[BANTENESIA.NET], Jakarta Timur — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Agama, dan sejumlah Lembaga Jasa Keuangan meresmikan pembentukan Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS) di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Jakarta Timur.
Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat literasi, inklusi, serta ekosistem ekonomi syariah di Jakarta melalui komunitas pesantren.
Peresmian EPIKS dilakukan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DKI Jakarta, dengan melibatkan Bursa Efek Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Phintraco Sekuritas, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Minhaajurrosyidiin (STAIMI).
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor ini. Ia menegaskan bahwa pesantren memegang peran strategis dalam membangun generasi melek keuangan syariah.
“Kita berharap ini dapat menjadi bekal penting bagi santri agar siap menghadapi masa depan. Edukasi ini bukan hanya untuk santriwan dan santriwati, tapi juga untuk pengurus pondok, guru-guru, dan keluarga besar pesantren,” ujar Friderica.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi digital untuk melindungi masyarakat dari risiko keuangan di era digital.
“Literasi itu yang akan menjaga adik-adik dari berbagai bahaya di era digital. Manfaatnya besar, tapi risikonya juga luar biasa,” tegasnya.
Kegiatan peresmian EPIKS di Pesantren Minhaajurrosyidiin meliputi berbagai program integratif, seperti:

-
Edukasi keuangan syariah dan pasar modal untuk ±750 pelajar dan mahasiswa.
-
Penyerahan simbolis kartu santri dan Tabungan Pelajar Syariah.
-
Penguatan UMKM dan Koperasi sebagai Agen Laku Pandai Syariah.
-
Pembentukan Galeri Investasi Syariah pertama di lingkungan pesantren DKI Jakarta.
-
Inisiatif Green Economy melalui Reverse Vending Machine yang menukar botol plastik menjadi saldo transaksi keuangan, serta program penanaman pohon.
Kepala OJK Jabodebek Edwin Nurhadi mengatakan bahwa EPIKS akan memudahkan akses layanan keuangan syariah bagi masyarakat pesantren.
“Kami berharap masyarakat pesantren dapat lebih aktif memanfaatkan produk keuangan syariah, termasuk tabungan pelajar, pembiayaan UMKM, hingga investasi syariah,” ujarnya.

Ketua Pesantren Minhaajurrosyidiin, Chairul Baihaqi, menyambut hadirnya EPIKS sebagai model yang bisa direplikasi di pesantren lain.
“Semoga EPIKS menjadi kolaborasi berkelanjutan dan menjadi percontohan bagi ekosistem pendidikan Islam lainnya,” ucapnya.
Program EPIKS merupakan bagian dari roadmap Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) DKI Jakarta, sejalan dengan visi ‘Jakarta Top 20 Global City’.
Salah satu fokus utamanya ialah mengoptimalkan pasar modal syariah dan penguatan ekonomi halal.
Pesantren Minhaajurrosyidiin dipilih karena memiliki ekosistem besar, mencakup 1.600 pelajar, 300 santri, dan lebih dari 22 UMKM yang siap digerakkan melalui inklusi keuangan syariah.
Hingga Oktober 2025, OJK mencatat:
-
1.627 kegiatan edukasi keuangan syariah menjangkau 6,2 juta peserta.
-
5.738 kegiatan GENCARKAN Syariah menjangkau 15,2 juta peserta.
-
Pembentukan 93 agen layanan keuangan syariah dan peningkatan fasilitas pembiayaan hingga level pesantren.
Program ini memperkuat program tematik seperti SAKINAH, SICANTIKS, School of Syariah, ISFO 2025, dan Syariah Financial Fair.
Acara dihadiri lebih dari 750 pelajar dan santri, serta sejumlah tokoh, di antaranya:
-
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik
-
Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Bob Tyasaka Ananta
-
Direktur Phintraco Sekuritas Andre Mahardika
-
Kepala Biro Dikmental Setda DKI Jakarta Fakar Eko Satriyo
-
Ketua STAIMI Dr. Tri Gunawan
***








