[BANTENESIA.NET] — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Banten menegaskan komitmen mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan melalui pengembangan wilayah Banten Selatan.
Fokus penguatan diarahkan pada pembangunan infrastruktur strategis, peningkatan investasi di sektor pertanian modern, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BI Banten, Ameriza M Moesa, dalam Forum Ekonomi Banten 2025, Selasa (9/12/2025) yang digelar di salah satu Hotel di Kota Serang, yang turut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Banten, Kementerian, Akademisi, Asosiasi Bisnis, dan Pelaku Usaha.
Dalam laporannya, BI mengungkapkan kinerja ekonomi Banten terus menunjukkan ketahanan.

Pada Triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,29% (YoY), lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,04% (YoY) dan regional Jawa 5,17% (YoY). Banten juga menjadi salah satu provinsi dengan kontribusi besar terhadap ekonomi nasional sebesar 3,87%.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat selama musim liburan, investasi besar di bidang industri dan infrastruktur, serta peningkatan ekspor komoditas besi-baja, farmasi, plastik, hingga makanan-minuman olahan.
Meski pertumbuhan melaju positif, BI menyoroti ketimpangan pembangunan antara Banten Utara dan Banten Selatan.
Selama 2025, 98,1% investasi Banten masuk ke Banten Utara, sementara Banten Selatan hanya memperoleh 1,9%.
Padahal, Lebak dan Pandeglang memiliki kekayaan alam dan budaya yang berpotensi menjadi sumber ekonomi baru. Mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon, Pantai Sawarna, Geopark Bayah Dome, hingga budaya Baduy yang dikenal dunia.
Namun wilayah ini masih terhambat oleh masalah mendasar seperti keterbatasan infrastruktur, tingginya angka kemiskinan, pengangguran, akses pasar pertanian yang dikuasai tengkulak, serta minimnya hilirisasi hasil tani.
BI menilai dua sektor ini mampu menyerap tenaga kerja besar dan memberi dampak luas (Trickle-Down Effect), terutama bagi masyarakat kecil.

“Sektor pertanian dan pariwisata dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tegas Ameriza dalam forum.
Untuk itu, BI mendorong:
-
Pembangunan infrastruktur jalan, utilitas publik, dan konektivitas menuju destinasi wisata.
-
Modernisasi pertanian melalui irigasi teknis, benih unggul, teknologi, dan hilirisasi hasil tani.
-
Kemitraan investor dengan UMKM lokal agar masyarakat tidak hanya jadi penonton.
Selain pertumbuhan ekonomi, kinerja pengendalian inflasi Banten juga dinilai sukses. Hingga akhir 2025, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam target 2,5±1%.
Sementara itu, transformasi digital menunjukkan perkembangan pesat. Pengguna QRIS menembus 3,2 juta pengguna, dengan transaksi mencapai Rp68,8 triliun hingga September 2025. Banten pun dinobatkan sebagai provinsi peringkat kelima terbesar untuk penggunaan QRIS di Indonesia.
BI mendorong penguatan sinergi lintas instansi untuk mendukung pembangunan wilayah Banten Selatan. Fokus kebijakan daerah diarahkan untuk:

✔ Optimalisasi potensi pertanian dan pariwisata.
✔ Percepatan belanja daerah terutama infrastruktur penopang investasi.
✔ Penguatan GNPIP untuk stabilitas harga pangan.
✔ Reformasi struktural memperkuat daya saing daerah.
BI berharap forum ini menjadi tonggak kolaborasi baru antara pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat untuk mewujudkan pembangunan merata di Banten.
“Semoga forum ini menjadi fondasi pengembangan Banten yang maju dan sejahtera,” tutup Ameriza. (Pou)







