Asap yang Mengaburkan Masa Depan

- Redaktur

Selasa, 3 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Drg. Pebriant Damayanti, Mahasiswi S2 Ilmu kesehatan masyarakat universitas indonesia maju. ISTIMEWA

Drg. Pebriant Damayanti, Mahasiswi S2 Ilmu kesehatan masyarakat universitas indonesia maju. ISTIMEWA

BANTENESIA.NET – Di sudut warung kecil, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berdiri memandangi etalase kaca. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lusuh. Tidak lama kemudian, ia membawa sebungkus rokok, barang yang ia beli dengan mudah, tanpa hambatan. Di rumah, ibunya mengomel karena batuknya yang tak kunjung sembuh, sementara ayahnya duduk di teras, juga dengan rokok di tangan.

Ini bukan cerita yang jarang terjadi di Indonesia. Anak-anak kita, generasi penerus bangsa, semakin akrab dengan asap rokok. Mereka bukan hanya menjadi korban pasif, tetapi juga target dari industri yang haus keuntungan. Dengan harga rokok yang murah, anak-anak dan remaja menjadi pelanggan baru yang mudah dijangkau. Rokok, yang seharusnya sulit diakses, kini bahkan lebih murah dari secangkir kopi kekinian.

Baca Juga :  Ribuan Emak-emak Padati Stadion Maulana Yusuf dalam Lomba Senam Massal ASIK

Rokok telah lama menjadi masalah besar di Indonesia, tetapi kita seolah enggan menghadapi kenyataan ini. Data menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan negara untuk mengobati penyakit akibat rokok mencapai Rp400 triliun per tahun, sementara pendapatan dari cukai hanya sekitar Rp200 triliun. Artinya, untuk setiap rupiah yang dihasilkan dari cukai, negara kehilangan dua kali lipat untuk menambal kerusakan yang ditimbulkannya.

Namun, kerugian ini tidak hanya dihitung dari segi ekonomi. Ada harga yang jauh lebih mahal: kesehatan dan nyawa manusia. Setiap tahun, lebih dari 225 ribu orang meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah orang tua, saudara, dan teman kita yang kehilangan masa depan karena rokok.

Kita tahu bahwa menaikkan cukai rokok bisa menjadi solusi. Negara-negara seperti Australia telah membuktikan bahwa kenaikan harga rokok dapat secara signifikan menurunkan prevalensi merokok. Tetapi mengapa Indonesia masih ragu? Tren kenaikan cukai rokok selama ini terlalu kecil, hanya sekitar 10-12% per tahun. Bahkan ada tahun-tahun di mana tidak ada kenaikan sama sekali. Langkah ini jelas tidak cukup untuk mengatasi masalah sebesar ini.

Baca Juga :  Kota Serang Meriahkan Hari Kontrasepsi Sedunia dengan Gebyar Pelayanan Keluarga Berencana

Kritik terhadap kenaikan cukai sering kali datang dengan narasi tentang nasib petani tembakau. Namun, kenyataannya, banyak petani tetap hidup dalam kemiskinan meskipun industri rokok tumbuh pesat. Sistem tata niaga yang tidak adil dan ketergantungan pada impor tembakau telah membuat petani lokal semakin terpinggirkan. Jika benar-benar peduli pada petani, diversifikasi tanaman seperti kopi atau hortikultura harus segera digalakkan.

Langkah berikutnya adalah memastikan hasil cukai digunakan dengan tepat. Program kesehatan seperti Jaminan Kesehatan Nasional, pengendalian stunting, atau kampanye antirokok harus mendapat alokasi dana lebih besar. Saat ini, hanya 3% dari pendapatan cukai yang dialokasikan untuk kesehatan. Ini angka yang terlalu kecil untuk masalah sebesar ini.

Baca Juga :  Sebanyak 54 Anak di Cilegon Ikuti Khitanan Massal

Asap rokok tidak hanya merusak paru-paru, tetapi juga masa depan bangsa. Kita tidak bisa terus membiarkan ini terjadi. Kenaikan cukai rokok yang signifikan adalah langkah kecil yang dapat membawa perubahan besar. Ini bukan hanya tentang melindungi kesehatan, tetapi juga menyelamatkan generasi mendatang dari siklus yang sama.

Saatnya bertindak. Bukan untuk diri kita, tetapi untuk anak-anak yang hari ini berdiri di depan etalase, memilih rokok sebagai bagian dari hidup mereka. Kita bisa mengubah cerita mereka—dan masa depan bangsa ini. (***)

Berita Terkait

Siap Kembali Digelar ‘Run for Vision 2026’, RS Mata Achmad Wardi Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Mata
Sinergi Tingkatkan Kesehatan Masyarakat, Dinkes Pandeglang Kokohkan Peran Posyandu Lewat Rakor
New Posyandu Kini Lebih Modern dan Responsif: TP PKK Banten Tinjau Posyandu Teri 3 di Kelurahan Taman Baru
Aston Hotels Gelar Donor Darah: Wujud Nyata Dukungan Kesehatan Masyarakat
Polda Banten Luncurkan Program Pemberian Makan Siang Bergizi untuk Pelajar SD, Dukung Asta Cita Presiden
DP3AP2KB Kota Cilegon Targetkan 4.215 Akseptor KB
Ratu Zakiyah – Najib Jalani Tes Kesehatan untuk Pencalonan Bupati Serang di RSUD Banten
Ribuan Emak-emak Padati Stadion Maulana Yusuf dalam Lomba Senam Massal ASIK
Berita ini 33 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 11:51 WIB

Siap Kembali Digelar ‘Run for Vision 2026’, RS Mata Achmad Wardi Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Mata

Rabu, 21 Mei 2025 - 20:37 WIB

Sinergi Tingkatkan Kesehatan Masyarakat, Dinkes Pandeglang Kokohkan Peran Posyandu Lewat Rakor

Sabtu, 10 Mei 2025 - 14:04 WIB

New Posyandu Kini Lebih Modern dan Responsif: TP PKK Banten Tinjau Posyandu Teri 3 di Kelurahan Taman Baru

Senin, 10 Februari 2025 - 15:11 WIB

Aston Hotels Gelar Donor Darah: Wujud Nyata Dukungan Kesehatan Masyarakat

Selasa, 3 Desember 2024 - 21:12 WIB

Asap yang Mengaburkan Masa Depan

Berita Terbaru

Asia Road Racing Championship (ARRC) 2026. (Foto: Istimewa)

Otomotif

Aksi Kencang Pebalap Astra Honda Taklukkan Podium ARRC Sepang

Senin, 13 Apr 2026 - 10:30 WIB

Basreng IRIE - Le Marley. (Foto: Istimewa)

Cerita

Basreng IRIE: Cara Unik Le Marley Jual Musik Lewat Camilan

Minggu, 12 Apr 2026 - 09:01 WIB