[BANTENESIA.NET] – Di tengah gempuran Tren Flexing di media sosial dan kemudahan akses pinjaman online serta fitur Paylater, Program Studi (Prodi) Manajemen Universitas Pamulang (Unpam) Serang mengambil langkah konkret untuk mengedukasi para mahasiswa.
Rabu, 10 Juni 2026, di Aula Kampus Unpam Serang menjadi saksi digelarnya seminar nasional bertajuk “Membangun Resiliensi Finansial dalam Menghadapi Inflasi Gaya Hidup dan Jebakan Konsumerisme Digital.”
Acara ini dihadiri oleh tiga ribu dua ratus empat puluh mahasiswa yang terbagi mengikuti secara Daring maupun luring, mereka tampak antusias memadati ruangan sejak pagi hari.
Ketua Panitia Kegiatan, Septian Aris Munandar dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema seminar ini diusung dengan keyakinan bahwa literasi keuangan merupakan salah satu bekal terpenting bagi generasi muda ditengah derasnya arus konsumerisme digital yang kian mengancam kesehatan finansial.

Menurutnya, kemudahan transaksi digital saat ini jika tidak dibarengi dengan literasi keuangan yang mumpuni, teknologi justru akan menjerumuskan mahasiswa ke dalam pusaran utang konsumtif dan ketidakstabilan finansial di masa depan.
“Kita melihat realita di mana standar gaya hidup bergeser karena paparan media sosial. Inflasi gaya hidup atau Lifestyle Creep terjadi tanpa disadari, saat penghasilan atau uang saku meningkat, pengeluaran pun ikut melonjak demi gengsi,” ujar Septian Aris Munandar di hadapan para peserta.
Ia menegaskan bahwa UNPAM Serang berkomitmen untuk terus membekali mahasiswanya dengan ilmu praktis yang relevan dengan tantangan zaman, bukan sekadar teori di dalam kelas.
Untuk mengupas tuntas fenomena ini, panitia menghadirkan sosok yang sudah tidak asing lagi di dunia keuangan nasional, yaitu Rivan Kurniawan.
Beliau merupakan seorang praktisi pasar modal, investor, sekaligus pengamat finansial terkemuka. Kehadiran Rivan disambut tepuk tangan riuh dari para peserta yang sudah tidak sabar menantikan strategi jitu dalam mengelola keuangan di era digital yang serba instan ini.
Mengawali materinya, Rivan Kurniawan langsung menyoroti bagaimana algoritma media sosial dan E-Commerce dirancang untuk menciptakan kebutuhan semu. Praktisi pasar modal ini memaparkan istilah anatomi bocor halus, sabotase psikologis, paylater, terciptanya siklus Rat Race, yang dirangkum menjadi “jebakan konsumerisme digital”, di mana iklan yang personal dan diskon manipulatif terus membayangi pengguna gawai.

Tanpa fondasi resiliensi atau ketahanan finansial yang kuat, seseorang akan dengan mudah terjebak dalam siklus membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
“Resiliensi finansial bukan berarti kita hidup dalam kefakiran atau pelit pada diri sendiri. Ini adalah kemampuan untuk beradaptasi, bertahan, dan tetap tumbuh secara finansial di tengah tekanan eksternal, termasuk godaan digital,” jelas Rivan secara lugas.
Lebih lanjut, Rivan membagikan formula praktis mengenai alokasi keuangan yang sehat. Ia menekankan pentingnya memprioritaskan smart investing dan generasi muda harus belajar memiliki fundamental analysis di awal waktu, sehingga memiliki pemahaman mengenai risk management yang mumpuni dalam mengambil suatu keputusan mengelola keuangan.
Sebagai praktisi pasar modal, ia juga memperkenalkan instrumen investasi yang aman dan cocok bagi kantong mahasiswa, seperti reksa dana dan saham perusahaan yang memiliki fundamental kokoh, sebagai alat untuk melawan inflasi yang sesungguhnya.
Suasana seminar semakin hidup saat memasuki sesi tanya jawab. Banyak mahasiswa yang mencurahkan keluh kesahnya mengenai sulitnya menahan diri dari godaan Check-Out keranjang belanja online dan tekanan teman sebaya (Peer Pressure).
Rivan menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang realistis dan jenaka, sembari memberikan tips psikologis untuk menjeda diri selama 24 jam sebelum memutuskan membeli barang konsumtif.
Rektor dan jajaran Direktorat beserta tamu undangan dengan segenap dosen Prodi Manajemen Unpam Serang yang turut hadir memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara ini.
Mereka berharap seminar ini menjadi titik balik bagi mahasiswa untuk mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif. Resiliensi finansial yang ditanamkan sejak bangku kuliah diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mapan dan bijak secara finansial. ***





![(Foto: NET]](https://bantenesia.net/wp-content/uploads/2026/06/IMG_5829-225x129.jpeg)

