Kebutuhan Kedelai Produksi Tahu dan Tempe Provinsi Banten Relatif Aman Sampai Desember 2023

Senin, 25 September 2023

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Puskopti Banten, Yoni AT. (Foto: Istimewa)

Ketua Puskopti Banten, Yoni AT. (Foto: Istimewa)

[BANTENESIA.NET] – Organisasi Pengrajin Tahu dan Tempe Indonesia (KOPTI) Cabang Banten selalu siap mendukung kebijakan pemerintah dan kelancaran produksi para pengrajin tahu dan tempe di daerah ini. Namun, ada kekhawatiran serius yang sedang menghantui industri tahu dan tempe Banten.

Pantauan terbaru kami mengungkapkan bahwa stok kedelai impor, yang merupakan bahan utama produksi tahu dan tempe, masih terbilang aman hingga akhir tahun 2023. Meskipun demikian, harga kedelai impor belakangan ini menjadi perhatian utama. Setiap harinya atau dalam kurun waktu tiga hari, harga kedelai impor per kilogramnya cenderung naik signifikan, dengan kenaikan mencapai Rp. 50 hingga Rp. 100 per kilogram.

Baca Juga :  Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu Berhasil Memajukan Ketahanan Pangan Nasional dan Ekonomi Lokal Melalui Seren Taun 2023

KOPTI Banten, yang berdiri sejak tahun 2013, awalnya beroperasi secara pasif. Namun, dengan adanya bantuan subsidi kedelai impor dari pemerintah, organisasi ini mulai aktif untuk mendukung para pengrajin tahu dan tempe di Banten. Saat ini, KOPTI Banten memiliki sekitar 1.901 tenaga kerja terdaftar dan 1.552 pengrajin tahu dan tempe yang terdaftar.

Selaku ketua Puskopti Banten, Yoni AT, mengungkapkan, “Harapan kami adalah agar pasokan kedelai selalu terpenuhi, dan kami meminta pemerintah untuk meningkatkan pasokan kedelai impor kepada kami pada tahun 2024. Kami berharap agar kenaikan harga tidak terlalu signifikan, mengingat pengalaman buruk pada tahun 2022 yang memicu mogok massal produksi tahu dan tempe di seluruh Indonesia karena harga kedelai mencapai lebih dari Rp. 12.000 per kilogram,” kepada Media, Senin (25/9/2023).

Baca Juga :  Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga Menurut Evaluasi OJK

Saat ini, harga kedelai impor di Banten mencapai Rp. 11.700 per kilogram, dan situasi di antara pengrajin tahu dan tempe cukup kondusif. Namun, dengan kebutuhan rata-rata nasional untuk produksi tahu dan tempe sekitar 3 juta ton per tahun, hanya sekitar 2 juta ton yang dapat dipenuhi.

“Harapan kami untuk tahun 2024 adalah agar pemerintah dapat memenuhi kebutuhan yang masih kurang dalam negeri, khususnya di Banten,” tambahnya dengan harapannya.

Baca Juga :  Pemkot Serang dan Bulog Bersinergi untuk Mengendalikan Inflasi Melalui Operasi Pasar Murah

Sebagai informasi tambahan, saat ini pasokan kedelai di Banten berasal dari beberapa importir terkemuka, termasuk FKS (Merk: Bola), GCU (Merk: Hiu), ADM (Merk: Panah, Kelinci, Alfa), PT. Marunda Agrotama (Merk: Anggrek dan Merk: Segitiga), serta PT. SGR (Merk: SGR dan Merk: Cristy).

Krisis harga kedelai impor adalah isu yang harus segera ditangani oleh pemerintah, karena hal ini dapat berdampak pada kelangsungan industri tahu dan tempe yang begitu penting di Banten. KOPTI Banten dan para pengrajin berharap agar langkah-langkah konkret segera diambil untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan baku yang krusial ini. (*)

Berita Terkait

Mahasiswa Magang UNPAM Pelajari Peran Dinas Perhubungan dalam Meningkatkan Kelancaran Arus Lalu Lintas
Mahasiswa Administrasi Negara Pelajari Penerapan SOP dalam Pelayanan Pelanggan
FERBA dan QJI 2026, Bank Indonesia Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Rupiah dan Digitalisasi Pembayaran
Polda Banten Bongkar Peredaran 44.500 Bungkus Rokok Ilegal, Tiga Orang Diamankan
OJK Luncurkan Optimalisasi SLIK Perkuat Akses Pembiayaan UMKM dan Program 3 Juta Rumah
DPRD Kabupaten Serang Dorong Percepatan Puspemkab, Penyerahan Aset ke Kota Serang Dilakukan Bertahap
MSC Season 5: Jangan Berhenti di Piala, Jadikan Investasi Karakter dan Prestasi
Swasembada Pangan di Kabupaten Serang: Kendala Irigasi, Serangan Hama & Upaya Pemerintah Menjawab Kebutuhan Petani

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 16:52

Mahasiswa Magang UNPAM Pelajari Peran Dinas Perhubungan dalam Meningkatkan Kelancaran Arus Lalu Lintas

Selasa, 14 Juli 2026 - 19:14

FERBA dan QJI 2026, Bank Indonesia Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Rupiah dan Digitalisasi Pembayaran

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:33

Polda Banten Bongkar Peredaran 44.500 Bungkus Rokok Ilegal, Tiga Orang Diamankan

Senin, 6 Juli 2026 - 21:49

OJK Luncurkan Optimalisasi SLIK Perkuat Akses Pembiayaan UMKM dan Program 3 Juta Rumah

Senin, 6 Juli 2026 - 09:01

DPRD Kabupaten Serang Dorong Percepatan Puspemkab, Penyerahan Aset ke Kota Serang Dilakukan Bertahap

Berita Terbaru

Mahasiswa Prodi Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Hukum UNPAM Serang, Chandra Wiguna Pramudiptha. (Foto: Istimewa)

OPINI

Masa Depan Lulusan Sistem Komputer di Dunia Kerja

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:52