Penulis: FEBRIANAH
251090200415
febrianah17@gmail.com
(Program Studi Sarjana Hukum UNPAM Cabang Serang-Banten)
[BANTENESIA.NET] – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya bagi Generasi Z. Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh global, nilai-nilai Pancasila dinilai menghadapi tantangan baru yang semakin kompleks. Namun di balik tantangan tersebut, Generasi Z justru disebut memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak penguatan ideologi bangsa di era modern.
Hal tersebut terungkap dalam penelitian karya Febrianah, mahasiswa Program Studi Sarjana Hukum Universitas Pamulang Cabang Serang-Banten, melalui jurnal berjudul “Dinamika Perkembangan Pancasila di Era Modern Generasi Z.”
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh bersama kemajuan teknologi digital. Mereka dikenal adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap informasi global, dan aktif menggunakan media sosial dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Kondisi ini menciptakan peluang sekaligus tantangan dalam menginternalisasi nilai-nilai Pancasila.
“Media sosial, platform edukasi, dan komunitas digital dapat menjadi sarana efektif dalam menyebarkan nilai-nilai kebangsaan secara luas dan menarik,” tulis Febrianah dalam jurnal penelitiannya.
Penelitian itu juga menyoroti munculnya berbagai konten edukatif di media sosial yang mengangkat pesan toleransi, gotong royong, persatuan, hingga kampanye anti-perundungan. Banyak kreator muda dinilai berhasil menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dengan pendekatan yang lebih kreatif dan mudah diterima oleh sesama generasi muda.
Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan ancaman serius terhadap kehidupan sosial masyarakat. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, hingga konflik terkait isu SARA menjadi tantangan nyata yang dapat mengikis nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dalam penelitian tersebut, sebagian besar Generasi Z sebenarnya telah memahami nilai dasar Pancasila dengan cukup baik. Akan tetapi, implementasi dalam kehidupan nyata, khususnya di media sosial, masih belum maksimal.
Fenomena perdebatan di media sosial yang berujung konflik menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman teoritis dan praktik nyata nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Rendahnya literasi digital juga dinilai menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut.
Penelitian ini turut menjelaskan perjalanan perkembangan Pancasila sejak era Reformasi hingga era digital saat ini. Setelah sempat mengalami penurunan internalisasi pasca Reformasi 1998, pemerintah mulai memperkuat kembali pendidikan karakter berbasis Pancasila, termasuk melalui pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Febrianah menilai bahwa keberhasilan mempertahankan nilai-nilai Pancasila di masa depan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat, khususnya Generasi Z, dalam memanfaatkan teknologi digital secara bijak dan bertanggung jawab.
Melalui penelitian tersebut, Generasi Z dipandang bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi serta relevansi Pancasila di tengah perkembangan zaman modern.
Dukungan dari keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat luas pun dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital agar nilai-nilai Pancasila dapat terus hidup di tengah generasi muda Indonesia. ***







