Jejak Budaya, Ekonomi Kreatif, dan Kolonialisme: Petualangan Media Menelusuri Jantung Yogyakarta

- Redaktur

Jumat, 12 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Telusur Jejak Budaya Yogyakarta, Dari Pecinan Ketandan hingga Kreativitas DAGADU. (Foto: Istimewa)

Telusur Jejak Budaya Yogyakarta, Dari Pecinan Ketandan hingga Kreativitas DAGADU. (Foto: Istimewa)

[BANTENESIA.NET], YOGYAKARTA – Kabut pagi dan panorama hijau mengantar perjalanan rombongan awak media menuju Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah yang kerap disebut sebagai ‘Gudang Sejarah’ nusantara. Setelah enam jam perjalanan darat, para peserta disambut pemandangan arsitektur kolonial di sebuah stasiun tua—jejak peninggalan Hindia-Belanda yang masih kokoh berdiri di tengah denyut modernitas.

Tiba di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yogyakarta, bangunan megah yang prasastinya ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono, rombongan disambut layaknya tamu kerajaan. Senyum ramah panitia menjadi prolog sebelum materi sejarah budaya dan jurnalisme ekonomi disampaikan langsung oleh pejabat OJK dan seniman lokal. Pemaparan itu menjadi pelepas lelah perjalanan panjang, membuka wawasan tentang keterkaitan antara peradaban, ekonomi kreatif, dan kerja jurnalistik.

Kampoeng Ketandan: Pecinan Tua yang Hidup di Balik Gemerlap Malioboro. (Foto: Bantenesia)

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan paling padat wisata, Teras Malioboro, yang kini tampil modern dan artistik. Namun beberapa langkah dari keramaian, terdapat sebuah kampung tua dengan nuansa berbeda: Kampoeng Ketandan, permukiman pecinan yang menyimpan memori panjang akulturasi Tionghoa–Jawa.

Baca Juga :  Hari Batik Nasional 2026, Adde Rosi Dorong Generasi Muda Kenalkan Batik Lewat Kreativitas Digital

Di gang sempit yang dihiasi bangunan cagar budaya, deretan toko emas berdiri rapat—sekitar 50 toko, sebagian telah berusia puluhan tahun. Warga setempat, Joko Lelono, menyebut lingkungannya aman meski ramai pengunjung.

“Motor ditaruh di luar juga aman. Tidak ada yang hilang,” ujarnya sambil menyeruput kopi dan menikmati gorengan di lapak kecilnya yang bertuliskan tiga aksara Tionghoa: 福 (rezeki), 祝福 (berkah), 万岁 (panjang umur).

Ketandan dihuni sekitar 400 kepala keluarga, mayoritas keturunan Tionghoa penganut Kristen Protestan. Tradisi altar keluarga, perayaan Imlek, hingga bangunan peninggalan tokoh Tan Jin Sing menjadikannya “arsip hidup” sejarah urban Yogyakarta.

Baca Juga :  Rayakan Tahun Baru Imlek 2025 dengan Promosi Eksklusif di ASTON Hotels Banten
Cokelat Monggo: Dari Petani Kakao ke Produk Kelas Wisata Dunia. (Foto: Bantenesia)

Menjelang siang, rombongan menuju Pabrik Cokelat Monggo di Kotagede. Aroma kakao panggang menyambut peserta ketika memasuki rumah produksi berwarna cokelat tua. Tedi, pemandu yang humoris, memaparkan proses pengolahan kakao dari petani lokal hingga menjadi produk siap ekspor.

Peserta dipandu menyusuri jalur produksi—mulai dari penyortiran, penghalusan, hingga tempering—sebelum akhirnya mencicipi cokelat yang baru selesai dipanggang. Inovasi kemasan ramah lingkungan menjadi nilai tambah Monggo di pasar global.

DAGADU: Satire Cerdas yang Menjadi Ikon Yogyakarta. (Foto: Bantenesia)

Perjalanan dilanjutkan ke store DAGADU, salah satu ikon industri kreatif Jogja sejak berdiri pada 1994. Berawal dari ruko kecil, kini merek ini menjadi jaringan besar dengan filosofi ‘Smart Smile Djokdja‘.

Nama DAGADU, berarti ‘Matamu’ dalam bahasa Jawa, menjadi simbol satir khas Jogja: jenaka, kritis, dan relevan dengan fenomena sosial. Desain kaus yang selalu berganti tiap bulan memperkuat posisi DAGADU sebagai brand lokal yang tak sekadar menjual produk, tetapi cerita dan identitas budaya.

Baca Juga :  Rachmat dan Putri Adelia Dinobatkan Sebagai Putra Putri Banten 2024

Tiga titik perjalanan—Kampoeng Ketandan, Cokelat Monggo, dan DAGADU—menjadi gambaran utuh bagaimana Yogyakarta mempertahankan identitas kultural di tengah modernisasi.

  • Ketandan menyimpan memori sejarah dan akulturasi Tionghoa–Jawa.

  • Cokelat Monggo menunjukkan rantai ekonomi lokal yang mengangkat petani kakao menuju pasar global.

  • DAGADU membuktikan kreativitas mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus spirit kebanggaan daerah.

Yogyakarta tidak hanya tumbuh sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup budaya yang menggerakkan ekonomi lewat warisan, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap sejarah.

Penulis:

  1. Nizar Solihin (i-channel)

  2. Ahmad Fikram Adidikata (Roompi)

  3. Ade Ridwan-Cipo (Bantenesia)

    (*)

Berita Terkait

Tak Hanya Bertugas sebagai Anggota Polri, Aditya Tampomas Kembangkan Usaha Kuliner Seblak di Kota Serang
Sumpah Pemuda 2026, Kepala Bapenda Kabupaten Serang Lalu Farhan Nugraha Ajak Pemuda Perkuat Persatuan
Berprestasi! Ratu Anatasya Bilqis Adam Bimbingan Sanggar Rossys Entertainment, Raih Anugerah Anak Indonesia Awards 2026
Hari Batik Nasional 2026, Adde Rosi Dorong Generasi Muda Kenalkan Batik Lewat Kreativitas Digital
Hari Kesaktian Pancasila, Tokoh Muda Banten Abdul Latif Dorong Pemuda Amalkan Nilai Pancasila
Lomba Polisi Cilik, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki: Tekankan Pentingnya Disiplin dan Keselamatan
Kolaborasi Komunitas Hadirkan Voluntrip untuk Anak-anak SKHN 1 Kabupaten Serang
Drama Musikal “Sawung Pathok” Hidupkan Sejarah dan Budaya Banten Lewat Seni Pertunjukan
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 23:07 WIB

Tak Hanya Bertugas sebagai Anggota Polri, Aditya Tampomas Kembangkan Usaha Kuliner Seblak di Kota Serang

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:40 WIB

Sumpah Pemuda 2026, Kepala Bapenda Kabupaten Serang Lalu Farhan Nugraha Ajak Pemuda Perkuat Persatuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:15 WIB

Berprestasi! Ratu Anatasya Bilqis Adam Bimbingan Sanggar Rossys Entertainment, Raih Anugerah Anak Indonesia Awards 2026

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Hari Batik Nasional 2026, Adde Rosi Dorong Generasi Muda Kenalkan Batik Lewat Kreativitas Digital

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Hari Kesaktian Pancasila, Tokoh Muda Banten Abdul Latif Dorong Pemuda Amalkan Nilai Pancasila

Berita Terbaru