Ghina Raudatul Jannah
Mahasiswi Manajemen UNPAM Serang
[BANTENESIA.NET], KOTA SERANG – Di tahun 2025, dinamika kepemimpinan mengalami perubahan signifikan seiring pesatnya perkembangan teknologi, arus informasi, dan tuntutan global yang semakin kompleks.
Pemimpin masa kini tidak hanya dituntut mampu beradaptasi, tetapi juga memiliki visi yang jelas dan komitmen moral yang kuat. Oleh karena itu, menurut saya kegiatan Latihan Kepemimpinan 2 (LK2) dengan tema ‘Membentuk Pemimpin yang Visioner dan Berintegritas’ menjadi sangat penting sebagai wadah pembentukan karakter dan kapasitas kepemimpinan generasi muda.
Dalam konteks ini, LK2 tidak hanya membangun kemampuan berpikir strategis, tetapi juga menanamkan keberanian untuk menjaga nilai-nilai kebenaran di tengah godaan dunia modern. Pemimpin yang visioner dapat melihat jauh ke depan, sementara pemimpin yang berintegritas mampu menjaga kepercayaan, dua unsur yang sangat dibutuhkan saat ini.
Jika melihat situasi kepemimpinan pada 2025, banyak organisasi menghadapi tantangan seperti kurangnya transparansi, minimnya kemampuan komunikasi strategis, dan lemahnya etika dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain, generasi muda sebagai calon pemimpin sering kali terjebak pada budaya instan yang memprioritaskan citra daripada substansi.
Menurut saya, inilah yang membuat LK2 begitu relevan: kegiatan ini memberikan ruang bagi peserta untuk memahami bagaimana memimpin dengan pondasi nilai moral, bukan sekadar mengikuti tren. Peserta diajak untuk menganalisis persoalan jangka panjang, mengembangkan visi organisasi, dan belajar mengambil keputusan yang berpihak pada kebenaran meskipun tidak populer.
Melalui pembelajaran ini, LK2 membantu membentuk pemimpin yang tidak hanya reaktif, tetapi proaktif dan mampu memetakan arah masa depan.
Salah satu kegiatan penting dalam LK2 adalah teknik persidangan, sebuah materi yang menurut saya sangat berpengaruh dalam membentuk pemimpin yang berintegritas dan sistematis.
Dalam kegiatan teknik sidang, peserta diajarkan bagaimana proses persidangan berlangsung dalam organisasi, mulai dari penyusunan aturan sidang, tata cara berbicara, mekanisme pengambilan keputusan, hingga etika berpendapat.
Teknik sidang melatih peserta untuk berpikir kritis, menghargai pendapat orang lain, serta memahami bahwa keputusan organisasi harus diambil secara terstruktur dan objektif.
Bayangkan seorang pemimpin yang memiliki visi besar, tetapi tidak memahami cara menyampaikan pendapatnya dengan benar atau bagaimana memimpin jalannya rapat, maka visi tersebut sulit diwujudkan. Menurut saya, kegiatan teknik persidangan adalah fondasi penting agar pemimpin masa depan mampu memimpin forum secara adil, efektif, dan profesional.
Di sinilah integritas diuji: keberanian untuk taat pada aturan, menghargai demokrasi organisasi, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, menurut saya LK2 dengan tema ‘Membentuk Pemimpin yang Visioner dan Berintegritas’ adalah investasi penting untuk masa depan organisasi maupun masyarakat luas.
Melalui perpaduan antara pembentukan visi, penguatan karakter, dan pembelajaran teknis seperti teknik sidang, kegiatan ini berhasil menghubungkan konsep kepemimpinan modern dengan praktik nyata yang dibutuhkan di lapangan.
Pemimpin yang visioner mampu membawa arah yang jelas, sementara pemimpin berintegritas menjaga proses agar tetap bersih dan adil.
Jika kegiatan seperti LK2 terus dikembangkan, saya yakin generasi muda akan tumbuh menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan komitmen tinggi terhadap kebenaran.
LK2 bukan sekadar pelatihan, tetapi jembatan menuju lahirnya pemimpin masa depan yang mampu membawa perubahan positif dan berkelanjutan. ***







