Membayar Pajak untuk Macet: Ironi Warga Cilegon di Bawah Bayang-Bayang Truk Tambang

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Lulu Athalah Salma. (Foto: Istimewa)

Mahasiswi Administrasi Negara, UNPAM PSDKU Serang, Lulu Athalah Salma. (Foto: Istimewa)

Nama : Lulu Athalah Salma
NIM : 251092100025
Prodi : Administrasi Negara
Semester : 3 (Tiga)
Mata kuliah : Teori Sosial Indonesia
Dosen Pengampu : Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.

Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang

[BANTENESIA.NET] – Jalan Lingkar Selatan (JLS) Cilegon dulu digagassebagai jawaban atas kemacetan kota sekaligus pendorongroda ekonomi warga. Kini, jalan tersebut justru berubahmenjadi simbol ironi. Setiap tahun, miliaran rupiah dariAPBD—yang tak lain berasal dari hasil pajak rakyat Cilegon—terus dikucurkan untuk menambal aspal yang rusak. Ironisnya, yang paling diuntungkan dari perbaikanitu bukan warga, melainkan truk-truk bermuatan berlebihmilik perusahaan tambang.

Baca Juga :  Generasi Z Jadi Harapan Baru Penguat Nilai Pancasila di Era Digital

Kesabaran warga Cilegon tampaknya sudah hampirhabis. Antrean panjang kendaraan mulai dari SimpangPCI, Ciwandan, hingga Akses Tol Cilegon Timur sudahmenjadi pemandangan rutin setiap hari. Penyebabnyabukan rahasia lagi: truk-truk tambang yang melebihikapasitas muatan bergerak merayap, ditambah insiden trukmogok di tengah jalan, serta kebiasaan parkirsembarangan di bahu jalan yang mempersempit ruas lalulintas.

Ketegasan Pemerintah Kota Cilegon dalammenegakkan aturan pun patut dipertanyakan. Regulasiyang membatasi jam operasional truk tambang—melarangberoperasi pada pukul 06.00–08.00 dan 16.00–19.00 WIB—pada praktiknya tidak berjalan efektif. Truk-truk besarpengangkut batu dan pasir tetap saja melintas bebas, bahkan pada jam berangkat kerja dan sekolah.

Baca Juga :  Ketimpangan Agraria di Banten: Antara Pembangunan dan Keadilan bagi Petani

Jika dilihat dari sudut pandang kebijakan publik, situasi ini merupakan bentuk subsidi terselubung. Pemkotmenggelontorkan dana APBD untuk memperbaiki jalanyang rusak demi melancarkan jalur distribusi perusahaantambang. Di sisi lain, warga yang justru menjadipenyumbang APBD tersebut harus menanggungakibatnya: waktu terbuang di jalan, paparan debu, hinggarisiko kecelakaan yang meningkat.

Baca Juga :  Fenomena Cancel Culture di Media Sosial: Bentuk Kontrol Sosial atau Penghakiman Publik?

Menertibkan JLS memang bukan perkara mudah, sebab ada aliran uang besar yang terlibat di baliknya. Namun bila Pemkot Cilegon terus memilih sikap amandengan pengawasan yang setengah-setengah, jangan heranjika publik menilai pemerintah daerah telah kalah—ataubahkan sengaja mengalah—di hadapan kepentinganpengusaha tambang. JLS dibangun dari uang rakyat, dan sudah waktunya hak warga untuk menikmati jalan yang lancar dan aman diperjuangkan kembali. ***

Berita Terkait

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?
Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan
Beras Naik Saat Paceklik: Sampai Kapan Masyarakat Harus Terus Beradaptasi?
Pencemaran Sungai Cisadane: Ketimpangan Kepentingan antara Industri dan Masyarakat
Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang
Perbaikan Jalan Belum Selesai di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa: Pelayanan Publik yang Perlu Mendapat Perhatian
Krisis Empati di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Kurang Peduli?
Menata PKL, Bukan Sekadar Menggusur: Ketika Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Ketertiban dan Penghidupan

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Jalan Rusak di Lebak Selatan: Kapan Merdeka Infrastruktur?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bantah Korupsi, 6 Pejabat BPN Kota Serang Minta Dibebaskan

Rabu, 30 September 2026 - 10:54 WIB

Beras Naik Saat Paceklik: Sampai Kapan Masyarakat Harus Terus Beradaptasi?

Rabu, 30 September 2026 - 10:51 WIB

Pencemaran Sungai Cisadane: Ketimpangan Kepentingan antara Industri dan Masyarakat

Rabu, 30 September 2026 - 10:49 WIB

Menanti Solusi Kongret di Tengah Melonjaknya Penumpang KRL Rangkasbitung-Tanah Abang

Berita Terbaru

(Foto: Istimewa)

Ekonomi Bisnis

Pemprov Banten dan Bank Indonesia Percepat Investasi melalui BIF 2026

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WIB