Nama: Seja Khaerunnisa
NIM: 251092100117
Prodi: Administrasi Negara
Semester: 3 (Tiga)
Mata kuliah: Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang
[BANTENESIA.NET] – Di tengah pesatnya modernisasi dan pembangunan fisik di Indonesia, ilmu-ilmu sosial kerap menghadapi titik krusial: fenomena kemandegan. Riset sosial sering kali terjebak dalam menara gading akademis yang syarat teori Barat, namun gagap dan terasing saat dihadapkan pada realitas empiris di lapangan. Kebijakan publik kerap kali diputuskan tanpa dibentengi oleh kacamata analisis sosial yang mendalam. Akibatnya, ilmu sosial kehilangan taji kontekstualnya dalam memberikan solusi konkret atas dinamika kemasyarakatan.
Realitas kemandegan ilmu sosial ini terasa nyata jika kita menengok konteks lokal di Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Sebagai wilayah yang terus bersolek menjadi kota modern, Kota Serang dihadapkan pada berbagai problematika sosial yang Kompleks: mulai dari persoalan sampah, penataan ruang, pengangguran usia muda, pergeseran nilai budaya lokal, hingga disparitas kesejahteraan di tengah industrialisasi regional. Ketika pembangunan fisik melaju pesat, riset-riset sosial setempat justru terkesan pasif dan belum hadir secara utuh sebagai kompas pengarah kebijakan pembuat keputusan.
Kemandegan ilmu sosial di tingkat lokal terjadi ketika akademisi dan praktisi sosial lebih disibukkan oleh rutinitas administratif ketimbang menghasilkan kajian kritis berbasis kearifan lokal. Dampaknya, solusi atas masalah kemasyarakatan di Kota Serang sering kali hanya diselesaikan secara teknokratis-instan tanpa menyentuh akar kultur dan struktur sosial masyarakatnya.
Mengurai Akar Kemandegan di Tingkat Daerah
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan ilmu-ilmu sosial terasa mandeg dan kurang membumi dalam konteks pembangunan Kota Serang:
- Dominasi Pendekatan Barat (Eurosentris)
Teori-teori sosial yang diajarkan kerap kali diadopsi secara mentah dari literatur luar tanpa diselaraskan dengan norma, sistem kekerabatan, dan nilai religius-kultural khas masyarakat Serang.
- Jarak Antara Akademisi dan Kebijakan Publik
Hasil-hasil riset dari perguruan tinggi di Kota Serang kerap kali berhenti sebagai tumpukan laporan di perpustakaan, tanpa pernah ditransformasikan menjadi policy brief yang mudah dicerna oleh pemerintah daerah.
- Keterbatasan Riset Berbasis Partisipasi Publik
Kajian sosial sering diartikan sekadar pengisian kuesioner formal. Padahal, realitas dinamika akar rumput di Kota Serang memerlukan pendekatan kualitatif-partisipatif yang intensif.
Tawaran Solusi: Mendorong Reorientasi Ilmu Sosial Terapan
Guna mendobrak kemandegan tersebut dan menjadikan ilmu sosial sebagai penggerak perubahan di Kota Serang, beberapa langkah taktis dapat diterapkan:
- Pengembangan Indigenosasi Ilmu Sosial
Membangun teori dan metodologi berbasis realitas lokal Banten. Konsep kemasyarakatan, jawara, budaya gotong royong, dan kearifan lokal harus dijadikan objek kajian ilmiah yang mampu menjelaskan fenomena modernisasi Kota Serang secara presisi.
- Kolaborasi Strategis Tiga Pilar (Pentahelix)
Mempererat sinergi antara peneliti sosial perguruan tinggi, Pemerintah Kota Serang, dan komunitas lokal. Forum-forum dialog rutin harus dibuka agar riset sosial yang dibuat langsung menjawab kebutuhan riil pembangunan daerah.
- Inovasi Metodologi Berbasis Action Research
Peneliti sosial tidak boleh hanya menjadi pengamat yang dingin. Lewat action research, ilmuwan sosial terjun langsung mendampingi masyarakat Kota Serang—seperti komunitas pemuda, pelaku UMKM, atau warga kawasan marjinal—untuk memetakan masalah sekaligus merumuskan solusinya secara bersama-sama.
- Keterampilan Penerjemahan Narasi Ilmiah ke Media Publik
Cendekiawan sosial di Kota Serang harus aktif mempublikasikan gagasannya di media massa dan platform digital. Gagasan ilmiah harus dikemas dalam bahasa opini yang lugas agar mampu mengedukasi publik dan memberikan tekanan positif bagi pengambil kebijakan.
Pada akhirnya, melampaui kemandegan ilmu sosial bukan sekadar tentang memperbanyak publikasi jurnal, melainkan tentang sejauh mana ilmu tersebut mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Kota Serang membutuhkan kontribusi nyata ilmu sosial yang kritis, responsif, dan membumi untuk memastikan bahwa arus modernisasi tidak menggerus identitas serta keharmonisan sosial warga kotanya. ***








