Jembatan Delapan Meter dan Pelajaran Besar tentang Gotong Royong

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Nurul Aulia. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Nurul Aulia. (Foto: Istimewa)

Nama: NURUL AULIA
NIM: 251092100255
Kelas: 03ADNP004
Semester: 3
Jurusan: ADMINISTRASI NEGARA
Dosen Pengampu: ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M.A.P

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Tidak semua kabar baik datang dari proyek dengan dana miliaran rupiah. Terkadang, ia datang dari sebuah jembatan kecil yang terletak di atas sungai kecil di daerah pinggir Banten selatan. Pada tanggal 30 September 2026, Gubernur Banten Andra Soni secara resmi membuka Jembatan Leuwi Kukuk yang terletak di Kampung Cibogo, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Jembatan tersebut dibuat sendiri oleh masyarakat sejak awal bulan Juli tahun 2026.

Ukurannya tidak besar. Jembatan yang terletak di atas Sungai Cigiri Laya itu memiliki panjang 8 meter dan lebar 4 meter, sekarang menghubungkan Desa Sanguan dengan Desa Malingping Utara. Namun bagi orang-orang yang setiap hari melewatinya, delapan meter itu bisa terasa cukup jauh: jalan ke sekolah, pusat kesehatan, kebun, dan pasar. Berita menyebutkan bahwa jembatan ini dibangun tanpa menggunakan dana dari APBD. Artinya, dia lahir dari usaha, waktu, dan semangat warga sendiri.

Baca Juga :  Mahasiswa UNPAM Serang PKM di SMKN 1 Ciruas, Kenalkan Literasi Keuangan

Suatu hal yang paling membuat hati terharu dari cerita ini bukan hanya karena jembatan itu sudah selesai, tapi cara bagaimana ia terwujud. Tidak ada yang menunggu giliran program, tidak ada yang sibuk mencari siapa yang paling bertanggung jawab. Warga melihat kebutuhan, lalu bergerak. Tradisi gotong royong yang sering kita sebut dalam pidato ternyata masih ada di desa-desa yang jauh dari kota besar.

Gubernur menyambutnya dengan baik. Ia mengapresiasi partisipasi warga yang rela bersama-sama bekerja, dan menyatakan Pemprov Banten akan membantu memperbaiki jalan yang digunakan warga untuk menuju jembatan itu. Dia menyebut area itu ramai, ada sekolah, pusat kesehatan, dan pusat pertanian. Respons semacam ini penting. Swadaya warga akan terus berkembang jika ada respons dari pemerintah, bukan hanya dengan mengambil foto pemotongan pita saja.

Ada pelajaran yang bisa kita ambil, dan tidak hanya terkait Lebak saja.

Baca Juga :  Dinamika Politik Dinasti: Ujian Berat bagi Meritokrasi Indonesia

Pertama, kebutuhan warga biasanya sederhana dan konkret. Jembatan kecil, jalan desa, atau saluran air sering kali lebih berdampak bagi masyarakat daripada proyek besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Perencanaan pembangunan akan lebih tepat jika kita mendengar kebutuhan-kebutuhan kecil ini.

Kedua, semangat gotong royong patut dihargai, tetapi jangan sampai menjadi kebiasaan yang membuat warga merasa terbebani. Kita merasa bangga ketika warga membangun sendiri, namun sebenarnya kebanggaan itu harus diiringi komitmen bahwa kebutuhan dasar seperti akses jalan dan jembatan tetap menjadi perhatian pemerintah. Gotong royong terindah adalah ketika ia menjadi tambahan, bukan pengganti.

Ketiga, membangun saja tidak cukup, merawat adalah ujian sebenarnya. Anggota DPRD Provinsi Banten dari daerah pemilihan Lebak, Musa Weliansyah, meminta masyarakat untuk turut menjaga dan merawat jembatan agar manfaatnya bisa dinikmati selama waktu yang lama. Ajakan itu sederhana tetapi menentukan. Banyak fasilitas umum di sini rusak bukan karena dibuat jelek, tapi karena tidak ada yang merasa itu milik mereka. Jembatan yang dibuat dengan usaha sendiri lebih mungkin dijaga, selama perasaan memiliki terus dijaga.

Baca Juga :  Magang di Unit Aset dan Logistik, Mahasiswa Dukung Inventarisasi Barang Medis dan Nonmedis untuk Menunjang Pelayanan RS Dr. Drajat Prawiranegara

Keempat, kisah positif mesti disampaikan. Kita sering kali melihat pemberitaan mengenai proyek yang tidak berjalan, jalan yang hancur, dan keluhan dari masyarakat. Namun, ada juga cerita-cerita yang sepatutnya dibagikan agar dapat dicontoh di wilayah lain. Desa dan komunitas lain mungkin memiliki semangat yang serupa, hanya saja belum bereksplorasi.

Jembatan Leuwi Kukuk mungkin tidak akan menjadi bagian dari daftar proyek penting, dan namanya mungkin hanya dikenal di sekitar Malingping. Namun, jembatan ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terabaikan: perkembangan tidak selalu berasal dari yang tinggi dan berkuasa. Terkadang, itu berawal dari sekelompok masyarakat yang bertekad untuk tidak membiarkan sungai kecil menjadi penghalang lagi.

Semoga semangat tersebut menyebar, dan semoga setiap tangan yang berkontribusi dalam pembangunan selalu mendapatkan dukungan dari tangan yang membantu. ***

Berita Terkait

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil
Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang
Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?
Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?
Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?
Ketika Suara Mahasiswa Turun ke Jalan: Opini Publik dan Konflik Sosial di Banten
Banten di Peringkat Ketiga Pengangguran: Apa yang Salah dengan Lapangan Kerja?
Kekerasan Jurnalis di Jawilan, Serang: Ketika Kebebasan Pers Masih Terancam

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 10:24 WIB

Usut Tuntas Oknum BMT Anyar: Kembalikan Hak Uang Pedagang Kecil

Rabu, 30 September 2026 - 10:23 WIB

Ketika Bahu Jalan Menjadi Lapak Dagangan: Persoalan Kemacetan di Pasar Kalodran, Serang

Rabu, 30 September 2026 - 10:22 WIB

Anggaran Ratusan Juta Untuk Gapura Di Kabupaten Pandeglang: Sudah Tepatkah Prioritas Pembangunannya?

Rabu, 30 September 2026 - 10:21 WIB

Banjir di Kota Serang: Isu Alam atau Tantangan Infrastruktur?

Rabu, 30 September 2026 - 10:18 WIB

Royal Baroe Untuk Siapa: Modernisasi Kawasan atau Penggusuran Pelan-Pelan?

Berita Terbaru