Membangun Peternakan Ayam Petelur yang Produktif, Sehat, dan Berkelanjutan

Senin, 28 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Satria Keva Razrival saat mengikuti kegiatan Breeding Ayam Petelur Unggulan. (Foto: Istimewa)

Satria Keva Razrival saat mengikuti kegiatan Breeding Ayam Petelur Unggulan. (Foto: Istimewa)

Oleh: Satria Keva Razrival

Corresponding Author: bangkepoyy@gmail.com

Bidang: Peternakan dan Pengembangan Ayam Petelur

 

[BANTENESIA.NET] – Ayam petelur berperan penting dalam menyediakan telur sebagai sumber protein hewani yang mudah diperoleh dan dikonsumsi masyarakat. Karena itu, pengembangannya perlu ditopang pengelolaan yang produktif, sehat, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Di balik sebutir telur yang hadir dalam menu sehari-hari, terdapat rangkaian pengelolaan yang dimulai dari pemilihan bibit, penyediaan pakan, pengaturan kandang, pemeliharaan kesehatan, hingga penanganan telur setelah dipanen. Setiap tahap saling berkaitan dan dapat menentukan mutu hasil akhir.

Usaha ayam petelur tidak cukup diukur dari banyaknya ayam yang dipelihara. Kesiapan kandang, ketersediaan pakan, kesehatan ternak, manajemen pemeliharaan, serta kemampuan peternak mencatat dan mengelola usaha menjadi bagian penting dari produktivitas.

Ayam petelur atau layer dipelihara dengan tujuan utama menghasilkan telur konsumsi. Komoditas ini menjadi salah satu bagian penting dalam subsektor peternakan karena mendukung ketersediaan protein hewani bagi masyarakat.

Pengelolaannya membutuhkan manajemen yang menyeluruh, mulai dari pemilihan bibit, pakan berkualitas, perkandangan, kesehatan dan biosekuriti, kesejahteraan hewan, hingga penanganan telur setelah panen. Kementerian Pertanian terus mendorong pengembangan ayam petelur sebagai bagian dari penguatan produksi telur nasional dan keberlanjutan usaha peternak rakyat.

Satria Keva Razrival saat mengikuti kegiatan Breeding Ayam Petelur Unggulan. (Foto: Istimewa)

Pedoman Kementerian Pertanian mengenai ayam petelur mencakup sistem perkandangan, pakan, manajemen berdasarkan fase pertumbuhan, kesehatan, penanganan pascapanen, dan ayam afkir. Pedoman tersebut menunjukkan bahwa produktivitas perlu dibangun melalui rangkaian keputusan yang saling mendukung.

Pemeliharaan ayam petelur berlangsung melalui fase starter, grower, dan layer. Masing-masing fase memiliki kebutuhan nutrisi, lingkungan, dan penanganan yang berbeda sehingga tidak dapat dikelola dengan pendekatan yang sama.

Baca Juga :  Urgensi Penanganan Kasus Pembullyan di Lingkungan Pendidikan

Pada fase starter, perhatian diarahkan pada pertumbuhan awal dan pembentukan kondisi tubuh yang baik. Fase grower menjadi tahap penting untuk menyiapkan ayam menuju kematangan produksi. Setelah memasuki fase layer, pengelolaan berfokus pada produksi telur sekaligus mempertahankan kesehatan dan kondisi tubuh ayam.

Keberhasilan pemeliharaan tidak semata-mata dilihat dari jumlah telur. Kondisi fisik ayam, kesehatan, kestabilan produksi, kualitas telur, penggunaan pakan, serta ketepatan pencatatan juga perlu menjadi indikator yang diperhatikan.

Pakan perlu memenuhi kebutuhan energi, protein, mineral, vitamin, dan nutrien lainnya sesuai umur serta fase produksi. Kualitas dan ketersediaan pakan dapat memengaruhi kondisi tubuh ayam, kesehatan, dan kemampuan menghasilkan telur.

Air minum yang bersih dan tersedia secara memadai juga tidak dapat dipisahkan dari pemeliharaan. Ketersediaan air perlu diperhatikan bersama kebersihan tempat minum agar ayam memperoleh dukungan yang cukup sepanjang masa pemeliharaan.

Pakan merupakan komponen utama dalam biaya produksi telur. Karena itu, penguatan kemandirian pakan dan pengelolaan penggunaannya secara efisien perlu menjadi perhatian. Efisiensi bukan berarti mengabaikan kebutuhan nutrisi, melainkan memastikan pakan yang tersedia dikelola sesuai kebutuhan ayam dan fase produksinya.

Kandang perlu dikelola dengan memperhatikan kebersihan, ventilasi, dan sirkulasi udara. Kepadatan ayam, pencahayaan, ketersediaan air minum, serta kondisi tempat pakan juga perlu dipantau agar lingkungan pemeliharaan mendukung kesehatan dan produktivitas.

Pengelolaan kotoran menjadi bagian dari kebersihan kandang dan perlu dilakukan secara teratur. Di saat yang sama, kandang perlu mendapat perlindungan dari hewan pengganggu yang dapat mengganggu ayam, mencemari pakan, atau membawa risiko kesehatan.

