Healing dan Self-Care: Tren Gaya Hidup atau Indikator Tekanan Sosial?

- Redaktur

Selasa, 9 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

NIM: 1111250576

Instansi: Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

SERANG, Bantennesia – Fenomena healing dan self-care telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya populer, khususnya di kalangan generasi muda. Istilah-istilah ini sering digunakan di media sosial untuk menegaskan kebutuhan mendesak untuk rehat dari tekanan hidup yang berlebihan, mulai dari tuntutan ekonomi, produktivitas tinggi, hingga ketidakstabilan pascapandemi. Pertanyaannya, apakah ini hanya tren viral, atau justru cerminan dari tekanan sosial yang semakin mendalam?

 

Gaya hidup modern yang serba cepat, kompetitif, dan selalu terhubung secara digital telah menjadikan kelelahan mental (burnout) sebagai masalah umum. Data global (WHO) dan nasional (Kemenkes) mengonfirmasi peningkatan signifikan kasus gangguan kesehatan mental, terutama pada usia produktif.

Baca Juga :  Gonjlengan di Rumah Dunia, Wahyu Nurjamil: Saya Paparkan Program dan Tegas Tolak Politik Uang

Dalam konteks ini, budaya healing muncul sebagai mekanisme adaptif. Mencari ketenangan lewat perjalanan, interaksi alam, atau sekadar rehat dari rutinitas adalah bentuk “perlawanan kecil” individu terhadap sistem yang terus-menerus menuntut produktivitas tanpa jeda pemulihan.

 

Seiring dengan popularitasnya, praktik self-care telah direspons oleh industri kreatif dan gaya hidup. Apa yang awalnya merupakan kegiatan sederhana (seperti istirahat cukup atau meditasi) kini banyak dikomersialkan menjadi produk mewah dan layanan eksklusif (misalnya: skincare premium, healing retreat, dan paket wisata).

Hal ini menciptakan paradoks: tujuan awal self-care yang bersifat inklusif bergeser menjadi simbol status dan konsumsi. Media sosial memperparah ini, menuntut aktivitas self-care untuk tampil “instagrammable,” sehingga terjadi pergeseran fokus dari pemulihan sejati ke performativitas (pamer bahwa sedang merawat diri).

Baca Juga :  Mengatasi Masalah Ilegal Logging: Sebuah Tantangan Bagi Indonesia

 

Popularitas masif healing dapat dibaca sebagai indikator kegagalan sistem sosial dalam menyediakan ruang aman dan dukungan kesehatan mental yang memadai. Krisis ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan budaya hustle (kerja berlebihan) yang dinormalisasi semakin memperberat beban psikologis generasi muda.

Ketika tekanan menumpuk, healing menjadi jalan pelarian yang mudah diakses. Fenomena ini bukan sekadar pencarian ketenangan pribadi, melainkan bentuk kelelahan kolektif yang belum terpecahkan di tingkat sosial.

Baca Juga :  Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Hak atau Tanpa Batas?

 

Budaya healing adalah perpaduan antara tren budaya populer dan gejala tekanan sosial yang kompleks. Di satu sisi, ia menyediakan ruang penting bagi individu untuk memulihkan diri. Di sisi lain, komodifikasinya berisiko menjauhkan praktik ini dari esensi awalnya.

Meskipun terlihat sebagai tren viral, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental ini adalah transformasi nilai yang positif dalam masyarakat. Penting untuk diingat bahwa self-care sejati harus berakar pada kesadaran dan keseimbangan, tidak harus mahal, viral, atau performatif, melainkan pada kemampuan mengelola stres secara sehat dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat
Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa
Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ
Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu
Pentingnya Mengetahui Hukum bagi Gen Z
Literasi Digital Pelajar Tidak Boleh Menunggu Masalah Datang: Pelajaran dari PKM UNPAM Serang di SMAN 1 Kramatwatu
Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:18 WIB

Pembangunan Kopdes Merah Putih di Atas Lahan Bekas Masjid: Antara Kepentingan Ekonomi dan Aspirasi Masyarakat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Dari Arus Penyeberangan ke Peta Risiko: Strategi Baru Membendung Narkotika di Koridor Sumatera–Jawa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:21 WIB

Studi Implementasi di Sekolah: Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas bagi GenZ

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Menagih Janji Betonisasi Jalur Sawah Luhur sampai Kaligandu

Rabu, 21 Oktober 2026 - 17:10 WIB

Pentingnya Mengetahui Hukum bagi Gen Z

Berita Terbaru