[BANTENESIA.NET] – Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghasilkan kesimpulan bahwa sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil, diperkuat oleh permodalan yang kuat dan likuiditas yang mencukupi. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi global dan ketidakpastian yang terus berlangsung.
Menurut OJK, indikator terkini menunjukkan adanya ketidakpastian di pasar global, tetapi tingkat inflasi yang membaik, terutama di negara advanced economies, memberikan dukungan positif. Sentimen positif juga muncul di pasar keuangan dengan meningkatnya ekspektasi mengenai berakhirnya siklus kenaikan suku bunga global.
Peluncuran insentif fiskal, moneter, dan dukungan sektor keuangan di Tiongkok diharapkan dapat meredakan penurunan kinerja ekonomi global, termasuk mengatasi masalah di sektor properti. Sementara tensi geopolitik global meningkat, dampaknya terhadap harga minyak dan energi masih terbatas, mengingat tren pelemahan permintaan yang masih berlanjut.
Di tingkat domestik, pertumbuhan PDB Q3 2023 mencapai 4,94 persen yoy, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tinggi dan investasi bangunan. Tingkat inflasi tetap rendah, sementara ekspor masih mengalami kontraksi. Meskipun demikian, indikator perekonomian nasional, seperti neraca perdagangan surplus, konsumsi semen domestik yang meningkat, dan PMI Manufaktur yang masih ekspansif, memberikan optimisme.
OJK menekankan perlunya pemantauan dan kewaspadaan terhadap potensi risiko di tengah ketidakpastian global. Lembaga Jasa Keuangan (LJK) didorong untuk terus melakukan stress test dan strategi mitigasi risiko guna menjaga stabilitas permodalan dan likuiditas sektor jasa keuangan. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi optimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun tantangan global masih tinggi. (*)







