Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Aliffia Talitha Dizi. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Aliffia Talitha Dizi. (Foto: Istimewa)

Nama: Aliffia Talitha Dizi
NIM: 251092100149 
Kelas: 03ADNP003
Mata Kuliah: Teori Sosial Indonesia

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Menurut saya, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini memang memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada masalah sosial yang mulai terlihat, yaitu menurunnya rasa empati terhadap orang lain. Sekarang, kita bisa dengan mudah menemukan orang yang saling menghina di kolom komentar, menjadikan kesulitan orang lain sebagai bahan lelucon, bahkan menyebarkan video seseorang yang sedang mengalami musibah tanpa memikirkan perasaannya.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Bahan Pokok di Banten 2026: Tantangan Ekonomi yang Perlu Diatasi Bersama

Nah, salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat terlalu terbiasa melihat kehidupan orang lain melalui layar. Akibatnya, terkadang kita lupa bahwa orang yang ada di balik unggahan tersebut juga memiliki perasaan. Contohnya, ketika ada video seseorang yang melakukan kesalahan dan menjadi viral, banyak orang langsung memberikan komentar negatif tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Padahal, komentar yang dianggap sekadar bercanda bisa saja berdampak besar terhadap kondisi mental orang yang menerimanya.

Baca Juga :  Alih Fungsi Lahan di Tangerang: Antara Peluang Ekonomi dan Krisis Lingkungan

Selain itu, budaya mengejar perhatian di media sosial juga membuat sebagian orang lebih mementingkan jumlah penonton, likes, dan komentar daripada memikirkan dampak dari konten yang mereka buat. Hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi justru dijadikan tontonan demi mendapatkan popularitas.

Menurut saya, kemajuan teknologi seharusnya membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih dekat, bukan malah membuat kita kehilangan kepedulian. Empati perlu dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga ucapan, tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan tidak langsung menghakimi orang lain.

Baca Juga :  Kualitas Dipertanyakan: Proyek Gapura Rp2,4 Miliar di Kab. Tangerang Rusak Sebelum Setahun dan Memicu Gelombang Kritik Kontrol Sosial

Pada akhirnya, menjadi masyarakat yang modern bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menghargai dan memahami perasaan orang lain. Jangan sampai kita begitu cepat memberikan komentar di media sosial, tetapi justru lupa untuk peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. ***

Berita Terkait

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan
Salah Angkot Ngetem atau Salah Sistem?
Erupsi Anak Krakatau: Alarm bagi Kesiapsiagaan Masyarakat Indonesia
Jalan Tol Dibangun, Apakah Kesejahteraan Rakyat Ikut Melaju?
Anak Krakatau Siaga Level 3, Wisata Anyer-Carita Tetap Buka: Berani atau Abai?
Kualitas Udara Kota Cilegon: Industri Penting, Lingkungan jangan Diabaikan

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan

Rabu, 30 September 2026 - 10:47 WIB

Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?

Rabu, 30 September 2026 - 10:39 WIB

Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan

Rabu, 30 September 2026 - 10:38 WIB

Salah Angkot Ngetem atau Salah Sistem?

Berita Terbaru