Sampah Tangsel Ditolak Warga Serang, Kenapa Warga Baru Didengar Setelah Menolak?

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Oti Rodia. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Oti Rodia. (Foto: Istimewa)

Nama: Oti Rodiah
NIM: 251092100086
Prodi: Administrasi Negara
Semester: 3 (Tiga)
Mata kuliah: Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Pemkot Serang Menghentikan sementara penerimaan sampah dari Tangsel karena protes Warga Cilowong, Berdasarkan pemberitaan detikcom, uji coba yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2026 ini sudah mendapatkan banyak sekali keluhan dari warga sekitar. Beberapa warga mengeluh karena merasa terganggu dengan air lindi yang masih terceceran di sekitar lokasi, ditambah kondisi truk sampah yang digunakan. Menurut Republika, warga Taktakan mengaku belum pernah mendapatkan informasi atau sosialisasi dan mereka juga mempertanyakan keberadaan dokumen Amdalnya. Kondisi tersebut bisa membuat warga sekitar merasa kecewa, apalagi mereka yang menghadapi bau dan dampak lingkungan tanpa dilibatkan sejak awal.

Baca Juga :  Isu Revisi RUU KUHAP di Indonesia

Permasalahan seperti ini ternyata sudah pernah terjadi sebelumnya, Republika memberitakan bahwa kerja sama antara Tangsel dan Serang sudah dilakukan sejak 22 Januari 2021 dengan masa berlaku tiga tahun. Melalui kerja sama ini, Kota Serang diharapkan bisa memberikan bantuan keuangan Tangsel, dan warga sekitar agar mendapatkan peluang pekerjaan. Jika dilihat dari tujuan awalnya, kerja sama ini terlihat memberikan banyak manfaat. Namun di sisi lain, warga yang akan merasakan dampaknya secara langsung justru tidak dilibatkan sejak awal. Pemerintah seharusnya melibatkan warga sebelum kebijakan tersebut ditetapkan, bukan setelah muncul penolakan.

Baca Juga :  Ketika Kelalaian Mengancam: Tanggung Jawab Hukum dalam Pengelolaan Wisata Baduy

Di sisi lain, Tangsel juga sedang menghadapi permasalahan sampah yang cukup serius. Sampah di Tangsel sempat membuat sampah menjadi sangat numpuk sehingga kurang lebih dari tiga minggu di beberapa TPS. Saat dikirim ke Cilowong, truk sampah bahkan mendapatkan pengawalan TNI, Seperti yang diberitakan Tirto, karena ada penolakan dari warga sekitar. Menurut saya, masalahnya bukan hanya soal pengawalan aparat, tetapi juga bagaimana pemerintah merespons suara warga. Seharusnya penolakan tersebut dibicarakan terlebih dahulu agar ada solusi yang bisa diterima bersama. Sekitar 200 ton sampah Tangsel sempat dialihkan ke Cileungsi, Bogor, seperti yang diberitakan Metro TV. Langkah ini memang mengurangi penumpukan sementara, tetapi belum menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh.

Baca Juga :  Sengketa PT Tisera vs Muhammadiyah Inkrah, MA Perintahkan Bayar Ganti Rugi Puluhan Miliar

Kalau melihat kondisi tersebut, warga seharusnya dilibatkan sejak awal, bukan baru didengarkan ketika sudah menolak. Selama ini komunikasinya dengan masyarakat belum berjalan dengan baik. Padahal, merekalah  yang sehari-hari harus menghadapi bau dan dampak dari sampah tersebut. Ke depannya, Pemkot Serang dan Pemkot Tangsel perlu lebih terbuka dengan warga, mulai dari menjelaskan kerja sama, menunjukkan dokumen Amdal, pengelolaan air lindi, serta pemberian kompensasi yang jelas kepada masyarakat yang terdampak. Jika pemerintah tidak segera memperbaiki, penolakan dari warga kemungkinan akan terus terjadi dan masalah sampah juga tidak benar-benar terselesaikan. ***

Berita Terkait

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil
Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang
Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?
Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?
Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?
Ketika Suara Mahasiswa Turun ke Jalan: Opini Publik dan Konflik Sosial di Banten
Banten di Peringkat Ketiga Pengangguran: Apa yang Salah dengan Lapangan Kerja?
Jembatan Delapan Meter dan Pelajaran Besar tentang Gotong Royong

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 10:24 WIB

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil

Rabu, 30 September 2026 - 10:23 WIB

Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang

Rabu, 30 September 2026 - 10:22 WIB

Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?

Rabu, 30 September 2026 - 10:21 WIB

Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?

Rabu, 30 September 2026 - 10:18 WIB

Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?

Berita Terbaru