Nama: Farrel Dwi Putra lesmana
NIM: 251092100151
Prodi : Administrasi Negara
Semester: 3
Mata kuliah : Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu: ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M.A.P
Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET] – Kota Serang memiliki banyak ruang publik yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah Terminal Pandean. Menurut saya, revitalisasi Terminal Pandean menjadi Pasar Kepandean merupakan langkah yang tepat karena tidak hanya mengubah bangunan yang terbengkalai, tetapi juga mengubah citra kawasan yang selama ini dikenal negatif menjadi pusat ekonomi baru bagi masyarakat Kota Serang.
Dulu, Terminal Pandean bukan lagi dikenal sebagai terminal yang aktif melayani masyarakat. Kawasan ini justru terbengkalai, dipenuhi bangunan kosong, dan sepi dari aktivitas yang bermanfaat. Berbagai pemberitaan juga mengungkap bahwa Terminal Pandean pernah menjadi lokasi prostitusi terselubung dan tempat berkumpulnya aktivitas yang meresahkan masyarakat. Kondisi tersebut tentu membuat warga merasa tidak nyaman dan memberikan citra buruk terhadap kawasan ini.
Menurut saya, kondisi seperti itu sangat disayangkan. Sebuah aset milik pemerintah yang berada di lokasi strategis seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, bukan dibiarkan menjadi tempat yang identik dengan masalah sosial. Karena itu, keputusan Pemerintah Kota Serang untuk merevitalisasi Terminal Pandean menjadi Pasar Kepandean layak mendapat dukungan.
Revitalisasi ini bukan hanya memindahkan fungsi terminal menjadi pasar, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi perekonomian masyarakat. Pemerintah merancang kawasan Kepandean sebagai tempat relokasi pedagang Pasar Lama sekaligus menjadi sentra ekonomi yang lebih tertata. Dengan penataan yang lebih baik, kawasan ini diharapkan menjadi pusat perdagangan, UMKM, dan aktivitas masyarakat dalam satu kawasan.
Saya melihat konsep pasar dan kuliner dalam satu atap menjadi daya tarik utama revitalisasi ini. Masyarakat yang datang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari juga dapat menikmati berbagai kuliner khas Kota Serang dan Banten. Aktivitas seperti ini akan membuat kawasan tetap hidup, tidak hanya pada pagi hari saat pasar buka, tetapi juga hingga malam hari melalui kegiatan kuliner dan usaha mikro.
Keberadaan sentra kuliner juga menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM. Banyak pedagang kecil membutuhkan tempat usaha yang layak, bersih, dan mudah dijangkau masyarakat. Dengan adanya Pasar Kepandean, mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada lebih banyak pengunjung. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat secara langsung.
Namun, menurut saya revitalisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik saja. Pemerintah perlu memastikan kawasan ini tetap bersih, aman, dan tertib. Pengawasan harus dilakukan secara konsisten agar Terminal Pandean tidak kembali memiliki stigma sebagai lokasi prostitusi atau aktivitas negatif lainnya. Selain itu, fasilitas umum, area parkir, keamanan, dan kenyamanan pengunjung juga harus menjadi perhatian agar masyarakat merasa betah datang ke Pasar Kepandean.
Bagi saya, revitalisasi Terminal Pandean adalah contoh bahwa kawasan yang pernah terbengkalai bisa memiliki masa depan yang lebih baik ketika dikelola dengan visi yang jelas. Perubahan dari tempat yang dulu dikenal karena persoalan sosial menjadi pasar yang ramai dan pusat kuliner merupakan simbol perubahan Kota Serang menuju kota yang lebih tertata dan produktif.
Pada akhirnya, keberhasilan Pasar Kepandean tidak hanya diukur dari bangunan yang baru, tetapi dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Jika pasar ini mampu menjadi pusat perdagangan, kuliner, dan UMKM dalam satu atap, maka Terminal Pandean benar-benar akan menjadi simpul ekonomi baru yang menghidupkan kembali kawasan tersebut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Serang. ***








