[BANTENESIA.NET] – Organisasi Pengrajin Tahu dan Tempe Indonesia (KOPTI) Cabang Banten selalu siap mendukung kebijakan pemerintah dan kelancaran produksi para pengrajin tahu dan tempe di daerah ini. Namun, ada kekhawatiran serius yang sedang menghantui industri tahu dan tempe Banten.
Pantauan terbaru kami mengungkapkan bahwa stok kedelai impor, yang merupakan bahan utama produksi tahu dan tempe, masih terbilang aman hingga akhir tahun 2023. Meskipun demikian, harga kedelai impor belakangan ini menjadi perhatian utama. Setiap harinya atau dalam kurun waktu tiga hari, harga kedelai impor per kilogramnya cenderung naik signifikan, dengan kenaikan mencapai Rp. 50 hingga Rp. 100 per kilogram.
KOPTI Banten, yang berdiri sejak tahun 2013, awalnya beroperasi secara pasif. Namun, dengan adanya bantuan subsidi kedelai impor dari pemerintah, organisasi ini mulai aktif untuk mendukung para pengrajin tahu dan tempe di Banten. Saat ini, KOPTI Banten memiliki sekitar 1.901 tenaga kerja terdaftar dan 1.552 pengrajin tahu dan tempe yang terdaftar.
Selaku ketua Puskopti Banten, Yoni AT, mengungkapkan, “Harapan kami adalah agar pasokan kedelai selalu terpenuhi, dan kami meminta pemerintah untuk meningkatkan pasokan kedelai impor kepada kami pada tahun 2024. Kami berharap agar kenaikan harga tidak terlalu signifikan, mengingat pengalaman buruk pada tahun 2022 yang memicu mogok massal produksi tahu dan tempe di seluruh Indonesia karena harga kedelai mencapai lebih dari Rp. 12.000 per kilogram,” kepada Media, Senin (25/9/2023).
Saat ini, harga kedelai impor di Banten mencapai Rp. 11.700 per kilogram, dan situasi di antara pengrajin tahu dan tempe cukup kondusif. Namun, dengan kebutuhan rata-rata nasional untuk produksi tahu dan tempe sekitar 3 juta ton per tahun, hanya sekitar 2 juta ton yang dapat dipenuhi.
“Harapan kami untuk tahun 2024 adalah agar pemerintah dapat memenuhi kebutuhan yang masih kurang dalam negeri, khususnya di Banten,” tambahnya dengan harapannya.
Sebagai informasi tambahan, saat ini pasokan kedelai di Banten berasal dari beberapa importir terkemuka, termasuk FKS (Merk: Bola), GCU (Merk: Hiu), ADM (Merk: Panah, Kelinci, Alfa), PT. Marunda Agrotama (Merk: Anggrek dan Merk: Segitiga), serta PT. SGR (Merk: SGR dan Merk: Cristy).
Krisis harga kedelai impor adalah isu yang harus segera ditangani oleh pemerintah, karena hal ini dapat berdampak pada kelangsungan industri tahu dan tempe yang begitu penting di Banten. KOPTI Banten dan para pengrajin berharap agar langkah-langkah konkret segera diambil untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan baku yang krusial ini. (*)








Komentar