dan mulai masuk halaman pertama pencarian setelah mengoptimalkan judul dan deskripsi produk.
Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya entrepreneur-entrepreneur muda yang tidak hanya jago secara teknis, tapi juga punya mental wirausaha yang kuat. Pengalaman berbisnis sejak SMK akan membuat mereka lebih siap menghadapi dunia kerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri setelah lulus nanti.
Ada juga dampak tidak langsung yang cukup menarik: beberapa siswa yang awalnya jualan sendiri-sendiri, mulai berkolaborasi. Ada yang gabung untuk beli stok bareng supaya dapat harga lebih murah, ada juga yang saling promosi produk satu sama lain. Ini menciptakan ekosistem entrepreneur muda yang saling support, bukan saling sikut.
Reaksi dan Tanggapan
Antusiasme siswa terhadap pelatihan ini luar biasa. “Ini pelatihan terbaik yang pernah saya ikuti selama di SMK. Biasanya kalau ada workshop gitu, materinya ngebosenin dan nggak nyambung sama kehidupan kita. Tapi ini beda, langsung praktik dan bisa diterapin,” ujar Fikri, siswa kelas XII yang punya usaha jasa desain logo.
Nadia, siswi lain yang jualan hijab, menambahkan, “Yang paling saya suka itu pas sesi roasting konten. Memang agak nervous waktu konten saya dibahas, tapi feedbacknya bener-bener berguna. Sekarang saya tahu kesalahan saya di mana dan gimana cara perbaikinya. Followersnya juga mulai naik setelah saya perbaiki konten saya.”
Dari sisi penyelenggara, Kak Sehabudin sebagai ketua tim pengabdian masyarakat mengaku puas dengan antusiasme peserta. “Mengajar anak-anak SMK itu menantang tapi menyenangkan. Mereka sangat kritis dan nggak segan bertanya. Respon mereka yang positif ini membuat kami termotivasi untuk mengembangkan program lanjutan, mungkin pendampingan intensif untuk siswa yang serius mau mengembangkan bisnisnya,” ungkapnya.
Kesimpulan
Program pengabdian masyarakat di SMKN 7 Kota Serang ini membuktikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah kejuruan bisa menghasilkan dampak yang signifikan. Siswa tidak hanya mendapat pengetahuan teoritis dari sekolah, tapi juga skill praktis dari praktisi dan akademisi yang berpengalaman di bidangnya.
Beberapa poin penting yang bisa disimpulkan: pertama, generasi muda sangat antusias belajar tentang bisnis online asalkan materinya relevan dan cara penyampaiannya engaging. Kedua, metode pembelajaran yang interaktif dan langsung praktik terbukti lebih efektif dibanding ceramah satu arah.
Ketiga, feedback personal dan pendampingan langsung sangat membantu siswa memahami dan menerapkan strategi yang diajarkan.
Yang menarik adalah mindset entrepreneurship yang mulai terbentuk. Siswa tidak hanya berpikir tentang bagaimana dapat nilai bagus, tapi juga bagaimana menghasilkan uang dari skill yang mereka miliki.
Ini adalah bekal penting mengingat tidak semua lulusan SMK akan langsung dapat pekerjaan kemampuan berwirausaha menjadi alternatif yang sangat berharga.
Pelajaran penting dari program ini adalah bahwa pendidikan kewirausahaan harus dimulai sejak dini dan harus aplikatif.
Teori tanpa praktik akan cepat dilupakan, tapi pengalaman langsung meskipun dimulai dari hal kecil akan tertanam kuat dan menjadi fondasi untuk pengembangan bisnis yang lebih besar di masa depan.
Ke depannya, beberapa hal perlu dipertimbangkan untuk memaksimalkan dampak program semacam ini.
Pertama, perlu ada program pendampingan lanjutan, misalnya mentoring bulanan atau konsultasi online untuk siswa yang serius mengembangkan bisnisnya. Kedua, bisa dikembangkan kompetisi atau showcase bisnis siswa untuk memotivasi mereka menerapkan ilmu yang sudah didapat.
Ketiga, melibatkan alumni yang sukses di bidang e-commerce sebagai role model akan sangat inspiratif bagi siswa.
Program ini juga menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat bukan hanya tentang “memberi” tapi juga tentang “berbagi”.
Dosen dan praktisi berbagi ilmu dan pengalaman, sementara siswa berbagi semangat dan perspektif generasi muda yang fresh. Ini adalah simbiosis yang saling menguntungkan dan semoga bisa menginspirasi program-program serupa di sekolah-sekolah lain.
Teaser
SMKN 7 Kota Serang menggelar pelatihan strategi branding dan promosi online dalam program pengabdian masyarakat yang diikuti 60 siswa jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran.
Pelatihan dua hari ini membekali siswa dengan skill praktis optimasi marketplace dan pembuatan konten media sosial yang engaging.
Dengan metode workshop interaktif dan pendampingan langsung, 75% siswa langsung menerapkan strategi baru dan melaporkan peningkatan inquiry produk hingga 400%.
Program ini menjadi bukti kolaborasi efektif antara perguruan tinggi dan SMK dalam mencetak entrepreneur muda yang siap bersaing di era digital. ***