Baca Juga :  Pendapat Mahasiswi Unpam Serang Tentang Kasus Pembunuhan di Bandar Lampung

Kesiapan kandang sebaiknya dilihat sebagai bagian dari perencanaan usaha, bukan sekadar sarana penempatan ayam. Kandang yang dikelola dengan baik dapat membantu peternak mengamati kondisi ternak dan merespons perubahan secara lebih cepat.

Biosekuriti bertujuan mencegah masuk, berkembang, dan menyebarnya penyakit di dalam maupun keluar dari peternakan. Penerapannya perlu dilakukan sebagai kebiasaan harian, bukan hanya ketika muncul tanda gangguan kesehatan.

​​Pembatasan akses — mengatur keluar-masuk orang dan kendaraan ke area peternakan.

​​Sanitasi — menjaga kebersihan kandang dan peralatan serta melakukan sanitasi secara rutin.

​​Pengendalian hewan pengganggu — membatasi keberadaan hewan yang dapat membawa atau menyebarkan penyakit.

​​Pemantauan kesehatan — mengamati perubahan kondisi ayam secara berkala.

​​Vaksinasi — dilakukan sesuai kebutuhan dan arahan tenaga kesehatan hewan.

​​Pemisahan ayam sakit — memisahkan ayam yang menunjukkan tanda-tanda sakit agar risikonya dapat dikendalikan.

​​Pencatatan — mencatat kondisi kesehatan dan produksi untuk membantu mengenali perubahan lebih cepat.

Ayam memiliki perilaku alami seperti berdiri, berjalan, mengepakkan sayap, mematuk, mengais, beristirahat, dan berinteraksi dengan ayam lain. Kebutuhan tersebut perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan, bersama kondisi fisik, lingkungan, dan cara penanganan ayam.

Perhatian terhadap kesejahteraan hewan menjadi bagian dari pengelolaan yang bertanggung jawab. Lingkungan pemeliharaan yang dikelola dengan baik dapat membantu ayam menjalani aktivitas alaminya dan mendukung tujuan kesehatan serta produktivitas.

Telur perlu dikumpulkan secara teratur, lalu dipisahkan apabila retak atau rusak. Tempat penyimpanan harus dijaga kebersihannya, sementara benturan perlu dihindari agar mutu telur tetap terjaga.

Jumlah produksi dan kondisi telur sebaiknya dicatat. Kondisi penyimpanan juga perlu dijaga sesuai kebutuhan, sehingga penanganan setelah panen tetap menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan mutu pangan.

Baca Juga :  Hukum Perikatan di Era Digital: Menjaga Kepastian Hukum dan Kepercayaan Publik

Usaha ayam petelur menghadapi tantangan berupa perubahan harga pakan, biaya produksi, kesehatan ternak, produktivitas, dan perubahan kondisi pasar. Tantangan tersebut menuntut kesiapan kandang, pakan, kesehatan, serta sarana pendukung sejak awal pengembangan usaha.

Kemampuan teknis perlu berjalan bersama kemampuan manajemen. Peternak perlu memahami fase pemeliharaan, mengendalikan biaya, memantau kesehatan, mencatat produksi, dan membaca perubahan usaha agar keputusan yang diambil tidak hanya bergantung pada perkiraan.

Kementerian Pertanian pada 2026 terus melakukan penguatan program ayam petelur, termasuk pengawalan kesiapan kandang, pakan, kesehatan, dan sarana pendukung. Penyediaan, peredaran, dan pengawasan ayam ras serta telur konsumsi di Indonesia antara lain diatur melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 yang berstatus berlaku.

Peternakan masa depan perlu memperhatikan efisiensi, kesehatan hewan, keamanan pangan, kesejahteraan hewan, lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi peternak. Teknologi pencatatan produksi dapat membantu pengelolaan menjadi lebih terukur, sementara data kesehatan dapat mendukung pemantauan kondisi ternak.

Pengelolaan pakan yang efisien, biosekuriti, pencatatan yang tertib, dan perhatian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari pengembangan peternakan modern. Pendekatan tersebut perlu diarahkan agar manfaat pengembangan ayam petelur dapat dirasakan peternak rakyat sekaligus mendukung ketersediaan telur sebagai sumber protein hewani masyarakat.

Peternakan ayam petelur perlu dibangun melalui pengetahuan, kedisiplinan, pencatatan, inovasi, dan kepedulian terhadap ternak. Produktivitas yang sehat dan berkelanjutan tidak lahir dari satu faktor, melainkan dari pengelolaan yang konsisten dari kandang hingga telur sampai kepada konsumen. ***

Berita Terkait

Tilang Elektronik ETLE di Pandeglang, Modernisasi Penegakan Hukum Harus Diiringi Sosialisasi
Pantai Bagedur: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Pengelolaan Pariwisata
Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil
Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang
Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?
Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?
Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?
Ketika Suara Mahasiswa Turun ke Jalan: Opini Publik dan Konflik Sosial di Banten
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 10:27 WIB

Tilang Elektronik ETLE di Pandeglang, Modernisasi Penegakan Hukum Harus Diiringi Sosialisasi

Rabu, 30 September 2026 - 10:25 WIB

Pantai Bagedur: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Pengelolaan Pariwisata

Rabu, 30 September 2026 - 10:24 WIB

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil

Rabu, 30 September 2026 - 10:23 WIB

Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang

Rabu, 30 September 2026 - 10:22 WIB

Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?

Berita Terbaru