BANTENESIA.NET – Di sudut warung kecil, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berdiri memandangi etalase kaca. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lusuh. Tidak lama kemudian, ia membawa sebungkus rokok, barang yang ia beli dengan mudah, tanpa hambatan. Di rumah, ibunya mengomel karena batuknya yang tak kunjung sembuh, sementara ayahnya duduk di teras, juga dengan rokok di tangan.
Ini bukan cerita yang jarang terjadi di Indonesia. Anak-anak kita, generasi penerus bangsa, semakin akrab dengan asap rokok. Mereka bukan hanya menjadi korban pasif, tetapi juga target dari industri yang haus keuntungan. Dengan harga rokok yang murah, anak-anak dan remaja menjadi pelanggan baru yang mudah dijangkau. Rokok, yang seharusnya sulit diakses, kini bahkan lebih murah dari secangkir kopi kekinian.
Rokok telah lama menjadi masalah besar di Indonesia, tetapi kita seolah enggan menghadapi kenyataan ini. Data menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan negara untuk mengobati penyakit akibat rokok mencapai Rp400 triliun per tahun, sementara pendapatan dari cukai hanya sekitar Rp200 triliun. Artinya, untuk setiap rupiah yang dihasilkan dari cukai, negara kehilangan dua kali lipat untuk menambal kerusakan yang ditimbulkannya.
Namun, kerugian ini tidak hanya dihitung dari segi ekonomi. Ada harga yang jauh lebih mahal: kesehatan dan nyawa manusia. Setiap tahun, lebih dari 225 ribu orang meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah orang tua, saudara, dan teman kita yang kehilangan masa depan karena rokok.
Kita tahu bahwa menaikkan cukai rokok bisa menjadi solusi. Negara-negara seperti Australia telah membuktikan bahwa kenaikan harga rokok dapat secara signifikan menurunkan prevalensi merokok. Tetapi mengapa Indonesia masih ragu? Tren kenaikan cukai rokok selama ini terlalu kecil, hanya sekitar 10-12% per tahun. Bahkan ada tahun-tahun di mana tidak ada kenaikan sama sekali. Langkah ini jelas tidak cukup untuk mengatasi masalah sebesar ini.
Kritik terhadap kenaikan cukai sering kali datang dengan narasi tentang nasib petani tembakau. Namun, kenyataannya, banyak petani tetap hidup dalam kemiskinan meskipun industri rokok tumbuh pesat. Sistem tata niaga yang tidak adil dan ketergantungan pada impor tembakau telah membuat petani lokal semakin terpinggirkan. Jika benar-benar peduli pada petani, diversifikasi tanaman seperti kopi atau hortikultura harus segera digalakkan.
Langkah berikutnya adalah memastikan hasil cukai digunakan dengan tepat. Program kesehatan seperti Jaminan Kesehatan Nasional, pengendalian stunting, atau kampanye antirokok harus mendapat alokasi dana lebih besar. Saat ini, hanya 3% dari pendapatan cukai yang dialokasikan untuk kesehatan. Ini angka yang terlalu kecil untuk masalah sebesar ini.
Asap rokok tidak hanya merusak paru-paru, tetapi juga masa depan bangsa. Kita tidak bisa terus membiarkan ini terjadi. Kenaikan cukai rokok yang signifikan adalah langkah kecil yang dapat membawa perubahan besar. Ini bukan hanya tentang melindungi kesehatan, tetapi juga menyelamatkan generasi mendatang dari siklus yang sama.
Saatnya bertindak. Bukan untuk diri kita, tetapi untuk anak-anak yang hari ini berdiri di depan etalase, memilih rokok sebagai bagian dari hidup mereka. Kita bisa mengubah cerita mereka—dan masa depan bangsa ini. (***)







