Penulis: Anisah Murnawati
Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kampus Serang
Dosen Pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P
Ketua Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.IP., M.Sos
Bidang Kemahasiswaan: Jaka Maulana, S.A.P., M.A.P
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Pencemaran Sungai Cidurian telah menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan di Serang, Banten. Sungai ini, yang merupakan sumber kehidupan bagi banyak warga, kini tercemar oleh limbah industri dan sampah.
Hal ini berdampak negatif pada kualitas air dan kesehatan masyarakat, menciptakan rasa ketidakpastian yang mendalam di kalangan warga yang bergantung pada sungai untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Dalam pengamatan yang dilakukan, ditemukan bahwa masyarakat masih menggunakan air dari Sungai Cidurian untuk mencuci dan mandi. Ketergantungan yang tinggi terhadap sumber air yang tercemar ini menciptakan dilema, karena mayoritas masyarakat sudah menyadari adanya risiko kesehatan.
Survei menyatakan bahwa masyarakat sangat khawatir tentang dampak negatif pencemaran terhadap kesehatan mereka dan orang-orang tercinta, mencerminkan kekhawatiran yang mendalam terhadap kualitas hidup mereka.
Namun, perhatian masyarakat tidak hanya terbatas pada efek pencemaran. Banyak warga yang merasa pemerintah belum mengambil langkah yang cukup tegas dalam menangani masalah ini.
Masyarakat merasa bahwa upaya yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi pencemaran ini belum maksimal. Mereka menuntut penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pabrik-pabrik yang membuang limbah sembarangan serta implementasi kebijakan yang lebih proaktif untuk memperbaiki kondisi lingkungan. ***







