Nama : Khairunnisa Wahyulia Putri
NIM : 251092100270
Prodi : Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata kuliah : Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu : Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET] – Media Sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hari kita melihat kehidupan orang lain melalui Instagram, TikTok, atau platform lainnya. Ada yang membagikan momen liburan, makanan, pencapaian, hubungan romantis, pekerjaan, sampai membagikan rutinitas sehari-hari. Tanpa disadari, apa yang kita lihat di media sosial bisa memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri.
Kita mungkin pernah melihat seseorang seumuran kita sudah bekerja, menikah, liburan keluar negeri, atau bahkan membeli barang mewah yang juga kita inginkan. Di sisi lain, ada juga yang terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan. Melihat hal-hal tersebut terus-menerus secara tidak sengaja membuat kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, bahkan menjadi standar yang harus kita capai.
Padahal, apa yang muncul di media sosial sebenarnya hanya beberapa bagian dari kehidupan seseorang. Mungkin menurut beberapa orang berbagi momen bahagia di sosial media karena ingin menyimpannya sebagai kenangan atau sesuatu yang nantinya bisa dilihat kembali dan bernostalgia tentang bagaimana rasanya berada di momen tersebut. Orang tentu juga lebih sering membagikan momen menyenangkan dari pada kesulitan. Akibatnya, Kita bisa membandingkan kehidupan kita secara kesuluruhan dengan kehidupan orang lain yang hanya kita lihat dari sisi terbaiknya.
Hal tersebut bukan hanya berkaitan dengan perasaan seseorang, melainkan dapat memengaruhi standar kehidupan di masyarakat. Secara perlahan-lahan kehidupan yang muncul di media sosial menjadi standar kehidupan yang ideal bagi masyarakat. Misal ya, Kesuksesan sering dikaitkan dengan pekerjaan yang bagus, kemampuan membeli barang tertentu, rumah yang besar, dan gaya hidup yang tinggi.
Menurut saya, perkembangan di media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang harus dianggep buruk. Barangkali lewat media sosial Masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai hal yang sedang terjadi, berkomunikasi, dan mengenai berbagi macam kehidupan. Namun, kita perlu lebih sadar bahwa apa yang terlihat di media sosial bukan gambaran kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Pada akhirnya, media sosial memang ikut mengubah cara masyarakat melihat kehidupan. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang kita lihat, tetapi bagaimana cara diri kita memaknainya. Jangan sampai kehidupan yang terlihat di sosial media membuat kita lupa bahwa kehidupan nyata memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda-beda. ***








