Penulis: LIA RAHMAWATI
251090200497
liarahma0406@gmail.com
(Program Studi Sarjana Hukum UNPAM Cabang Serang – Banten)
[BANTENESIA.NET] – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, Generasi Z dinilai memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila di kehidupan modern. Hal tersebut terungkap dalam sebuah penelitian karya mahasiswa Program Studi Sarjana Hukum Universitas Pamulang Cabang Serang-Banten, Lia Rahmawati.
Dalam jurnal berjudul “Dinamika Perkembangan Pancasila di Era Modern Generasi Z”, dijelaskan bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang lahir dan tumbuh di era digital dengan karakter yang adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap informasi global, serta aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian tersebut menyoroti bahwa kemajuan teknologi membawa dua sisi yang berbeda bagi perkembangan nilai-nilai kebangsaan. Di satu sisi, media sosial menjadi ruang kreatif bagi generasi muda untuk menyebarkan pesan toleransi, persatuan, gotong royong, hingga kampanye anti-perundungan melalui berbagai konten edukatif dan inovatif.
“Generasi Z memiliki potensi besar dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila secara lebih kreatif dan inovatif melalui pemanfaatan teknologi digital,” tulis Lia Rahmawati dalam penelitiannya.
Namun di sisi lain, perkembangan dunia digital juga menghadirkan tantangan serius. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, hingga konflik isu SARA di media sosial menjadi ancaman nyata yang dapat mengikis nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dalam penelitian tersebut, sebagian besar Generasi Z sebenarnya telah memahami nilai dasar Pancasila dengan cukup baik. Akan tetapi, pemahaman tersebut masih banyak bersifat teoritis dan belum sepenuhnya diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, terutama di ruang digital.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya literasi digital sebagai upaya membangun kesadaran generasi muda agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Rendahnya kemampuan menyaring informasi dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai konflik dan penyebaran konten negatif di internet.
Selain itu, penelitian turut menjelaskan perjalanan perkembangan Pancasila dari masa Reformasi hingga era digital saat ini. Setelah sempat mengalami penurunan internalisasi pasca Reformasi 1998, pemerintah mulai kembali memperkuat pendidikan karakter berbasis Pancasila, termasuk melalui pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Menurut Lia Rahmawati, keberhasilan menjaga eksistensi Pancasila di masa depan sangat bergantung pada kemampuan bangsa dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.
Melalui penelitian ini, Generasi Z dinilai bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memiliki potensi besar dalam menjaga relevansi Pancasila di era modern. Dukungan dari pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat pun menjadi faktor penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas secara digital sekaligus kuat dalam karakter kebangsaan. ***







