Persoalan Sampah di Kawasan Wisata Carita: Antara Kesadaran Masyarakat dan Tanggung Jawab Pemerintah

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Siti Sri Heriyanti. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Siti Sri Heriyanti. (Foto: Istimewa)

Nama : Siti Sri Heriyanti
NIM : 251092100141
Prodi : Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata kuliah : Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu : Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Carita dikenal sebagai salah satu tempat wisata pantai di Pandeglang. Banyak orang datang untuk menikmati suasana pantai, bermain bersama keluarga, dan menghabiskan waktu liburan. Namun, di balik ramainya kawasan wisata tersebut, masih ada masalah yang cukup sering terlihat, yaitu masalah sampah. Tangsel Pos (30/9) memberitakan sampah plastik menumpuk dan tersangkut di aliran sungai di bawah jembatan dekat Masjid Jami Al-Khusaeni Carita. Banten News juga memberitakan masalah yang sama. Dalam beritanya, disebutkan bahwa sampah di bawah jembatan membuat kawasan wisata Carita terlihat kotor. Padahal, jalan tersebut sering dilewati wisatawan yang ingin menikmati keindahan Carita.

Baca Juga :  Antusiasme Tinggi dalam Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka di MAN 2 Serang

Pertanyaannya, siapa yang salah? Apakah hanya Pemerintah saja? Menurut saya, kesalahannya bukan hanya di satu pihak saja. Di satu sisi, masyarakat juga ikut terlibat karena masih ada yang membuang sampah sembarangan.

Menurut salah satu warga yang diwawancarai Tangsel Pos, sampah tersebut kemungkinan berasal dari dua hal, yaitu terbawa arus sungai atau sengaja dibuang oleh orang yang lewat. Sampah-sampah yang tersangkut di sungai menunjukkan bahwa masih ada orang yang membuang sampah sembarangan. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, sungai bisa semakin banyak dipenuhi sampah dan bisa menimbulkan bencana seperti banjir.

Namun, masalah ini tidak adil jika yang disalahkan hanya masyarakat saja. Warga tersebut juga mengatakan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan kesadaran masyarakat. Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga perlu menyediakan tempat sampah dan rutin memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena masyarakat akan kesulitan membuang sampah dengan benar jika tempat sampahnya tidak tersedia.

Baca Juga :  Pentingnya Itikad Baik dalam Pelaksanaan Perjanjian di Indonesia

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pandeglang, Rahmat Zultika, juga mengakui masih ada beberapa masalah yang belum ditangani. Ia menyebutkan masih ada warga yang belum mendapat layanan persampahan dan tidak termasuk dalam warga yang membayar biaya pelayanan sampah, sehingga masih ada yang membuang sampah sembarangan. Ini menunjukkan bahwa pelayanan persampahan dari pemerintah masih perlu diperbaiki. Langkah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membuat surat edaran kepada para camat untuk ikut mengedukasi masyarakat tentu sudah baik. Namun, hal itu perlu disertai dengan penyediaan tempat sampah, jadwal pengangkutan yang jelas, dan pengawasan di lapangan agar masalah sampah tidak terus terjadi.

Baca Juga :  Opini Sumpah Pemuda

Menurut saya, membersihkan tumpukan sampah saja belum cukup untuk menyelesaikan masalah dalam jangka panjang. Kalau sistem pengelolaannya tidak diperbaiki dan masih ada warga yang membuang sampah sembarangan atau membuang di tempat yang sama, sampah akan kembali menumpuk. Karena itu, kegiatan bersih-bersih perlu disertai dengan edukasi kepada masyarakat dan pelayanan sampah yang bisa menjangkau semua warga.

Jadi, kesadaran masyarakat dan tanggung jawab pemerintah itu harus berjalan bersama. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, sementara pemerintah perlu menyediakan fasilitas dan memberikan edukasi yang cukup. Kalau salah satunya tidak berjalan, kawasan Carita akan tetap terlihat kotor dan bisa memengaruhi citra wisatanya. Padahal, kebersihan bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga berkaitan dengan kenyamanan wisatawan dan penghasilan masyarakat sekitar. ***

Berita Terkait

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil
Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang
Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?
Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?
Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?
Ketika Suara Mahasiswa Turun ke Jalan: Opini Publik dan Konflik Sosial di Banten
Banten di Peringkat Ketiga Pengangguran: Apa yang Salah dengan Lapangan Kerja?
Jembatan Delapan Meter dan Pelajaran Besar tentang Gotong Royong

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 10:24 WIB

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil

Rabu, 30 September 2026 - 10:23 WIB

Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang

Rabu, 30 September 2026 - 10:22 WIB

Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?

Rabu, 30 September 2026 - 10:21 WIB

Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?

Rabu, 30 September 2026 - 10:18 WIB

Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?

Berita Terbaru