KKB x BIF 2026 Soroti Potensi Kopi Robusta Banten dan Tren Bisnis Kedai Kopi

Kamis, 15 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Bantenesia)

(Foto: Bantenesia)

[BANTENESIA.NET] – Kopi robusta asal Banten memiliki keunikan cita rasa yang berpotensi menjadi keunggulan di pasar nasional hingga internasional. Berbeda dari robusta pada umumnya yang identik dengan rasa pahit pekat, kopi robusta yang ditanam di dataran tinggi Banten justru memiliki sentuhan keasaman (Acidity) yang seimbang, tekstur rasa lebih halus (Smooth), serta aroma cokelat yang khas.

Keunikan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Gelaran Karya Kreatif Banten x Banten Investment Forum (KKB x BIF) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Banten di Bintaro Jaya Xchange Mall 2, Tangerang Selatan, Minggu (11/10/2026).

Dalam sesi diskusi mengenai industri kopi, para narasumber menyoroti potensi komoditas kopi lokal sekaligus strategi pengembangan usaha untuk menghadapi persaingan pasar yang semakin dinamis.

Peneliti Pascapanen PT Riset Perkebunan Nusantara dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Andi Dharmawan, menjelaskan bahwa ketinggian tempat tanam menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter unik kopi robusta Banten.

Menurutnya, robusta yang tumbuh di dataran tinggi Banten memiliki karakter rasa yang berbeda dibandingkan robusta dari sejumlah daerah lain. Keasaman yang seimbang, tekstur lebih lembut, serta sentuhan rasa cokelat menjadi ciri khas yang dapat dikembangkan sebagai identitas produk unggulan daerah.

“Robusta Banten punya Marker, yaitu kopi robusta yang ditanam di ketinggian yang memiliki rasa Acidity. Ini yang menjadi ciri khas dan harusnya bisa dijadikan keunggulan untuk dikembangkan jadi Brand,” ujar Andi.

Andi menuturkan, selama ini masyarakat kerap mengidentikkan kopi dengan rasa pahit. Padahal, kopi memiliki beragam profil cita rasa yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk varietas, lingkungan tumbuh, dan proses pengolahan.

Menariknya, karakter keasaman yang selama ini menjadi salah satu daya tarik kopi arabika juga ditemukan pada robusta yang ditanam di dataran tinggi Banten.

Baca Juga :  Ekonomi Banten Tumbuh 5,02% pada 2024, Tapi Laju Pertumbuhan Melambat

“Kalau kita lihat kebutuhan dari kopi-kopi dunia itu kan kebanyakan arabika. Nah, yang dicari itu kan adalah asamnya. Dan ini adanya di kopi robusta Banten. Nah, itu yang menjadi menarik, yang menjadi pembeda karakteristik kopi robusta Banten dengan kopi-kopi robusta di daerah lainnya,” ungkapnya.

Karakter tersebut membuka peluang bagi kopi robusta Banten untuk menjangkau konsumen yang mencari pengalaman menikmati kopi dengan profil rasa berbeda.

Dengan pengembangan kualitas, penguatan identitas produk, serta strategi pemasaran yang tepat, keunikan cita rasa kopi Banten dapat menjadi modal untuk meningkatkan daya saing, memperluas jangkauan pasar, hingga menarik minat pembeli internasional.

Pengembangan merek berbasis karakter lokal juga dinilai penting agar kopi Banten tidak hanya dikenal sebagai komoditas perkebunan, tetapi memiliki identitas yang kuat di tengah persaingan industri kopi.

Selain membahas potensi komoditas di sektor hulu, diskusi KKB x BIF 2026 juga menyoroti tantangan industri kopi di sektor hilir, terutama perkembangan bisnis kedai kopi dan perubahan preferensi konsumen.

Co-Founder Common Grounds sekaligus Ketua Umum Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI-SCAI), Daryanto Witarsa, menegaskan bahwa pelaku usaha kopi perlu terus beradaptasi dengan perubahan pasar, termasuk dampak perubahan iklim terhadap produksi serta pergeseran perilaku konsumen.

Menurutnya, pelaku usaha di sektor hulu perlu menyesuaikan diri dengan dinamika permintaan dan pasokan. Sementara itu, pelaku usaha di sektor hilir harus memahami kebutuhan konsumen agar mampu mempertahankan relevansi merek di tengah persaingan.

“Kalau kita lihat lima tahun ke depan, kita sebagai pelaku usaha mau di hulu, mau di hilir, We Need To Adapt To The Current Situation. Kalau dari sisi hulu, ada Climate Change, petani butuh adaptasi dengan Demand dan Supply. Sama juga kita di hilir, kita butuh beradaptasi,” kata Daryanto.

Baca Juga :  High Level Meeting TPID Se-Banten Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H

Ia juga menyoroti peran Generasi Z dan Milenial yang semakin besar dalam menggerakkan pasar konsumsi, termasuk industri kopi.

Menurut Daryanto, kopi saat ini tidak lagi sekadar minuman, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup. Kedai kopi juga berkembang menjadi ruang untuk bersosialisasi, bekerja, hingga menikmati pengalaman bersama komunitas.

“Gen Z dan Milenial kita tuh di Indonesia lagi kuat-kuatnya. Mereka yang Big Spenders, lagi di puncak karier mereka yang Spending Money. Jadi kita sebagai brand di sini, sebagai Coffee Shop Owners atau pelaku usaha kopi, kita butuh beradaptasi. Kita butuh tahu mereka maunya apa,” jelasnya.

Karena itu, pelaku usaha perlu memahami kebiasaan, kebutuhan, serta preferensi konsumen muda, mulai dari suasana kedai yang nyaman hingga fasilitas yang mendukung aktivitas bekerja menggunakan laptop.

Daryanto menambahkan, konsep Specialty Coffee saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas rasa atau edukasi mengenai kopi. Pelaku usaha juga perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan gaya hidup konsumen.

Perubahan tren menu menjadi salah satu contoh dinamika yang perlu diperhatikan. Jika sebelumnya minuman klasik seperti Long Black dan Cappuccino banyak diminati, kini pelaku usaha juga menghadapi perkembangan kreasi minuman seperti Mont Blanc dan Dirty Latte.

Menurutnya, kemampuan membaca tren dan menciptakan inovasi menjadi faktor penting agar sebuah merek tetap relevan.

“Kalau kita tidak bisa ikutin tren-tren tersebut, brand ini bakal mati. Brand ini bakal jadi era dinosaurus. Jadi kalau kita tidak beradaptasi, itu brand tidak akan relevan lagi,” tegasnya.

Baca Juga :  Ekonomi Banten Tumbuh 5,37 Persen, BI–DJPb–OJK Perkuat Sinergi Jaga Momentum 2026

Meski demikian, Daryanto mengingatkan agar pelaku usaha tidak sekadar mengikuti tren tanpa memiliki kreativitas dan karakter sendiri. Data historis dan tren pasar seharusnya dijadikan bahan pembelajaran untuk merancang strategi ke depan, bukan sekadar menjadi acuan untuk mengulang konsep lama.

Ia pun mendorong calon pengusaha kopi muda di Banten agar berani berinovasi dan menciptakan produk yang memiliki ciri khas.

“Kalau kalian-kalian yang mau buka usaha, tolong jangan melihat ke belakang, lihat ke depan. Kalian harus mikirin ke depannya tren apa yang akan ada di depan. Historical data itu baik untuk kita belajar melangkah ke depan, bukan untuk direnungkan. Jangan FOMO, tapi harus dengan kreasi kita sendiri,” pungkas Daryanto.

Melalui Gelaran Karya Kreatif Banten x Banten Investment Forum 2026, BI Banten menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan perspektif penelitian komoditas dan perkembangan pasar untuk mendorong penguatan industri kopi daerah.

Potensi cita rasa robusta Banten menjadi modal penting dalam membangun identitas produk lokal. Di sisi lain, inovasi bisnis, pemahaman terhadap perilaku konsumen, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar diperlukan agar potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Sinergi antara petani, peneliti, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat rantai nilai industri kopi Banten, mulai dari peningkatan kualitas di tingkat produksi hingga pengembangan merek dan pemasaran.

Dengan strategi pengembangan yang tepat, kopi robusta Banten berpeluang memperluas pasar domestik, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta memperkuat daya saing produk kopi Indonesia di pasar internasional. (Cipz)

Berita Terkait

Pemprov Banten dan Bank Indonesia Percepat Investasi melalui BIF 2026
Bank Indonesia dan Pemprov Banten Perkuat UMKM dan Percepatan Investasi Lewat KKB x BIF 2026
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan Indonesia 2026–2030, Fokus Perkuat Digitalisasi, Intermediasi, dan Keuangan Berkelanjutan
Realisasi Investasi Banten Capai Rp66,3 Triliun, BI Fokus Beri Manfaat ke Ekonomi Lokal
QRISAMLING Jadi Langkah Baru Digitalisasi, BI Banten dan Bapenda Dorong Kepatuhan Pajak
FEKDI x IFSE 2026: Banten Raih Prestasi Pengendalian Inflasi dan Digitalisasi Daerah
BI Banten Perkuat Strategi Tekan Inflasi, Dorong Pertanian Modern dan Jaga Stabilitas Harga Pangan
HARPELNAS 2026, Bank BJB KCK Banten Tegaskan Komit Beri Kualitas Layanan dan Jaga Hubungan Erat dengan Nasabah

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:42 WIB

KKB x BIF 2026 Soroti Potensi Kopi Robusta Banten dan Tren Bisnis Kedai Kopi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WIB

Pemprov Banten dan Bank Indonesia Percepat Investasi melalui BIF 2026

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:17 WIB

Bank Indonesia dan Pemprov Banten Perkuat UMKM dan Percepatan Investasi Lewat KKB x BIF 2026

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:07 WIB

OJK Luncurkan Roadmap Perbankan Indonesia 2026–2030, Fokus Perkuat Digitalisasi, Intermediasi, dan Keuangan Berkelanjutan

Rabu, 30 September 2026 - 23:53 WIB

Realisasi Investasi Banten Capai Rp66,3 Triliun, BI Fokus Beri Manfaat ke Ekonomi Lokal

Berita Terbaru

(Foto: Istimewa)

Ekonomi Bisnis

Pemprov Banten dan Bank Indonesia Percepat Investasi melalui BIF 2026

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WIB